Tito Bahas Program Gentengisasi, Dorong Rumah Warga Tak Lagi Cuma Pakai Seng
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membahas program gentengisasi yang menyasar rumah-rumah warga yang selama ini hanya menggunakan atap seng. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong peningkatan kualitas hunian masyarakat, terutama di kawasan yang dinilai masih memiliki keterbatasan akses terhadap material bangunan yang lebih layak.
Dalam pembahasan tersebut, Tito menekankan bahwa atap bukan sekadar persoalan konstruksi, melainkan berkaitan langsung dengan kenyamanan, kesehatan, dan kualitas hidup penghuni rumah. Rumah dengan atap seng dinilai memiliki kelemahan, terutama saat cuaca panas karena suhu di dalam ruangan dapat meningkat, serta saat hujan karena kebisingan yang ditimbulkan cukup mengganggu.
Program gentengisasi diarahkan untuk mengganti sebagian atau seluruh atap seng dengan genteng atau material lain yang lebih baik. Pendekatan ini ditempuh agar warga memiliki tempat tinggal yang lebih nyaman, sekaligus mendorong standar hunian yang lebih sehat dan layak.
Latar Belakang Program
Penggunaan seng sebagai atap rumah masih banyak ditemui, khususnya di permukiman padat, kawasan pesisir, dan daerah dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Seng dipilih karena harganya relatif lebih murah dan pemasangannya cepat. Namun, sejumlah persoalan muncul dari penggunaan material ini dalam jangka panjang.
Pada siang hari, atap seng dapat menyerap dan meneruskan panas sehingga suhu ruangan meningkat. Kondisi ini membuat penghuni, terutama anak-anak dan lansia, lebih rentan terhadap dehidrasi maupun gangguan kesehatan lain. Saat musim hujan, bunyi air yang menghantam seng menimbulkan kebisingan yang mengganggu aktivitas dan istirahat.
Selain itu, seng yang sudah berusia lama berpotensi berkarat, bocor, dan menimbulkan rembesan air. Perbaikan yang dilakukan berulang-ulang justru membebani pengeluaran rumah tangga. Karena itu, penggantian atap dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan warga.
Dorongan Pemerintah dan Peran Daerah
Tito menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menyukseskan program ini. Pemerintah kabupaten dan kota diminta memetakan rumah-rumah yang masih menggunakan atap seng, kemudian menyusun skema bantuan yang sesuai dengan kondisi setempat.
Skema tersebut dapat berupa bantuan langsung, program padat karya, maupun kemitraan dengan pihak swasta dan lembaga filantropi. Pendekatan yang disesuaikan dengan kapasitas fiskal daerah dinilai lebih realistis dibandingkan kebijakan seragam untuk seluruh wilayah.
Pemerintah juga mendorong pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan program. Warga dapat berkontribusi melalui tenaga kerja, sementara pemerintah menyediakan material. Model ini dinilai mampu menekan biaya sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan.
Kaitan dengan Kesehatan dan Lingkungan
Perbaikan atap rumah memiliki kaitan erat dengan upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Rumah yang lebih sejuk dan kering mengurangi risiko penyakit pernapasan, infeksi kulit, serta gangguan yang timbul akibat kelembapan berlebih. Lingkungan permukiman yang lebih tertata juga mendukung program sanitasi dan pengendalian penyakit.
Dari sisi lingkungan, material atap yang lebih tahan lama dapat mengurangi frekuensi penggantian dan pembuangan limbah seng berkarat. Meski demikian, pengelolaan limbah material lama perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah baru di lingkungan sekitar.
Tantangan dan Harapan
Pelaksanaan program gentengisasi tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan anggaran, luasnya wilayah sasaran, serta kebutuhan koordinasi lintas instansi menjadi faktor yang harus diatasi. Pendataan yang akurat menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih.
Selain itu, perlu dipastikan bahwa penggantian atap tidak mengabaikan aspek struktur bangunan. Rumah dengan rangka yang sudah lemah membutuhkan penguatan sebelum pemasangan genteng, mengingat bobot genteng lebih berat dibandingkan seng.
Meski demikian, program ini dinilai memiliki nilai strategis dalam upaya peningkatan kualitas hunian nasional. Jika dijalankan secara konsisten dan melibatkan berbagai pihak, gentengisasi dapat menjadi langkah nyata dalam mewujudkan rumah layak bagi warga, sekaligus memperbaiki citra permukiman yang selama ini identik dengan atap seng berkarat.
Pemerintah berharap program ini tidak berhenti pada wacana, melainkan berjalan bertahap dengan target yang terukur. Keberhasilan gentengisasi akan sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah, partisipasi warga, dan dukungan anggaran yang berkelanjutan.
Komentar (0)