11, 2026
Nasional

Anak Krakatau Erupsi Lagi, Pakar Minta Tak Langsung Dikaitkan dengan Tsunami

Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas dan status menjadi Level III (siaga). Masyarakat diminta tenang dan tidak panik terkait potensi tsunami.]]>

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Anak Krakatau Erupsi Lagi, Pakar Minta Tak Langsung Dikaitkan dengan Tsunami

Anak Krakatau Erupsi Lagi, Pakar Minta Tak Langsung Dikaitkan dengan Tsunami

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu (12/11) lalu. Aktivitas vulkanik ini terjadi sekitar pukul 14.30 WIB dengan durasi sekitar dua menit. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mencatat tinggi kolom abu mencapai 800 meter dari puncak gunung.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa (PVMBG) Gede Suantika mengatakan bahwa erupsi terjadi bersamaan dengan hujan abu di sekitar wilayah pesisir Selat Sunda. "Kami sudah mengimbau masyarakat yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk tetap waspada meskipun status gunung masih level II (Waspada)," ujar Gede.

Sejak erupsi terjadi, PVMBG terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa frekuensi gempa vulkanik mengalami peningkatan menjadi 15 kali per jam, dibandingkan sebelumnya hanya 5-10 kali per jam.

Respons Pemerintah Daerah

Pemerintah Daerah (Pemda) Lampung dan Banten telah menggelar rapat koordinasi untuk menanggapi situasi ini. Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan posko darurat di beberapa titik strategis.

Sementara itu, di Lampung, Pemda telah mempersiapkan beberapa ruang terbuka sebagai tempat pengungsian sementara. "Kami sudah menyiapkan tiga lokasi pengungsian di Kabupaten Lampung Selatan. Namun sampai saat ini belum ada warga yang mengungsi," kata Kepala BPBD Lampung, Ahmad Yani.

Komentar Para Ahli

Para ahli vulkanologi menekankan bahwa erupsi terbaru Anak Krakatau belum tentu berhubungan langsung dengan peristiwa tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu. Professor geologi dari Universitas Indonesia (UI) Fachri Aziz mengatakan bahwa meskipun keduanya berasal dari gunung yang sama, mekanisme yang terjadi berbeda.

Dr. Hendra, seismolog dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, menambahkan bahwa meskipun demikian, masyarakat tetap diimbau untuk tetap waspada. "Meskipun tidak ada indikasi tsunami, gelombab pasang laut yang abnormal masih mungkin terjadi akibat aktivitas vulkanik," kata Hendra.

Pantauan Terus Dilakukan

PVMBG terus melakukan pemantauan 24 jam terhadap aktivitas Anak Krakatau. Selain memantau gempa vulkanik, tim juga memantau deformasi permukaan, suhu air di sekitar kawah, dan emisi gas sulfida.

Pihak berwenang juga meminta masyarakat untuk tidak menyebar berita hoaks terkait aktivitas Anak Krakatau. "Informasi resmi akan kami sampaikan melalui media sosial resmi PVMBG dan website kami. Masyarakat diminta tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya," kata juru bicara PVMBG.

Hingga saat ini, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Raden Intan Lampung belum terganggu meskipun terdapat laporan hujan abu di sekitar wilayah Selat Sunda. Pihak bandara tetap memantau situasi dan akan mengambil langkah preventif jika diperlukan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter