04, 2026
Nasional

Warren Buffett Salip Bos Zara, Kembali Masuk 10 Besar Miliarder Dunia

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Investor legendaris Warren Buffett kembali mencatatkan namanya dalam jajaran sepuluh orang terkaya di dunia versi indeks miliarder Bloomberg. Pendiri dan chairman Berkshire Hathaway itu menyalip bos Zara, Amancio Ortega, setelah lonjakan harga saham konglomerat investasinya mendorong kekayaan bersihnya ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut data Bloomberg Billionaires Index yang diperbarui pada awal pekan, kekayaan Buffett menembus angka 148 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp2.400 triliun dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar. Posisi tersebut membuatnya berada di peringkat kesembilan dalam daftar miliarder global, menggeser Ortega yang sebelumnya menduduki posisi yang sama.

Kenaikan kekayaan Buffett terjadi di tengah kinerja saham Berkshire Hathaway yang terus menguat sepanjang tahun ini. Saham Kelas A perusahaan yang berbasis di Omaha, Nebraska, itu diperdagangkan di atas 700.000 dolar AS per lembar, sementara saham Kelas B mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan awal tahun. Pasar menilai positif strategi alokasi modal Buffett yang dinilai disiplin di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Lonjakan Saham Berkshire Hathaway

Berkshire Hathaway mencatatkan kapitalisasi pasar di atas 1 triliun dolar AS, menjadikannya salah satu dari sedikit perusahaan publik di dunia yang menembus ambang tersebut. Kinerja saham perseroan didorong oleh portofolio investasi yang luas, mulai dari sektor asuransi, perkeretaapian, energi, hingga teknologi.

Kepemilikan saham Berkshire yang signifikan di Apple Inc. menjadi salah satu penopang utama nilai portofolio perusahaan. Meskipun Buffett sempat mengurangi porsi kepemilikannya di perusahaan teknologi tersebut pada beberapa kuartal terakhir, nilai sisa investasi tetap menjadi kontributor besar terhadap total aset bersih perseroan.

Selain Apple, portofolio Berkshire mencakup sejumlah nama besar seperti American Express, Bank of America, Coca-Cola, dan Chevron. Diversifikasi lintas sektor tersebut membuat kinerja perusahaan relatif tahan terhadap gejolak pasar yang menimpa satu industri tertentu.

Analis pasar menilai kenaikan kekayaan Buffett mencerminkan kepercayaan investor terhadap model bisnis Berkshire yang mengandalkan arus kas stabil dari unit usaha asuransi dan energi. Pendapatan premi asuransi yang terus tumbuh memberikan likuiditas besar bagi perusahaan untuk mengakuisisi aset produktif maupun membeli kembali sahamnya sendiri.

Persaingan di Puncak Daftar Miliarder

Di posisi teratas daftar miliarder dunia, nama-nama pendiri perusahaan teknologi masih mendominasi. Elon Musk, pendiri Tesla dan SpaceX, dan Jeff Bezos, pendiri Amazon, secara bergantian menempati peringkat pertama dan kedua sepanjang tahun ini. Kekayaan keduanya bergerak mengikuti fluktuasi harga saham perusahaan yang mereka kendalikan.

Pendiri Meta Platforms, Mark Zuckerberg, serta pendiri LVMH, Bernard Arnault, juga bersaing ketat di lima besar. Sementara itu, Amancio Ortega, yang mendirikan jaringan ritel fesyen Inditex atau Zara, harus turun ke peringkat sepuluh setelah kekayaannya tergerus oleh pelemahan saham Inditex di Bursa Madrid.

Ortega, yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Eropa, sebagian besar kekayaannya berasal dari kepemilikan saham di Inditex dan portofolio properti di Spanyol serta Amerika Serikat. Penurunan posisinya dalam daftar miliarder menunjukkan bagaimana pergeseran sentimen pasar terhadap sektor ritel fesyen dapat memengaruhi peringkat kekayaan individu.

Strategi Investasi yang Konsisten

Kembalinya Buffett ke sepuluh besar daftar miliarder dunia menegaskan kembali reputasinya sebagai salah satu investor paling sukses dalam sejarah pasar modal. Sepanjang kariernya yang lebih dari enam dekade, ia dikenal dengan pendekatan investasi nilai, yaitu membeli saham perusahaan yang dinilai undervalued dan memegangnya dalam jangka panjang.

Berbeda dengan banyak miliarder teknologi yang kekayaannya terkonsentrasi pada satu perusahaan, kekayaan Buffett tersebar dalam portofolio yang terdiversifikasi melalui Berkshire Hathaway. Perusahaan tersebut juga memiliki sejumlah unit usaha yang beroperasi langsung, termasuk asuransi properti dan kecelakaan, utilitas energi, serta jaringan kereta api BNSF.

Pada usia 94 tahun, Buffett masih aktif memimpin Berkshire Hathaway meskipun telah menunjuk Greg Abel sebagai calon penerusnya. Dalam beberapa kesempatan, Buffett menegaskan bahwa strategi investasi perusahaan tidak akan berubah secara fundamental setelah estafet kepemimpinan berlangsung.

Pasar juga mencermati langkah Berkshire dalam mempertahankan cadangan kas yang besar, yang sempat menembus rekor di atas 300 miliar dolar AS. Cadangan tersebut dinilai sebagai bantalan untuk menghadapi potensi koreksi pasar sekaligus amunisi untuk melakukan akuisisi strategis bila peluang muncul.

Dampak bagi Pasar dan Investor

Posisi Buffett dalam daftar miliarder dunia sering dijadikan indikator sentimen terhadap sektor keuangan dan investasi nilai. Ketika kekayaannya meningkat, hal itu biasanya mencerminkan apresiasi pasar terhadap perusahaan-perusahaan yang menghasilkan arus kas stabil dan memiliki fundamental kuat.

Bagi investor ritel, pergerakan Berkshire Hathaway kerap menjadi acuan dalam menilai arah pasar secara lebih luas. Laporan kuartalan perusahaan mengenai pembelian dan penjualan saham menjadi salah satu dokumen paling dinanti di kalangan pelaku pasar, karena dianggap memberikan petunjuk mengenai pandangan Buffett terhadap kondisi ekonomi.

Dengan kinerja saham yang masih solid dan posisi kas yang kuat, sejumlah analis memperkirakan kekayaan Buffett berpotensi terus bertambah dalam beberapa kuartal mendatang. Namun, volatilitas pasar global, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor risiko yang dapat memengaruhi nilai portofolio Berkshire.

Yang jelas, kembalinya Warren Buffett ke jajaran sepuluh miliarder teratas dunia menjadi penanda bahwa strategi investasi jangka panjang dan disiplin alokasi modal masih memiliki tempat di tengah pasar yang semakin didominasi oleh perusahaan teknologi bernilai tinggi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter