Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar hingga Depok, Warga Buru Masker
Abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau terus menyebar wilayah Jakarta dan sekitarnya. Senin (11/11/2019), partikel abu vulkanik terdeteksi hingga wilayah Depok, Jawa Barat. Akibatnya, permintaan masker melonjak drastis dengan stok di sejumlah toko dan apotek kian menipis.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Hanum kepada wartanya mengatakan, arah angin saat ini membawa partikel abu vulkanik Anak Krakatau ke arah barat daya. "Partikel abu vulkanik terdeteksi di wilayah Jakarta dan sekitarnya hingga Depok," kata Hanum.
Menurut Hanum, partikel abu vulkanik Anak Krakatau masih terus menyebar seiring dengan aktivitas erupsi yang terus berlangsung. "Kami terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hingga saat ini, aktivitas vulkanisnya masih dalam kategori tinggi," ujar Hanum.
Permintaan Masker Melonjak
Penyebaran abu vulkanik membuat warga khawatir kesehatan terganggu. Akibatnya, permintaan masker melonjak drastis di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Di beberapa toko dan apotek, stok masker kian menipis bahkan ada yang habis.
Seorang pemilik toko obat di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, mengatakan stok masker di tokonya sudah habis. "Sejak kemarin malam, banyak warga yang membeli masker. Stok masker di toko ini sudah habis," ujarnya.
Sementara itu, seorang warga Tebet, Siti, mengaku membeli tiga masker sekaligus. "Saya khawatir kesehatan keluarga. Anak saya masih kecil, jadi lebih baik pakai masker daripada terkena abu vulkanik," kata Siti.
Warga Diminta Hindari Aktivitas di Luar Ruangan
Akibat penyebaran abu vulkanik, warga di wilayah Jakarta dan sekitarnya diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Khususnya bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit paru-paru atau gangguan pernafasan lainnya.
"Bagi warga yang memiliki riwayat penyakit paru-paru atau gangguan pernafasan lainnya, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, sebaiknya menggunakan masker," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti.
Widyastuti juga meminta warga untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan. "Warga membersihkan rumah secara teratur untuk menghindari dampak negatif dari abu vulkanik," ujarnya.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Tinggi
PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak erupsi terjadi pada 22 Juni 2018 lalu. Saat ini, aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau masih dalam kategori tinggi.
"Kami terus melakukan pemantauan visual dan instrumental terhadap Gunung Anak Krakatau. Aktivitas erupsinya masih terus berlangsung," kata Hanum.
Menurut Hanum, erupsi Gunung Anak Krakatau berupa erupsi eksplosif dengan tinggi kolom abu mencapai 500-800 meter di atas puncak. "Arah awan abu bergantung pada arah dan kecepatan angin," ujarnya.
Potensi Bahaya Tsunami
Selain abu vulkanik, PVMBG juga mengingatkan potensi bahaya tsunami akibat letusan Gunung Anak Krakatau. Pasalnya, letusan vulkanis dapat memicu longsoran material ke dalam laut yang menyebabkan tsunami.
"Warga di pesisir Selat Sunda diimbau waspada terhadap potensi tsunami akibat letusan Gunung Anak Krakatau. Jika terjadi gempa bumi atau perubahan kondisi air laut secara tiba-tiba, segera evakuasi ke tempat aman," kata Hanum.
Pemerintah Provinsi Banten dan Lampung juga telah mengimbau warga di pesisir Selat Sunda untuk waspada. "Kami siapkan posko darurat di beberapa titik untuk mengantisipasi bencana tsunami," kata Pejabat Pemerintah Provinsi Banten.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga telah mengimbau warga di pesisir untuk waspada. "Warga diimbau tidak beraktivitas di pesisir Selat Sunda untuk sementara waktu," kata Pejabat Pemerintah Provinsi Lampung.
Hingga kini, pemerintah terus melakukan upaya mitigasi bencana gunung api dan tsunami. "Kami terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi dampak dari aktivitas Gunung Anak Krakatau," kata Hanum.
Komentar (0)