07, 2026
Olahraga

25.000 Mahasiswa Dilibatkan Pemprov Jabar untuk Dampingi Masyarakat Kelola Sampah, Ini Target Besarnya

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/07/6ac6383fdd60e-ilustrasi-tempat-pengolahan-dan-pemrosesan-akhir-sampah-tppas-legok-nangka_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Tania Sari
Tania Sari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pemerintah Provinsi Jawa Barat melibatkan sekitar 25.000 mahasiswa dalam program pendampingan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat. Kolaborasi ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat penanganan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia tersebut.

Program pendampingan itu menyasar warga di berbagai wilayah, mulai dari kawasan perkotaan hingga pedesaan. Para mahasiswa diterjunkan untuk membantu masyarakat memahami cara memilah sampah, mengolah sampah organik, serta mengelola bank sampah tingkat rukun tetangga dan rukun warga. Dengan pendekatan langsung ke rumah tangga, pemerintah berharap perubahan perilaku masyarakat dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

Peran Mahasiswa sebagai Fasilitator Warga

Mahasiswa yang terlibat tidak hanya bertugas memberikan sosialisasi. Mereka berperan sebagai fasilitator yang mendampingi warga dalam praktik pengelolaan sampah sehari-hari. Mulai dari mengenali jenis sampah, memisahkan sampah organik dan anorganik, hingga mengolah sampah organik menjadi kompos atau pakan maggot.

Pendekatan semacam ini dinilai penting karena persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan penyediaan infrastruktur. Tempat pembuangan akhir yang terbatas dan beban volume sampah yang terus bertambah menuntut keterlibatan aktif masyarakat sejak dari sumber sampah, yaitu rumah tangga, pasar, dan kawasan usaha.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan program ini mampu menurunkan volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir. Selain itu, program ini diarahkan untuk meningkatkan jumlah sampah yang berhasil didaur ulang dan dimanfaatkan kembali. Target tersebut sejalan dengan kebijakan pengelolaan sampah nasional yang menekankan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

Target Besar yang Ingin Dicapai

Dalam pelaksanaannya, program pendampingan ini memiliki sejumlah target utama. Pertama, meningkatnya partisipasi rumah tangga dalam memilah sampah. Kedua, tumbuhnya bank sampah di tingkat komunitas yang berjalan aktif, bukan sekadar terbentuk secara administratif. Ketiga, bertambahnya kapasitas pengolahan sampah organik di tingkat lingkungan.

Target lainnya adalah penguatan peran karang taruna, kader posyandu, dan kelompok masyarakat lain agar pendampingan tidak berhenti ketika masa penugasan mahasiswa berakhir. Keberlanjutan menjadi kata kunci, sebab program yang hanya bersifat seremonial dikhawatirkan tidak memberi dampak jangka panjang.

Pemerintah provinsi juga berharap pendampingan ini mendorong tumbuhnya usaha kecil berbasis pengelolaan sampah, misalnya produksi kompos, kerajinan dari bahan daur ulang, dan pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi warga.

Tantangan di Lapangan

Meski begitu, sejumlah tantangan tetap membayangi. Perbedaan karakter wilayah, tingkat kesadaran warga, serta keterbatasan sarana pengangkutan dan pengolahan menjadi kendala yang kerap muncul. Di beberapa daerah, tempat penampungan sementara belum tersedia memadai sehingga sampah yang sudah dipilah kembali tercampur saat diangkut.

Karena itu, pendampingan mahasiswa perlu disertai koordinasi lintas instansi, mulai dari dinas lingkungan hidup, pemerintah kabupaten dan kota, hingga pengelola sampah di tingkat kecamatan. Tanpa dukungan sistem pengangkutan dan pengolahan yang memadai, upaya pemilahan di tingkat rumah tangga berisiko tidak berjalan optimal.

Selain itu, kesinambungan program bergantung pada kemauan politik dan alokasi anggaran daerah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan akan melakukan pemantauan dan evaluasi berkala untuk memastikan pendampingan berjalan sesuai rencana. Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

Harapan Perubahan Perilaku

Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak diukur semata dari jumlah mahasiswa yang diterjunkan atau banyaknya bank sampah yang dibentuk. Indikator terpenting adalah perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah setiap hari. Kebiasaan memilah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mengolah sampah organik menjadi kunci pengurangan timbulan sampah dari sumbernya.

Dengan melibatkan ribuan mahasiswa, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya menjadikan persoalan sampah sebagai agenda bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Jika pendampingan berjalan konsisten dan didukung infrastruktur yang memadai, target pengurangan sampah menuju pengelolaan yang lebih berkelanjutan di Jawa Barat berpeluang tercapai.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Tania Sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter