Timnas Thailand memastikan diri melaju ke partai final FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menghentikan rekor tak terkalahkan Vietnam yang bertahan selama bertahun-tahun. Kemenangan dramatis dalam laga semifinal yang berlangsung di Stadion Rajamangala, Bangkok, menjadi momen pembalasan sekaligus penegasan dominasi baru sepak bola Asia Tenggara. Gelandang ikonik Thailand, Chanathip Songkrasin, menyebut pencapaian ini sebagai bukti kerja keras seluruh tim yang tidak pernah surut meski menghadapi tekanan besar.
Jalannya Pertandingan Semifinal
Sejak kick-off, Thailand tampil agresif dengan penguasaan bola mencapai 58 persen. Vietnam, yang datang dengan reputasi sebagai tim paling konsisten di kawasan, berusaha mencuri inisiatif melalui serangan balik cepat. Namun, lini belakang Thailand yang dikomandoi kapten Theerathon Bunmathan tampil disiplin dan berhasil meredam setiap ancaman.
Gol pembuka Thailand lahir pada menit ke-27 melalui sepakan kaki kiri Chanathip dari luar kotak penalti. Bola melengkung indah ke sudut kanan gawang Vietnam yang dijaga Nguyen Van Toan. Stadion Rajamangala bergemuruh. Vietnam mencoba bangkit dan sempat menyamakan kedudukan pada menit ke-41 melalui sundulan Nguyen Tien Linh, namun wasit menganulir gol tersebut setelah tinjauan VAR menunjukkan posisi offside.
Di babak kedua, Vietnam meningkatkan intensitas serangan. Pelatih Philippe Troussier memasukkan dua pemain muda untuk menambah daya gedor. Thailand sempat tertekan selama sepuluh menit pertama. Akan tetapi, pertahanan rapat dan penampilan gemilang kiper Kampol Pathomakkakul menjaga gawang tetap bersih. Pada menit ke-78, Thailand menggandakan keunggulan lewat aksi individu Supachok Sarachat yang menembus pertahanan Vietnam dan melepaskan tembakan rendah ke tiang jauh.
Kemenangan 2-0 ini sekaligus mengakhiri rekor Vietnam yang tidak pernah kalah dalam 15 pertandingan terakhir di ajang ASEAN Cup sejak 2018. Rekor tersebut sebelumnya menjadi momok bagi tim-tim Asia Tenggara, termasuk Thailand yang terakhir kali mengalahkan Vietnam di turnamen resmi pada 2016.
Chanathip Songkrasin: Bukti Kerja Keras
Usai pertandingan, Chanathip Songkrasin menjadi pusat perhatian media. Gelandang berusia 32 tahun itu menyatakan bahwa kemenangan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kerja keras panjang yang jarang terlihat publik.
"Ini bukti kerja keras kami. Setiap hari kami berlatih keras, menganalisis lawan, dan menjaga kekompakan. Vietnam adalah tim yang sangat kuat, tetapi kami percaya pada proses. Malam ini kami membuktikan bahwa Thailand bisa mengakhiri rekor mereka," ujar Chanathip dalam konferensi pers.
Chanathip juga menegaskan bahwa timnya tidak akan cepat puas. Fokus sekarang beralih ke partai final yang akan digelar akhir pekan ini. "Kami belum meraih apa pun. Final adalah pertandingan berbeda. Kami harus tetap rendah hati dan bekerja lebih keras lagi," tambahnya.
Pelatih Thailand, Masatada Ishii, turut mengapresiasi performa anak asuhnya. Menurutnya, disiplin taktik dan mentalitas juara menjadi kunci utama. "Kami tahu Vietnam punya rekor luar biasa, tetapi kami tidak takut. Para pemain menjalankan rencana dengan sempurna. Chanathip adalah pemimpin di lapangan, tetapi semua pemain berkontribusi," kata Ishii.
Dampak bagi Sepak Bola Asia Tenggara
Kekalahan Vietnam tidak hanya berdampak pada turnamen ini, tetapi juga mengubah peta kekuatan sepak bola Asia Tenggara. Selama lima tahun terakhir, Vietnam mendominasi kawasan dengan gaya bermain kolektif dan pembinaan usia muda yang solid. Kini, Thailand menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dan bahkan melampaui sang juara bertahan.
Pengamat sepak bola Asia Tenggara, Rizal Anwar, menilai kemenangan Thailand sebagai sinyal kebangkitan tim-tim lain. "Rekor Vietnam memang luar biasa, tetapi sepak bola selalu berkembang. Thailand dengan pemain-pemain berpengalaman seperti Chanathip dan Theerathon masih punya kualitas. Ini bagus untuk kompetisi di kawasan," ujarnya.
Di sisi lain, pelatih Vietnam Philippe Troussier mengakui keunggulan Thailand. "Mereka lebih efektif dalam memanfaatkan peluang. Kami kehilangan konsentrasi di momen krusial. Ini pelajaran berharga bagi kami," kata Troussier.
Menuju Partai Final
Thailand akan menghadapi pemenang antara Indonesia dan Malaysia di partai final. Laga tersebut dijadwalkan berlangsung pada 20 Desember 2026 di Stadion Nasional, Singapura. Thailand masih menunggu hasil semifinal lainnya yang akan digelar malam ini.
Jika berhasil menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026, Thailand akan mengukir sejarah sebagai tim pertama yang meraih gelar enam kali. Namun, Chanathip dan kawan-kawan tidak ingin terbebani target tersebut. "Kami hanya fokus satu pertandingan ke depan. Final adalah kesempatan emas, dan kami akan memberikan segalanya," pungkas Chanathip.
Dengan performa yang semakin matang dan mental juara yang teruji, Thailand pantas diunggulkan di partai puncak. Namun, sepak bola selalu menyimpan kejutan. Akankah Thailand benar-benar mengakhiri dominasi Vietnam dan mengangkat trofi? Jawabannya akan terungkap akhir pekan nanti.
Komentar (0)