30, 2026
Teknologi

Pertamina Siapkan Bisnis Energi Hijau sebagai Sumber Pertumbuhan Baru

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/30/6abc9d645a51e-ilustrasi-pertamina_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pertamina Matangkan Portofolio Energi Hijau sebagai Mesin Pertumbuhan Baru

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam mengembangkan bisnis energi hijau atau green energy sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru perusahaan di masa depan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan dalam menghadapi transisi energi global yang semakin masif, sekaligus merespons kebutuhan pasar terhadap sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Pengembangan bisnis energi hijau ini dinilai menjadi keniscayaan bagi perusahaan energi nasional yang selama ini bergantung pada sektor migas konvensional. Pertamina melihat peluang besar dari meningkatnya permintaan energi terbarukan, baik di dalam negeri maupun di pasar internasional, seiring dengan komitmen berbagai negara untuk menurunkan emisi karbon.

Transisi Energi sebagai Agenda Strategis

Dalam beberapa tahun terakhir, Pertamina secara bertahap membangun portofolio bisnis yang mencakup energi baru dan terbarukan. Beberapa sektor yang menjadi fokus antara lain panas bumi atau geotermal, biodiesel, hidrogen, serta pengembangan energi berbasis alam seperti nature-based solutions. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah Indonesia menuju net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

Subholding yang menangani energi baru dan terbarukan terus memperluas kapasitas produksi dan menjajaki kerja sama dengan berbagai mitra strategis, baik dari kalangan perusahaan global maupun lembaga keuangan internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat alih teknologi, memperkuat pendanaan, dan membuka akses pasar baru bagi produk energi hijau Pertamina.

Selain itu, pengembangan ekosistem kendaraan listrik turut menjadi bagian dari strategi perusahaan. Pertamina membangun infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di sejumlah titik strategis, serta mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan yang memiliki campuran komponen terbarukan lebih tinggi. Langkah ini tidak hanya mendukung program pemerintah, tetapi juga membuka peluang pendapatan baru dari segmen yang tumbuh cepat.

Pendorong Pertumbuhan dan Tantangan

Manajemen Pertamina menyebut bisnis energi hijau diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan di masa depan, di samping bisnis migas yang tetap menjadi tulang punggung perusahaan. Diversifikasi ini penting agar perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada harga minyak dunia yang fluktuatif, sekaligus menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Meski demikian, pengembangan energi terbarukan tetap menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya kebutuhan investasi yang besar, teknologi yang masih terus berkembang, serta persaingan dengan sumber energi fosil yang selama ini lebih murah. Di sisi lain, kebijakan dan insentif pemerintah menjadi faktor kunci yang dapat mempercepat atau memperlambat pertumbuhan sektor ini.

Pertamina juga dituntut menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis hijau dan pemenuhan kebutuhan energi nasional yang masih didominasi bahan bakar fosil. Karena itu, strategi yang dijalankan bersifat bertahap, dengan tetap mengoptimalkan aset dan infrastruktur yang ada sembari menyiapkan fondasi bisnis masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Dampak bagi Industri dan Ekonomi Nasional

Pengembangan bisnis energi hijau oleh Pertamina berpotensi memberikan dampak luas bagi industri nasional. Dari sisi ekonomi, investasi di sektor energi terbarukan dapat menciptakan lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan industri pendukung, serta menarik minat investor asing yang semakin memperhatikan faktor keberlanjutan dalam keputusan investasinya.

Dari sisi ketahanan energi, diversifikasi sumber energi membantu mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi kawasan. Selain itu, perusahaan-perusahaan dalam negeri yang terlibat dalam rantai pasok energi hijau berpeluang meningkatkan kapasitas dan daya saingnya.

Pertamina menegaskan bahwa pengembangan energi hijau bukan sekadar pemenuhan kewajiban lingkungan, melainkan strategi bisnis yang diyakini menguntungkan dalam jangka panjang. Dengan memadukan kekuatan sebagai perusahaan energi terintegrasi dan komitmen terhadap keberlanjutan, perseroan berupaya mengambil posisi terdepan dalam transisi energi di Indonesia.

Ke depan, arah kebijakan perusahaan akan sangat bergantung pada dinamika pasar global, dukungan regulasi, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru. Namun, langkah yang telah diambil Pertamina menunjukkan bahwa energi hijau telah ditempatkan sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan, bukan lagi sekadar proyek pelengkap.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter