Tokoh NU KH Syukron Makmun Meninggal Dunia
Kiai Haji Syukron Makmun, salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang dihormati, telah wafat pada usia 84 tahun. Kehilangan figur spiritual dan akademis ini duka mendalam bagi umat Islam khususnya untuk Nahdliyin. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, pada Sabtu (15/1/2022) siang setelah disalatkan di Masjid Istiqlal.
KH Syukron Makmun dikenal sebagai seorang ulama yang rendah hati, bijak dalam menyampaikan pesan agama, dan konsisten dalam membela kebenaran. Beliau menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama periode 1994-1999, menggantikan Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Selama memimpin organisasi terbesar di Indonesia ini, beliau mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi antar umat beragama.
Pengabdian kepada NU dan Bangsa
Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 15 Januari 1938, KH Syukron Makmun menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan dan dakwah. Beliau merupakan alumni Pesantren Al-Hidayah Jombang dan kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir. Penguasaan beliau terhadap berbagai disiplin ilmu agama membuatnya menjadi referensi bagi banyak kalangan, terutama dalam memahami Islam rahmatan lil 'alamin.
Selain aktif di organisasi, KH Syukron Makmun juga mengabdi sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi agama. Beliau pernah menjabat sebagai Rektor Institut Agama Islam (IAI) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menjadi pengajar tetap di Universitas Islam Indonesia (UII). Melalui pengajaran, beliau turut membentuk generasi muslim yang berakhlak mulia dan berintelektualitas.
Dalam kehidupan organisasi, selain menjadi Ketua Umum PBNU, beliau juga permemimpin organisasi otonom NU seperti Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) dan Lembaga Dakwah NU (LDNU). Dalam berbagai posisi itu, beliau selalu menekankan pentingnya pendidikan karakter dan kecintaan pada Nusantara sebagai identitas bangsa Indonesia.
Warisan Intelektual dan Spiritual
KH Syukron Makmun meninggalkan puluhan karya tulis yang menjadi warisan intelektual bangsa. Buku-bukunya seperti "Menggapai Cahaya: Perjalanan Spiritual Seorang Sufi", "Islam dan Modernitas", serta "Tasawuf: Jalan Menuju Kehadiran Allah" masih menjadi referensi utama bagi para peneliti dan pencari ilmu agama. Dalam karyanya, beliau berhasil menyelaraskan antara ajaran tasawuf dengan konteks kehidupan modern tanpa mengabaikan nilai-nilai fundamental.
Sebagai seorang kiai, beliau dikenal memiliki pendekatan yang inklusif dalam berdialog dengan berbagai pihak. Beliau sering kali diundang sebagai pembicara dalam seminar dan diskusi lintas agama, di mana beliau selalu menekankan pentingnya saling menghormati dan memahami perbedaan sebagai kekayaan bangsa Indonesia.
Kehidupan Pribadi dan Nilai yang Ditinggalkan
Dalam kehidupan pribadi, KH Syukron Makmun dikenal sebagai ayah yang penyayang dan suami yang setia. Istri beliau, Nyai Haji Siti Aminah, telah lebih dulu wafat beberapa tahun lalu. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai enam orang anak yang semuanya meneruskan jejaknya dalam bidang pendidikan dan dakwah.
Banyak rekan sejawatnya yang mengenang beliau sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, dan tidak suka menonjolkan diri. Meskipun menempati posisi penting di tubuh NU, beliau tetap dekat dengan santri biasa sering kali menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan berbagi ilmu di pesantren-pesantren se-Jawa.
Wafatnya KH Syukron Makmun meninggalkan kekosongan yang dalam di hati para pengikut dan murid-muridnya. Namun, warakawarnya dalam membangun karakter, kecintaannya pada pendidikan, dan komitmennya terhadap nilai-nilai ke-Nu-an akan terus diwariskan kepada generasi penerus. Beliau membuktikan bahwa seorang kiai tidak hanya dikenal dari jabatannya, tetapi lebih dari itu dari kepedulian terhadap umat dan bangsa.
Upacara pemakaman dihadiri ribuan orang, termasuk tokoh-tokoh agama, politisi, dan masyarakat umum. Mereka datang untuk memberi penghormatan terakhir terhadap figur yang telah memberi kontribusi besar bagi perkembangan Islam di Indonesia khususnya dan NU secara umum.
Komentar (0)