30, 2026
Teknologi

Abu Anak Krakatau Sampai Jakarta, Warga Mengeluh Udara Lebih Sesak

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar hingga Jakarta, Warga Keluhkan Udara Menjadi Lebih Sesak

Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terus menyebar wilayah sekitarnya bahkan hingga ke Jakarta. Warga di beberapa wilayah melaporkan kondisi udara yang menjadi lebih buruk dan sesak sejak beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat partikel debu vulkanik telah terdeteksi di wilayah Jabodetabek hingga beberapa daerah di Jawa Barat.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika mengatakan bahwa abu vulkanik dari Anak Krakatau terus mengalir akibat aktivitas erupsi yang terjadi secara terus-menerus. "Kondisi ini normal mengingat aktivitas Anak Krakatau masih dalam level waspada. Abu vulkanik dapat menyebar bergantung pada kecepatan dan arah angin," jelas Gede dalam keterangannya, Minggu (15/1).

Dampab Abu Vulkanik bagi Kesehatan

Dampak langsung dari hujan abu vulkanik mulai terasa di beberapa wilayah. Warga di Serang, Banten, melaporkan gangguan pernafasan seperti batuk, sesak napas, dan iritasi mata. "Kondisi udara memang lebih buruk biasanya saat ada hujan abu. Saya merasa sesak saat beraktivitas di luar ruangan," ujar Siti, warga Serang, kepada wartawan.

Dinas Kesehatan Provinsi Banten telah mengimbau warga untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. "Abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernafasan. Kita menyarankan warga untuk tetap di dalam ruangan jika memungkinkan, dan jika harus keluar, gunakan masker khusus yang dapat menyaring partikel halus," jelas Kepala Dinas Kesehatan Banten Ahmad Yani.

Aktivitas Anak Krakatau Terus Termonitor

PVMBG terus memantau aktivitas Anak Krakatau sejak erupsi besar terjadi pada 2018 lalu. Saat ini, gunung tersebut berstatus level II (Waspada) dengan potensi erupsi magmatis. "Kita terus mengamati gempa vulkanik, deformasi permukaan, dan emisi sulfur dioksida. Semua parameter menunjukkan aktivitas masih tinggi," tambah Gede Suantika.

Menurut data PVMBG, Anak Krakatau telah mengalami 28 kali erupsi pada Januari 2023 saja. Erupsi berlangsung dengan durasi 30 hingga 150 detik dan mencapai ketinggian kolom abu 200-800 meter di atas puncak gunung.

Upaya Mitigasi dan Penanganan

Pemerintah setempat bersama PVMBG telah menyiapkan beberapa langkah mitigasi untuk mengurangi dampak abu vulkanik. "Kita telah membagikan masker ke warga di wilayah terdampak. Selain itu, persediaan air bersih juga disiapkan karena abu dapat mengotori sumber air," jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, Ahmad Fauzi.

Warga juga diminta untuk membersihkan atap rumah dan saluran air secara rutin mencegah penumpukan abu. "Abu vulkanik dapat menumpang di berbagai permukaan. Membersihkannya secara teratur dapat mengurangi risiko masuknya abu ke dalam rumah," tambah Fauzi.

Proyeksi Perkembangan Cuaca

BMKG memprediksi hujan abu vulkanik akan berpotensi terus menyebar ke wilayah sekitarnya dalam beberapa hari ke depan. "Arah angin saat ini cenderung ke barat dan barat daya, sehingga potensi abu menyebar ke wilayah Banten dan Jawa Barat masih tinggi," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

BMKG juga meminta warga untuk terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang. "Informasi tentang aktivitas vulkanik dan perkembangan cuaca akan kami sampaikan secara berkala. Warga diminta tidak terpancing isu bohong yang dapat menimbulkan kepanikan," tambah Dwikorita.

Sementara itu, warga di wilayah Jakarta juga mulai merasakan dampak hujan abu. Beberapa warga di kawasan Jakarta Selatan dan Tangerang melaporkan lapisan abu tipis di kendaraan dan permukaan lainnya. "Abu ini memang tidak terlalu banyak, tapi tetap membuat udara terasa lebih berat," ujar Budi, warga Jakarta Selatan.

Pihak berwenang terus mengimbau warga untuk tetap waspada dan mengikuti petunjuk yang diberikan. Aktivitas Anak Krakatau yang masih tinggi menunjukkan bahwa potensi bahaya belum sepenuhnya berlalu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter