06, 2026
Teknologi

WhatsApp Uji Restricted Chat untuk Cegah AI Sadap Isi Pesan, Ini Cara Kerjanya

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

WhatsApp dilaporkan tengah menguji fitur baru bernama Restricted Chat yang dirancang untuk mencegah kecerdasan buatan (AI) membaca atau menyadap isi pesan pengguna. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Meta selaku perusahaan induk WhatsApp untuk memperkuat privasi percakapan di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap penyalahgunaan data oleh sistem AI.

Fitur tersebut ditemukan dalam kode aplikasi WhatsApp versi beta terbaru. Sejumlah pengembang dan pengamat teknologi yang menelusuri kode aplikasi menemukan sejumlah opsi baru yang mengindikasikan WhatsApp sedang menyiapkan pembatasan khusus terhadap akses pihak ketiga, termasuk model AI, ke dalam ruang percakapan pengguna.

Restricted Chat bukan fitur yang secara langsung memblokir seluruh AI. Sebaliknya, fitur ini memberi pengguna kendali lebih besar atas percakapan mana yang boleh diproses oleh sistem otomatis dan mana yang harus tetap tertutup. Dengan demikian, pengguna dapat memilih untuk mengunci topik pembicaraan tertentu agar tidak dibaca oleh perangkat lunak pihak ketiga.

Latar Belakang Pengujian Fitur

Kemunculan Restricted Chat tidak terlepas dari perkembangan pesat layanan AI generatif yang semakin banyak diintegrasikan ke dalam aplikasi pesan. Beberapa platform telah menambahkan asisten AI yang dapat merangkum percakapan, menyarankan balasan, atau membantu pengguna menulis pesan. Kemampuan itu menuntut akses ke isi obrolan, sehingga menimbulkan pertanyaan soal batas privasi.

WhatsApp sendiri sudah memiliki fitur enkripsi ujung ke ujung sejak 2016. Enkripsi itu memastikan isi pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima, bukan oleh server WhatsApp. Namun, enkripsi tidak otomatis melindungi data ketika pengguna secara sukarela mengaktifkan fitur tambahan yang memproses isi pesan, misalnya asisten AI atau layanan pihak ketiga di dalam aplikasi.

Di sinilah Restricted Chat berperan. Fitur ini disebut menjadi lapisan tambahan yang memungkinkan pengguna menandai percakapan tertentu sebagai terbatas. Percakapan berstatus terbatas tidak akan diteruskan ke sistem pemrosesan AI, baik milik Meta maupun pihak ketiga, tanpa persetujuan eksplisit dari pengguna.

Cara Kerja Restricted Chat

Berdasarkan temuan pada kode beta, mekanisme Restricted Chat bekerja melalui sejumlah pengaturan tambahan di menu privasi percakapan. Berikut gambaran cara kerjanya:

1. Penandaan Percakapan Terbatas

Pengguna dapat memilih kontak atau grup tertentu, lalu mengaktifkan opsi pembatasan. Setelah diaktifkan, percakapan tersebut masuk ke kategori Restricted Chat. Status ini berlaku pada tingkat percakapan, bukan pada tingkat akun secara keseluruhan, sehingga pengguna tetap bisa memakai fitur AI di obrolan lain yang tidak dibatasi.

2. Pemblokiran Akses Sistem AI

Ketika sebuah percakapan ditandai sebagai terbatas, sistem internal WhatsApp tidak akan mengirimkan isi pesan ke modul pemrosesan AI. Fitur seperti ringkasan otomatis, saran balasan cerdas, atau pencarian berbasis AI tidak akan aktif pada percakapan tersebut. Dengan kata lain, isi obrolan tetap berada di perangkat pengguna dan tidak diproses lebih jauh.

3. Peringatan dan Konfirmasi

Kode aplikasi juga menunjukkan adanya peringatan yang muncul saat pengguna hendak mengaktifkan fitur AI pada percakapan terbatas. WhatsApp disebut akan meminta konfirmasi berlapis sebelum pengguna membuka akses. Tujuannya agar pengguna memahami konsekuensi privasi dari tindakan tersebut.

4. Indikator Visual

Percakapan yang berstatus terbatas akan memiliki penanda khusus, misalnya ikon kunci atau label pada bagian atas ruang obrolan. Indikator ini berfungsi agar pengguna selalu ingat bahwa percakapan tersebut berada dalam mode terlindungi dan tidak dapat diproses oleh sistem otomatis.

5. Tidak Mengubah Enkripsi Ujung ke Ujung

Penting dipahami bahwa Restricted Chat tidak menggantikan enkripsi ujung ke ujung yang sudah ada. Fitur ini hanya menambah kontrol atas pemrosesan data di sisi perangkat. Enkripsi tetap berjalan seperti biasa, sehingga pesan tetap aman saat melintas di jaringan.

Implikasi bagi Pengguna dan Industri

Kehadiran Restricted Chat menunjukkan bahwa tekanan publik terhadap praktik privasi perusahaan teknologi semakin besar. Pengguna kini semakin sadar bahwa data percakapan bisa menjadi bahan pelatihan model AI jika tidak dikelola dengan hati-hati. Fitur ini menjadi semacam jaminan bahwa WhatsApp tidak akan serta-merta memakai isi obrolan untuk keperluan tersebut.

Dari sisi industri, langkah WhatsApp berpotensi mendorong platform pesan lain untuk menyediakan kontrol serupa. Jika fitur ini resmi dirilis, standar baru soal transparansi pemrosesan AI di aplikasi perpesanan bisa terbentuk. Pengguna akan menuntut hak yang sama di layanan lain, seperti Telegram, Signal, atau aplikasi pesan bawaan sistem operasi.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai fitur ini masih perlu diuji lebih lanjut. Pertanyaan yang muncul antara lain seberapa jelas penjelasan WhatsApp kepada pengguna awam, apakah pembatasan benar-benar efektif di tingkat teknis, dan bagaimana kebijakan ini selaras dengan aturan perlindungan data di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Status Rilis

Hingga kini, Restricted Chat masih berada dalam tahap pengujian terbatas dan belum tersedia untuk semua pengguna. WhatsApp belum memberikan pernyataan resmi mengenai jadwal peluncuran maupun cakupan perangkat yang akan menerima fitur ini. Biasanya, fitur yang muncul di versi beta memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum dirilis secara global.

Jika benar-benar hadir, Restricted Chat bisa menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam pengelolaan privasi percakapan digital. Pengguna tidak lagi hanya mengandalkan enkripsi, tetapi juga memiliki kendali langsung atas bagaimana isi pesan mereka diproses oleh teknologi AI yang semakin merambah ke setiap layanan komunikasi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter