Amran Berikan Beasiswa Rp 50 Juta untuk Anak ASN Korban KKB Papua
Gubernur Papua, Amran Ali, mengumumkan pemberian beasiswa senilai Rp 50 juta bagi anak-anak Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi korban seritus KKB di wilayah tersebut. Keputusan ini diambil sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap keluarga ASN yang menjadi korban kekerasan di Tanah Papua.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jayapura pada Rabu (15/3), Amran Ali menjelaskan bahwa beasiswa ini akan diberikan kepada 15 anak ASN yang orang tuanya menjadi korban serangan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKB). "Kita tidak bisa membiarkan korban dan keluarganya ditinggalkan begitu saja. Mereka juga haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak," ujar Amran.
Program Pendukung Pendidikan
Program beasiswa ini merupakan bagian dari upaya pemerintah provinsi Papua dalam mendukung pendidikan keluarga ASN korban kekerasan. Selain dana beasiswa, pemerintah juga akan menyediakan bantuan psikologis dan pelatihan keterampilan bagi para korban dan keluarganya.
Kepala Dinas Pendidikan Papua, Drs. Yohanis Mambrasa, M.Pd., menambahkan bahwa beasiswa ini akan diberikan secara bertahap selama empat tahun. "Setiap anak akan menerima Rp 12,5 juta per tahun selama empat tahun. Totalnya memang Rp 50 juta per anak," jelasnya.
Mambrasa menjelaskan bahwa seleksi penerima beasiswa telah dilakukan secara transparan oleh tim khusus yang dibentuk pemerintah provinsi. "Kami telah memverifikasi data keluarga ASN korban KKB dari berbagai kabupaten/kota di Papua. Setelah itu, kami melakukan penilaian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan," tuturnya.
Respons dari Keluarga Korban
Salah satu penerima beasiswa, Fransiska Rumbewas (14), yang ayahnya meninggal akibat serangan KKB di Kabupaten Nduga pada Januari 2019, mengaku terbantu dengan adanya program ini. "Saya bersyukur sekali dengan bantuan ini. Sekarang saya bisa melanjutkan sekolah tanpa harus khawatir biaya," ucap Fransiska yang kini duduk di kelas dua SMA.
Ibu Fransiska, Yuliana Rumbewas, mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada pemerintah Papua. "Saya merasa lega karena anak-anak saya bisa tetap sekolah. Ayah mereka adalah seorang guru yang tewas dalam melaksanakan tugas. Harapan saya anak-anak bisa menjadi orang sukses seperti ayah mereka," ucapnya dengan berlinangan air mata.
Langkah Mencegah Terulangnya Kekerasan
Gubernur Amran Ali menegaskan bahwa pemberian beasiswa ini bukan hanya sebagai bentuk rehabilitasi, tetapi juga sebagai upaya mencegah terulangnya kekerasan di Papua. "Melalui pendidikan, kita harapkan generasi muda Papua bisa menjadi agen perubahan yang membawa damai dan keadilan di tanah air," kata Amran.
Pemerintah provinsi Papua juga berencana bekerja sama dengan universitas-universitas ternama di Indonesia untuk menyediakan program beasiswa khusus bagi anak-anak Papua, termasuk yang menjadi korban konflik. "Kita akan membuka jalur masuk khusus melalui program beasiswa penuh untuk mereka yang berprestasi akademik," tambah Amran.
Kritikan dan Tanggapan Publik
Meskipun mendapat apresiasi dari kalangan korban dan masyarakat, program ini juga menuai beragam tanggapan dari kalangan aktivis dan praktisi pendidikan. Beberapa di antaranya menganggap jumlah beasiswa masih kurang jika dibandingkan dengan biaya pendidikan di perguruan tinggi.
"Meskipun bermanfaat, Rp 50 juta untuk empat tahun pendidikan ternyata masih kurang jika anak tersebut melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Mungkin pemerintah perlu mempertimbangkan penyesuaian anggaran atau beasiswa lanjutan," kata Dr. Binsar Tambunan, sependidik dan aktivis HAM asal Papua.
Sementara itu, Koordinator Aliansi Jurnalis Independen Papua (AJIP), Markus Haluk, mengapresiasi langkah pemerintah namun meminta agar program ini tidak berhenti pada aspek pendidikan saja. "Kita juga perlu memastikan adanya penyelesaian konflik yang berkelanjutan agar kekerasan tidak terus terjadi di Papua," tandasnya.
Menanggapi berbagai kritikan tersebut, Gubernur Amran Ali berjanji akan terus memantau dan mengevaluasi program ini. "Kita terbuka untuk masukan dan saran. Tujuan utamanya adalah membantu korban dan keluarga mereka untuk bangkit kembali melalui pendidikan," pungkasnya.
Komentar (0)