Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri Mengering, Ratusan Makam Kuno Bermunculan
Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, mengalami penurunan drastis ketinggian air akibat musim kemarau yang panjang. kondisi ini menyebabkan ratusan makam kuno yang sebelumnya tertutup air kini terlihat jelas di permukaan tanah. Fenomena ini menarik perhatian masyarakat setempat maupun para peneliti sejarah yang ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah peninggalan benda purbakala tersebut.
Penurunan Ketinggian Air Drastis
Menurut Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Solo, Slamet Hidayat, ketinggian air Waduk Gajah Mungkur saat ini mencapai 130 meter di atas permukaan laut (mdpl), jauh di bawah normal yang biasanya mencapai 140 mdpl. Penurunan ini disebabkan oleh curah hujan yang rendah di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo selama beberapa bulan terakhir.
"Kondisi waduk memang mengalami penurunan signifikan. Ini musim kemarau yang panjang, sehingga debit air yang masuk ke waduk sangat minim," ujar Slamet saat dikonfirmasi, Rabu (15/7).
Waduk Gajah Mungkur yang dibangun pada tahun 1975 ini memiliki fungsi utama sebagai pengendalian banjir, pengairan, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan sumber air bagi kebutuhan domestik. Selama ini, waduk juga menjadi destinasi wisata bagi masyarakat sekitar maupun wisatawan dari luar daerah.
Ratusan Makam Kuno Terlihat Jelas
Dengan menurunnya ketinggian air, puluhan hingga ratusan makam kuno yang terletak di sekitar area waduk kini terlihat jelas. Makam-makam tersebut memiliki batu nisan yang berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Beberapa di antaranya memiliki tulisan Arab yang masih terbaca dengan jelas.
Abdul Malik, warga setempat yang sering berkunjung ke waduk, mengatakan bahwa makam-makam tersebut biasanya hanya terlihat saat musim kemarau panjang. Menurutnya, makam-makam tersebut telah ada sebelum waduk dibangun.
"Makam-makam ini sudah lama ada, bahkan sebelum waduk dibangun. Biasanya saat musim hujan, semua ini tenggelam dan hanya terlihat batu nisannya saja," ujarnya.
Para peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Jawa Tengah telah melakukan pendataan terhadap makam-makam yang muncul tersebut. Menurut Kepala Balar Jawa Tengah, Siti Syamsiyah, makam-makam tersebut diperkirakan berasal dari masa akhir Kerajaan Mataram Islam atau awal masa kolonial Belanda.
Resiko Kekeringan untuk Pertanian
Penurunan ketinggian air Waduk Gajah Mungkur tidak hanya menarik perhatian karena penemuan makam kuno, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi para petani di sekitar waduk. Waduk ini menjadi sumber utama pengairan untuk lahan pertanian seluas ribuan hektar.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri, Budi Santoso, mengatakan bahwa pihaknya telah meminta para petani untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan kekeringan. "Kami telah meminta para petani untuk melakukan penghematan air dan mempersiapkan sistem irigasi alternatif," ujarnya.
Sejauh ini, pihaknya telah melakukan pendataan lahan pertanian yang berpotensi terkena dampak kekeringan. Dari hasil pendataan, sekitar 15.000 hektar lahan pertanian di Kabupaten Wonogiri berisiko mengalami kekeringan jika debit air dari waduk terus menurun.
Tindakan Pemerintah Daerah
Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri telah mengambil langkah-langkah antisipasi menghadapi dampak dari penurunan ketinggian air waduk. Wakil Bupati Wonogiri, Sutedjo, mengatakan bahwa pemerintah akan membagikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
"Kami sudah menyiapkan mobil tangki air untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah yang terkena dampak. Selain itu, kami juga akan memperbanyak titik pengambilan air bersih di beberapa sungai di sekitar waduk," ujarnya.
Sementara itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga telah menyiapkan anggaran untuk melakukan normalisasi sungai di daerah aliran Sungai Bengawan Solo. Tujuannya adalah untuk meningkatkan debit air yang masuk ke Waduk Gajah Mungkur.
Dengan kondisi waduk yang mengering dan makam-makam kuno yang muncul, Waduk Gajah Mungkur kini menjadi sorotan tidak hanya sebagai sumber air dan wisata, tetapi juga sebagai situs sejarah yang perlu dilestarikan. Pemerintah berencana untuk melindungi area tersebut dari kerusakan dan melakukan penelitian lebih mendalam tentang sejarah makam-makam yang terkubur di dasar waduk selama ini.
Komentar (0)