30, 2026
Nasional

Asa Reynaldo, Penyandang Disabilitas Tempuh 59 Km Demi Berburu Kerja

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Perjuangan Reynaldo, seorang penyandang disabilitas asal Kabupaten Bogor, menjadi sorotan publik setelah kisahnya menempuh perjalanan sejauh 59 kilometer demi mengikuti bursa kerja atau job fair di Jakarta. Langkah pria berusia 26 tahun itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan gambaran nyata kerasnya persaingan dunia kerja bagi kelompok disabilitas di Indonesia.

Perjalanan Panjang Penuh Keterbatasan

Reynaldo diketahui berangkat dari kediamannya di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, menuju lokasi job fair di kawasan Jakarta Selatan. Karena keterbatasan biaya, ia memilih menggunakan kursi roda listrik dan sesekali memanfaatkan transportasi umum untuk menempuh jarak puluhan kilometer tersebut.

Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam. Ia harus melewati jalanan yang tidak sepenuhnya ramah bagi pengguna kursi roda, mulai dari trotoar yang tidak rata, jalur pejalan kaki yang terhalang pedagang, hingga akses masuk kendaraan umum yang minim fasilitas ramah disabilitas. Meski demikian, tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan tetap hidup.

Reynaldo mengaku telah lama menganggur sejak lulus pendidikan. Ia memiliki keterampilan di bidang administrasi dan desain grafis, namun lamaran kerja yang dikirim ke berbagai perusahaan belum membuahkan hasil. Bursa kerja di Jakarta ia nilai sebagai salah satu peluang terbaik untuk bertemu langsung dengan perekrut.

Peluang Kerja Disabilitas Masih Terbatas

Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan kewajiban kuota satu persen penyandang disabilitas bagi perusahaan swasta dan dua persen bagi instansi pemerintah belum sepenuhnya terpenuhi. Banyak perusahaan masih ragu merekrut penyandang disabilitas karena alasan infrastruktur kantor yang belum inklusif dan kekhawatiran soal produktivitas.

Kondisi itu diperparah dengan minimnya informasi lowongan kerja yang secara khusus membuka akses bagi penyandang disabilitas. Banyak penyandang disabilitas hanya mengandalkan komunitas dan media sosial untuk mendapatkan informasi bursa kerja.

Reynaldo termasuk yang aktif mencari informasi tersebut. Ia mengikuti sejumlah komunitas disabilitas di Jabodetabek dan sering mendapat kabar tentang job fair dari grup pesan instan. Ketika mengetahui ada bursa kerja besar di Jakarta, ia langsung menyiapkan berkas lamaran dan memutuskan berangkat meski harus menempuh perjalanan jauh.

Respons Publik dan Dukungan

Kisah Reynaldo menyebar luas setelah diunggah ke media sosial. Banyak warganet menyampaikan empati dan mengapresiasi semangatnya. Tidak sedikit pula yang menawarkan bantuan, mulai dari tumpangan, biaya transportasi, hingga informasi lowongan kerja.

Beberapa perusahaan swasta dikabarkan menghubungi Reynaldo melalui pesan langsung untuk menawarkan wawancara kerja. Dinas Tenaga Kerja setempat juga menyatakan akan memfasilitasi Reynaldo agar bisa mengikuti program pelatihan kerja dan penyaluran tenaga kerja.

Meski begitu, Reynaldo menegaskan bahwa ia tidak ingin hanya menjadi objek simpati. Ia berharap perhatian publik diikuti dengan perubahan sistemik, terutama akses kerja yang setara dan fasilitas publik yang ramah disabilitas.

Pekerjaan yang Belum Kunjung Tiba

Hingga berita ini ditulis, Reynaldo belum menerima kepastian kerja. Sejumlah proses seleksi masih berjalan. Ia mengaku tetap optimistis dan akan terus melamar pekerjaan selama kesehatannya memungkinkan.

Pengalaman Reynaldo mencerminkan persoalan lebih besar yang dihadapi penyandang disabilitas di Indonesia. Tingkat pengangguran terbuka penyandang disabilitas tercatat lebih tinggi dibandingkan kelompok non-disabilitas. Banyak dari mereka yang mampu bekerja justru terhambat stigma, akses transportasi, dan minimnya akomodasi yang wajar di tempat kerja.

Kasus Reynaldo juga mempertanyakan efektivitas kebijakan afirmasi yang sudah diberlakukan. Tanpa pengawasan ketat dan sanksi tegas bagi perusahaan yang tidak memenuhi kuota, kebijakan tersebut dinilai hanya menjadi aturan di atas kertas.

Harapan Perubahan

Organisasi penyandang disabilitas mendorong pemerintah memperkuat pengawasan terhadap pemenuhan kuota kerja. Mereka juga meminta perusahaan membuka program magang inklusif agar penyandang disabilitas memiliki pengalaman kerja yang bisa meningkatkan peluang mereka diterima di dunia kerja.

Bagi Reynaldo, perjalanan 59 kilometer itu bukan akhir. Ia berharap langkahnya menjadi pemicu kesadaran bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk bekerja dan berkontribusi. Ia hanya butuh satu kesempatan untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang prestasi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter