30, 2026
Nasional

Aksi Lingkungan di Bali Libatkan Pelaku UMKM hingga Siswa SD

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Aksi Lingkungan di Bali Libatkan Pelaku UMKM hingga Siswa SD

DENPASAR — Gerakan pembersihan lingkungan dan pengurangan sampah plastik kembali digelar di Bali dengan melibatkan sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas lingkungan, hingga siswa sekolah dasar. Kegiatan yang berlangsung di beberapa titik di Denpasar dan Kabupaten Badung itu menyasar kawasan pantai, pasar tradisional, serta lingkungan permukiman yang selama ini menjadi penyumbang timbunan sampah terbesar.

Pantauan di lokasi menunjukkan para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok bertanggung jawab atas area tertentu dengan target pengumpulan sampah plastik, styrofoam, dan limbah rumah tangga lainnya. Selain membersihkan, peserta juga diberikan pemahaman singkat mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang ke tempat pengolahan setempat.

UMKM Dilibatkan Tekan Sampah Kemasan

Kalangan pelaku UMKM menjadi salah satu sasaran utama dalam aksi kali ini. Mereka didorong untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dan beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan. Sejumlah pedagang makanan dan minuman di kawasan wisata mengaku mulai mengurangi stok kemasan plastik sejak beberapa bulan terakhir.

Penggiat lingkungan menilai keterlibatan pelaku usaha kecil menjadi kunci karena sektor ini menyumbang volume sampah kemasan yang cukup besar setiap harinya. Pendekatan yang digunakan bukan berupa larangan, melainkan pendampingan dan penyediaan alternatif kemasan yang terjangkau agar pelaku usaha tidak terbebani secara ekonomi.

Selain itu, beberapa UMKM mulai menjajaki kerja sama dengan bank sampah setempat. Sampah plastik yang sebelumnya dibuang begitu saja kini dikumpulkan secara terpisah untuk kemudian ditimbang dan ditukar dengan sejumlah nilai rupiah. Skema ini dinilai memberikan insentif langsung bagi pelaku usaha untuk ikut serta dalam pengelolaan sampah.

Siswa SD Jadi Sasaran Edukasi Dini

Di sisi lain, siswa sekolah dasar terlibat dalam kegiatan yang lebih menekankan aspek edukasi. Anak-anak diajak mengenali jenis sampah, mempraktikkan pemilahan, serta memahami dampak sampah plastik terhadap ekosistem laut. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan permainan agar mudah dipahami sesuai usia peserta.

Guru pendamping menyebut materi lingkungan yang disampaikan secara praktik langsung lebih efektif dibandingkan penjelasan di ruang kelas. Anak-anak yang terlibat diharapkan membawa kebiasaan memilah sampah ke rumah masing-masing dan menularkannya kepada anggota keluarga.

Sejumlah sekolah juga mulai menjadikan kegiatan kebersihan sebagai agenda rutin, bukan sekadar acara insidental. Pihak sekolah berharap pendekatan ini membentuk kebiasaan jangka panjang, bukan hanya antusiasme sesaat ketika ada kegiatan besar.

Persoalan Sampah di Bali

Bali menghadapi persoalan sampah yang cukup kompleks seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan pertumbuhan penduduk. Sejumlah tempat pemrosesan akhir sampah dilaporkan kerap melebihi kapasitas, terutama pada musim ramai kunjungan wisatawan. Kondisi itu mendorong berbagai pihak mencari solusi di tingkat hulu, termasuk mengurangi produksi sampah sejak dari sumbernya.

Pemerintah daerah menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan, partisipasi warga, dan dukungan sektor swasta. Tanpa keterlibatan semua pihak, upaya pengurangan sampah dinilai sulit mencapai hasil yang signifikan. Aksi seperti ini dipandang sebagai langkah pendukung kebijakan yang lebih luas, bukan solusi tunggal.

Tantangan Keberlanjutan

Meski mendapat respons positif, sejumlah pengamat mengingatkan tantangan utama justru terletak pada keberlanjutan. Kegiatan bersih-bersih yang bersifat seremonial dinilai tidak cukup jika tidak diikuti sistem pengelolaan sampah yang berjalan konsisten setiap hari. Diperlukan tempat pemilahan yang memadai, armada pengangkut yang rutin, serta pengolahan lanjutan yang tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.

Selain itu, perubahan perilaku masyarakat membutuhkan waktu. Kampanye lingkungan perlu dilakukan terus-menerus dengan pesan yang konsisten, bukan hanya menjelang momen tertentu. Pendekatan berbasis komunitas dianggap lebih efektif karena melibatkan warga secara langsung dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan di lapangan.

Sejumlah komunitas lingkungan di Bali menyatakan akan terus mendampingi pelaku UMKM dan sekolah yang terlibat. Mereka berencana melakukan pemantauan berkala untuk melihat sejauh mana kebiasaan baru terbentuk, sekaligus mengevaluasi kendala yang dihadapi di lapangan.

Dengan melibatkan pelaku usaha dan anak sekolah, gerakan ini diharapkan tidak berhenti pada satu peristiwa, melainkan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Keberhasilan pengelolaan sampah di Bali pada akhirnya bergantung pada konsistensi semua pihak, mulai dari rumah tangga, pedagang, sekolah, hingga pemerintah daerah.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter