Polres Metro Tangerang Kota Luncurkan Program Bapak Asuh bagi Pelajar
Polres Metro Tangerang Kota meluncurkan program "Bapak Asuh" yang melibatkan 108 personel kepolisian untuk mendampingi pelajar di wilayah hukumnya. Program ini bertujuan mencegah keterlibatan remaja dalam aksi anarkis, tawuran, dan berbagai bentuk kenakalan yang meresahkan masyarakat. Setiap polisi yang terlibat dibebani tanggung jawab mendampingi sejumlah pelajar di sekolah-sekolah yang dinilai rawan konflik.
Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, menyatakan bahwa program ini merupakan upaya pendekatan humanis kepada generasi muda. Menurutnya, pendekatan represif yang selama ini diandalkan tidak cukup untuk menekan angka kenakalan remaja. Polisi perlu hadir sebagai figur yang dipercaya, bukan sosok yang ditakuti.
Sasaran Program dan Mekanisme Pendampingan
Sebanyak 108 polisi yang terlibat terdiri dari personel berbagai satuan fungsi, mulai dari Binmas, Intelkam, hingga Satuan Lalu Lintas. Mereka tersebar di sejumlah sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di Kota Tangerang. Pemilihan sekolah didasarkan pada pemetaan kerawanan yang dilakukan sebelumnya, termasuk riwayat tawuran dan konflik antarpelajar.
Setiap polisi bapak asuh mendampingi antara lima hingga sepuluh pelajar yang dinilai membutuhkan perhatian khusus. Pendampingan dilakukan melalui pertemuan rutin, komunikasi intensif dengan pihak sekolah, serta kunjungan ke rumah pelajar bila diperlukan. Polisi juga diminta menjalin komunikasi dengan orang tua agar ada kesinambungan pembinaan di lingkungan keluarga.
Materi pendampingan tidak hanya seputar bahaya tawuran. Polisi bapak asuh juga memberikan pemahaman tentang bahaya narkoba, penggunaan media sosial yang bijak, etika berlalu lintas, hingga pentingnya melanjutkan pendidikan. Pendekatan dilakukan secara persuasif dengan gaya komunikasi yang menyesuaikan usia remaja.
Respons Sekolah dan Orang Tua
Sejumlah kepala sekolah menyambut positif program ini. Mereka menilai kehadiran polisi sebagai bapak asuh dapat menjadi figur panutan yang selama ini tidak selalu tersedia di lingkungan sekolah maupun keluarga. Beberapa sekolah bahkan meminta agar jumlah polisi bapak asuh ditambah karena kebutuhan pendampingan dinilai besar.
Orang tua pelajar umumnya merespons program ini dengan harapan besar. Sebagian mengaku kesulitan mengawasi anak-anak mereka, terutama karena kesibukan bekerja. Kehadiran polisi bapak asuh dianggap membantu mengisi ruang pengawasan yang kosong dan mencegah anak terjerumus ke pergaulan negatif.
Meski demikian, sejumlah pengamat pendidikan mengingatkan agar program ini tidak bersifat simbolis. Pendampingan harus berjalan konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar seremonial peluncuran. Evaluasi berkala diperlukan untuk mengukur efektivitas program terhadap penurunan angka kenakalan pelajar.
Data Kenakalan Remaja di Tangerang
Sepanjang tahun terakhir, Polres Metro Tangerang Kota mencatat sejumlah kasus kenakalan pelajar, mulai dari tawuran, pengeroyokan, hingga vandalisme. Beberapa insiden bahkan menimbulkan korban luka dan kerugian materi. Puncaknya, sejumlah aksi anarkis yang melibatkan pelajar sempat viral di media sosial dan memicu kekhawatiran warga.
Kondisi tersebut mendorong kepolisian mengambil langkah pencegahan yang lebih sistematis. Program bapak asuh dinilai sebagai intervensi dini sebelum pelajar terlibat dalam tindakan yang melanggar hukum. Polisi berharap pembinaan sejak dini dapat memutus rantai keterlibatan remaja dalam aksi kekerasan.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Pelaksanaan program ini tidak lepas dari tantangan. Beban kerja personel kepolisian yang sudah tinggi menjadi kendala utama. Setiap polisi bapak asuh harus membagi waktu antara tugas rutin dan pendampingan pelajar. Diperlukan pengaturan jadwal yang cermat agar kedua tanggung jawab dapat berjalan seimbang.
Selain itu, membangun kepercayaan pelajar terhadap polisi membutuhkan waktu. Sebagian remaja masih memiliki kesan negatif terhadap aparat kepolisian akibat pengalaman atau informasi yang keliru. Pendekatan yang konsisten dan keteladanan menjadi kunci untuk mengubah persepsi tersebut.
Faktor lingkungan juga berpengaruh besar. Pelajar yang tumbuh di lingkungan rawan konflik lebih rentan terpapar pengaruh negatif. Karena itu, pendampingan individu perlu diiringi pembenahan lingkungan sosial secara lebih luas, termasuk keterlibatan tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan.
Kepolisian menyatakan akan melakukan evaluasi secara berkala terhadap program ini. Hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk menentukan apakah jumlah bapak asuh perlu ditambah, cakupan sekolah diperluas, atau metode pendampingan disesuaikan. Program ini diproyeksikan berjalan jangka panjang sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif bagi pelajar di Tangerang.
Komentar (0)