23, 2026
Teknologi

AI Korea Ini Bisa Bantu Guru, LG CNS Ingin Bawa ke Indonesia

LG CNS berencana memperkenalkan platform AI pendidikan G-ONE ke Indonesia, yang membantu administrasi sekolah dan komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua.]]>

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

AI Korea Ini Bisa Bantu Guru, LG CNS Ingin Bawa ke Indonesia

Perusahaan teknologi asal Korea Selatan, LG CNS, tengah menjajaki peluang membawa solusi pembelajaran berbasis kecerdasan artifisial (AI) ke Indonesia. Teknologi ini dirancang untuk membantu guru dalam menyusun materi ajar, memetakan kemampuan siswa, hingga meringkas beban administrasi di ruang kelas. Ketertarikan perusahaan terhadap pasar pendidikan Indonesia muncul seiring percepatan digitalisasi sekolah di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir.

Langkah itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu kandidat utama perluasan pasar LG CNS di Asia Tenggara. Perusahaan menilai kebutuhan alat bantu digital bagi tenaga pendidik di Indonesia cukup besar, terutama karena jumlah sekolah dan siswa yang tersebar di ribuan pulau menuntut pendekatan yang berbeda dari Korea Selatan.

Dari Ruang Kelas Korea ke Pasar Asia Tenggara

LG CNS bukan pemain baru dalam pemanfaatan AI untuk sektor publik dan pendidikan. Di Korea Selatan, perusahaan ini terlibat dalam pengembangan layanan digital yang menyasar sekolah, termasuk sistem yang memanfaatkan analisis data untuk memantau perkembangan belajar siswa. Pengalaman itu menjadi modal utama ketika perusahaan memperluas jangkauan ke negara lain.

Konsep yang ditawarkan berpusat pada posisi guru sebagai pengguna utama, bukan sebagai objek yang digantikan teknologi. AI diposisikan sebagai asisten yang mengambil alih pekerjaan berulang, seperti penyusunan soal, penilaian tugas, dan penyusunan laporan capaian belajar. Dengan begitu, guru diharapkan memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan siswa.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan tren global penggunaan AI generatif di sektor pendidikan. Sejumlah negara telah menguji coba sistem serupa, meski hasilnya bervariasi bergantung pada kesiapan infrastruktur, kualitas data, dan kemampuan guru mengoperasikan perangkat digital.

Mengapa Indonesia Menarik

Indonesia memiliki populasi siswa yang sangat besar, mencakup puluhan juta pelajar di jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Skala tersebut membuat pasar pendidikan Indonesia menjadi salah satu yang paling diperhitungkan di kawasan. Bagi penyedia teknologi, ukuran pasar memungkinkan biaya pengembangan produk tersebar lebih luas.

Selain jumlah siswa, Indonesia juga memiliki agenda transformasi digital pendidikan yang cukup jelas, termasuk penyediaan perangkat dan koneksi internet bagi sekolah-sekolah di daerah tertinggal. Namun, kesenjangan infrastruktur antara wilayah perkotaan dan pedesaan tetap menjadi catatan penting dalam setiap rencana penerapan teknologi.

Aspek lain yang dinilai relevan adalah kebutuhan peningkatan kompetensi guru. Banyak tenaga pendidik masih menghadapi beban administratif berat dan rasio guru terhadap siswa yang tidak seimbang di sejumlah daerah. Alat bantu berbasis AI dianggap dapat meringankan sebagian beban tersebut jika dirancang sesuai konteks lokal.

Adaptasi Bahasa dan Kurikulum

Salah satu tantangan utama membawa produk AI pendidikan lintas negara adalah penyesuaian bahasa dan kurikulum. Model AI yang dilatih dengan data berbahasa Korea tidak otomatis bekerja optimal dalam Bahasa Indonesia. Diperlukan pelatihan ulang model, penyediaan korpus bahasa lokal, serta penyesuaian dengan struktur kurikulum yang berlaku.

Selain itu, materi yang dihasilkan AI perlu melewati proses verifikasi oleh guru dan pengembang kurikulum. Tanpa pengawasan, konten yang tampak meyakinkan berpotensi memuat kekeliruan faktual. Karena itu, rancangan sistem umumnya menempatkan guru sebagai pemutus akhir atas materi yang digunakan di kelas.

Tantangan Adopsi dan Perlindungan Data

Penerapan AI di sekolah juga memunculkan pertanyaan soal pelindungan data pribadi siswa. Sistem yang memantau perkembangan belajar biasanya mengumpulkan data akademik dan perilaku belajar. Pengelolaan data tersebut harus tunduk pada aturan pelindungan data pribadi yang berlaku di Indonesia, termasuk soal penyimpanan dan akses pihak ketiga.

Isu lain adalah kesiapan sekolah. Tidak semua satuan pendidikan memiliki perangkat memadai, koneksi stabil, atau tenaga teknis yang dapat merawat sistem. Model bisnis yang terlalu bergantung pada perangkat keras baru berisiko memperlebar kesenjangan digital antarwilayah.

Karena itu, sejumlah pengamat pendidikan menyarankan agar solusi semacam ini tersedia dalam bentuk yang ringan, misalnya berbasis peramban atau ponsel, sehingga dapat diakses sekolah dengan infrastruktur terbatas. Pendekatan bertahap dinilai lebih realistis dibandingkan penerapan menyeluruh dalam waktu singkat.

Persaingan di Segmen Pendidikan

Langkah LG CNS memasuki pasar pendidikan Indonesia tidak berlangsung tanpa pesaing. Sejumlah perusahaan teknologi global, penyedia layanan lokal, dan platform pembelajaran daring telah lebih dulu menawarkan fitur bantuan AI bagi guru. Persaingan itu menuntut diferensiasi, baik dari sisi harga, kemudahan integrasi, maupun kualitas dukungan teknis.

Selain itu, kemitraan dengan pemerintah daerah, universitas, dan organisasi guru menjadi kunci masuk pasar. Di banyak negara, keberhasilan adopsi teknologi pendidikan lebih ditentukan oleh pendampingan dan pelatihan guru ketimbang kecanggihan produk itu sendiri.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai jadwal peluncuran maupun bentuk kerja sama yang akan diambil LG CNS di Indonesia. Rencana ekspansi tersebut masih berada pada tahap penjajakan, seiring perusahaan memetakan kebutuhan pasar dan kerangka regulasi yang berlaku. Jika terealisasi, kehadiran teknologi ini akan menambah daftar pilihan alat bantu digital bagi guru Indonesia, sekaligus menguji sejauh mana AI dapat diterima di ruang kelas dengan segala keragaman kondisi sekolah di Tanah Air.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter