30, 2026
Nasional

Air Kencing Berkontribusi Bikin Gletser Gunung Everest Cepat Mencair

Setelah bertahan melewati ujian waktu selama 50 juta tahun, gunung tertinggi di dunia terancam oleh sumber yang tak terduga, air kencing manusia.]]>

Galih Pratama
Galih Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Air Kencing Berkontribusi Bikin Gletser Gunung Everest Cepat Mencair

Urine Manusia Disebut Turut Mempercepat Pencairan Gletser Everest

Gletser di kawasan Gunung Everest, puncak tertinggi dunia, terus mengalami penyusutan yang mengkhawatirkan. Sejumlah penelitian mengungkap bahwa percepatan pencairan itu tidak hanya dipicu oleh kenaikan suhu global, tetapi juga oleh faktor-faktor lokal yang bersumber dari aktivitas manusia di kawasan tersebut, termasuk keberadaan urine atau air kencing para pendaki yang tertinggal di area perkemahan dan jalur pendakian.

Gunung Everest telah lama menjadi tujuan utama para pendaki dari berbagai negara. Setiap musim pendakian, ribuan orang menuju Base Camp dan sejumlah pos perkemahan di ketinggian yang berbeda. Aktivitas itu meninggalkan berbagai jejak, mulai dari sampah plastik, peralatan bekas, hingga limbah tubuh manusia yang tidak terkelola dengan baik.

Limbah Manusia Menumpuk di Kawasan Pegunungan

Di ketinggian di atas 6.000 meter, suhu yang sangat dingin membuat limbah manusia tidak terurai dengan cepat. Limbah tersebut membeku dan bertahan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Dalam beberapa kajian lingkungan, timbunan kotoran dan urine manusia di kawasan pegunungan tinggi disebut dapat memengaruhi kondisi lapisan salju dan es di sekitarnya.

Air kencing mengandung senyawa nitrogen, garam, dan sejumlah mineral lain. Ketika larutan tersebut bercampur dengan salju, titik leleh salju dapat menurun. Kondisi ini membuat salju lebih mudah mencair pada suhu yang seharusnya masih cukup untuk mempertahankannya dalam bentuk beku. Proses tersebut berlangsung secara bertahap dan berkaitan dengan akumulasi limbah dalam jumlah besar selama bertahun-tahun.

Dampak pada Kualitas Lingkungan dan Sumber Air

Selain berkontribusi pada percepatan pencairan, penumpukan urine dan kotoran manusia di kawasan Everest juga menimbulkan persoalan lingkungan lain. Sejumlah laporan menyebut adanya pencemaran pada aliran sungai dan sumber air di sekitar Base Camp. Air yang mengalir dari kawasan gletser menjadi jalur bagi zat-zat yang terkandung dalam limbah tersebut.

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan hilir, kualitas air menjadi perhatian serius. Sungai-sungai yang berhulu di pegunungan Himalaya memasok kebutuhan air bagi jutaan orang. Jika pencemaran berlanjut, risiko gangguan kesehatan dan kerusakan ekosistem dapat meningkat.

Sejumlah organisasi lingkungan dan otoritas setempat telah menyerukan pengelolaan limbah yang lebih ketat di kawasan Everest. Upaya tersebut mencakup kewajiban membawa kembali sampah dan limbah pribadi dari area pegunungan, penyediaan fasilitas pengelolaan limbah di Base Camp, serta pengawasan terhadap jumlah pendaki yang masuk setiap musim.

Pencairan Gletser dan Krisis Iklim yang Lebih Luas

Meskipun limbah manusia menjadi salah satu faktor lokal, para ahli menegaskan bahwa penyebab utama penyusutan gletser di Everest dan kawasan Himalaya adalah perubahan iklim global. Kenaikan suhu rata-rata dunia mempercepat melelehnya lapisan es dan salju permanen di berbagai belahan bumi, termasuk di pegunungan tinggi Asia.

Penelitian mengenai gletser Himalaya menunjukkan tren penurunan massa es yang konsisten dalam beberapa dekade terakhir. Pencairan tersebut berdampak pada ketersediaan air bersih, stabilitas lereng, serta meningkatnya risiko banjir akibat luapan danau glasial. Fenomena itu menjadikan kawasan Everest bukan hanya persoalan lingkungan lokal, tetapi juga bagian dari persoalan iklim yang lebih luas.

Dalam konteks itu, penanganan limbah pendaki dinilai penting, namun tidak cukup apabila tidak disertai upaya pengurangan emisi gas rumah kaca secara global. Kombinasi antara faktor lokal dan global membuat laju pencairan gletser di kawasan Everest berpotensi terus meningkat apabila tidak ada tindakan yang menyeluruh.

Panggilan untuk Pengelolaan Pendakian yang Lebih Bertanggung Jawab

Sejumlah pihak mendorong penerapan aturan yang lebih ketat bagi pendaki, termasuk kewajiban membawa turun limbah pribadi, pembatasan jumlah izin pendakian, dan peningkatan kesadaran akan dampak lingkungan dari aktivitas di ketinggian ekstrem. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat mengurangi beban pencemaran di kawasan yang sudah menghadapi tekanan iklim.

Pemerintah Nepal dan berbagai lembaga lingkungan telah melakukan sejumlah program pembersihan di Everest. Kegiatan itu melibatkan tim khusus yang mengumpulkan sampah dan limbah dari area perkemahan. Namun, tantangan tetap besar karena wilayah operasi berada di ketinggian ekstrem dengan kondisi cuaca yang sulit.

Para pengamat menilai persoalan air kencing dan limbah manusia di Everest adalah cerminan dari masalah yang lebih besar, yakni bagaimana aktivitas manusia di kawasan rentan dapat menimbulkan dampak berantai terhadap lingkungan. Pencairan gletser yang dipercepat oleh berbagai faktor, baik lokal maupun global, menjadi peringatan bahwa pengelolaan wisata pendakian dan kebijakan iklim perlu berjalan beriringan.

Tanpa perubahan pola pengelolaan dan penurunan emisi, gletser di kawasan Everest diprediksi terus menyusut. Dampaknya akan dirasakan tidak hanya oleh para pendaki, tetapi juga oleh masyarakat yang bergantung pada aliran air dari pegunungan tertinggi di dunia tersebut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Pratama

Menulis tentang kesehatan lingkungan, polusi, dan gaya hidup hijau.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter