30, 2026
Politik

Video: Pengusaha Minta Pemerintah Permudah Kredit ke Industri

Pengusaha Minta Pemerintah Permudah Kredit ke Industri Gak Cuma Ke Kredit Konsumtif]]>

Reza Setiawan
Reza Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Video: Pengusaha Minta Pemerintah Permudah Kredit ke Industri

Pengusaha Minta Pemerintah Permudah Akses Kredit untuk Industri

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti tantangan yang dihadapi industri dalam mengakses kredit perbankan. Menurut Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, akses modal bagi industri masih menjadi kendala utama, terutama di tengah perlambatan ekonomi global yang terus berlanjut.

Dalam sebuah acara diskusi yang diadakan beberapa waktu lalu, Sukamdani mengungkapkan bahwa banyak pengusaha mengalami kesulitan dalam memperoleh pinjaman dari bank. Ia menyoroti bahwa proses persetujuan kredit yang terlalu panjang dan persyaratan yang berbelit-belit menjadi hambatan utama bagi industri yang membutuhkan modal untuk operasional dan ekspansi.

"Kami meminta pemerintah untuk turun tangan dalam memfasilitasi akses industri terhadap sumber dana. Proses kredit perlu disederhanakan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian perbankan," ujarnya.

Kendala Utama dalam Akses Kredit Industri

Berdasarkan survei yang dilakukan Apindo, terdapat beberapa kendala utama yang dihadapi pengusaha dalam mengajukan kredit. Pertama, persyaratan jaminan yang terlalu berat seringkali menjadi penghalang bagi industri kecil dan menengah (IKM) yang belum memiliki aset berupa tanah atau bangunan.

Kedua, tingkat bunga yang masih relatif tinggi membuat industri enggan mengambil pinjaman, terlebih di tengah tekanan margin yang semakin tipis. Sukamdani mengungkapkan bahwa beban bunga yang tinggi mengurangi daya saing industri di pasar global.

Ketiga, proses penilaian kredit yang lama seringkali tidak sejalan dengan kebutuhan mendesak industri untuk modal. Dalam kondisi pasar yang dinamis, penundaan dalam pencairan kredit dapat berdampak signifikan terhadap operasional perusahaan.

Permintaan Perubahan Kebijakan

Apindo telah menyampaikan serangkaian rekomendasi kepada pemerintah guna memperbaiki akses kredit bagi industri. Salah satu upaya yang diusulkan adalah melalui penyederhanaan proses dan persyaratan kredit, terutama bagi industri yang berpotensi besar dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

"Kami mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pendanaan dengan skema jangka panjang dan bunga yang lebih kompetitif. Industri membutuhkan kepastian dan stabilitas dalam perencanaan jangka panjang," tambah Sukamdani.

Selain itu, Apindo juga menyarankan adanya skema penjaminan kredit yang lebih inklusif, di mana pemerintah atau lembaga pembiayaan dapat memberikan jaminan bagi kredit yang diberikan kepada industri berisiko tinggi namun memiliki potensi pertumbuhan besar.

Tanggapan Pemerintah dan Bank Sentral

Menanggapi masukan dari Apindo, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan telah memprioritaskan percepatan akses kredit bagi industri. Menteri Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menyiapakan berbagai program dukungan, termasuk pembenahan regulasi yang terkait dengan perbankan dan pembiayaan.

"Kami sedang mempersiapakan kebijakan untuk mempercepat pencairan kredit bagi sektor produktif, terutama industri yang memiliki keterkaitan dengan rantai pasokan global," jelasnya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) juga menyatakan komitmennya dalam memastikan likuiditas perbankan tetap stabil guna mendukung penyaluran kredit kepada sektor riil. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI akan terus mengawasi dan memastikan bahwa kebijakan moneter yang diterapkan tepat sasaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Harapan bagi Perekonomian Nasional

Diharapkan dengan adanya perbaikan akses kredit, industri dapat memulihkan performa dan memberikan kontribusi lebih signifikan terhadap perekonomian nasional. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih sekitar 20%, dengan sektor manufaktur sebagai kontributor terbesar.

Sukamdani menambahkan bahwa industri yang sehat akan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak, sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Dukungan terhadap industri bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga soal ketahanan nasional. Industri yang kuat akan membuat kita kurang bergantung pada impor dan mampu bersaing di panggung global," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Reza Setiawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter