18, 2026
Nasional

Biaya Hidup Melonjak, Potret Chaos Kepung Penjuru Negeri

Ketegangan meluas di jalan-jalan seiring dengan dikerahkannya aparat kepolisian saat demonstrasi yang menentang tingginya biaya hidup.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Biaya Hidup Melonjak, Potret Chaos Kepung Penjuru Negeri

Biaya Hidup Melonjak, Potret Chaos Kepung Penjuru Negeri

Inflasi yang terus menggejolak ekonomi Indonesia telah menciptakan tekanan berat bagi masyarakat di berbagai daerah. Lonjakan harga kebutuhan pokok, bahan bakar minyak, dan tarif listrik telah menggerus daya beli masyarakat, mengakibatkan kehidupan semakin sulit bagi keluarga menengah ke bawah. Potret kesulitan ini terlihat jelas di penjuru negeri, mulai dari perkotaan hingga pelosok desa.

Kenaikan Drastis Harga Komoditas Pokok

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi mencapai 5,95 persen pada Mei 2023, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini terutama didorong oleh harga bahan makanan, terutama daging, telur, dan sayuran. Di Pasar Tradisional Senen, Jakarta, harga daging sapi mencapai Rp120.000 per kilogram, naik 40 persen dari awal tahun. Sementara itu, harga telur ayam ras mengalami kenaikan dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir.

"Sulit memang sekarang, harga bahan makanan naik terus. Gaji tetap, tapi belanja jadi dua kali lipat," ujar Siti, seorang ibu rumah tangga di Jakarta, saat membeli sayuran di pasar. Kondisi serupa juga terjadi di luar Pulau Jawa. Di Pasar Induk Bantul, Yogyakarta, harga cabai rawit merah melonjak dari Rp40.000 menjadi Rp80.000 per kilogram dalam sebulan.

Gas Elpiji dan BBM Menjadi Beban Tambahan

Kebijakan kenaikan harga gas elpiji 3 kg dari Rp17.500 menjadi Rp35.000 per tabung pada awal April lalu juga memberikan dampak signifikan. Banyak warga di daerah terpencil yang bergantung pada elpiji untuk memasak kini harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk kebutuhan energi rumah tangga.

"Sebelumnya, satu tabung gas bisa digunakan dua bulan, sekarang habis dalam sebulan. Uangnya lebih banyak untuk gas, kurang untuk kebutuhan lain," keluh Bapak Ahmad, warga Desa Cisarua, Kabupaten Bogor. Di sisi lain, kenaikan harga BBM bersubsidi juga menambah beban biaya transportasi. Biaya angkutan umum di berbagai kota naik rata-rata 15-20 persen, memaksa banyak pekerja harian terdampak.

Implikasi Sosial dan Ekonomi

Lonjakan biaya hidup ini muli menunjukkan implikasi sosial yang signifikan. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bantuan Rakyat Indonesia melaporkan peningkatan jumlah keluarga yang meminta bantuan pangan di enam provinsi selama tiga bulan terakhir. Di Jakarta sendiri, jumlah pengemis dan pemulung di sekitar persimpangan jalan utama meningkat sekitar 30 persen.

"Kami melihat semakin banyak anak-anak sekolah yang datang ke posko kami karena tidak memiliki uang untuk membeli makan siang," kata Siti Aminah, koordinator program pangan di LSM tersebut. Di sisi lain, banyak UMKM mengeluhkan penurunan minat beli masyarakat, yang berdampak pada penurunan omzet hingga 40 persen.

Respons Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah telah sejumlah langkah untuk mengatasi situasi ini, termasuk program bantuan langsung tunai (BLT) untuk keluarga miskin, operasi pasar murah, dan penyerapan beras untuk stabilisasi harga. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mengendalikan inflasi pada level 3 persen akhir tahun ini.

Di sisi lain, masyarakat juga mencari cara untuk bertahan hidup. Beberapa komunitas berbasis gotong royong muncul untuk berbagi sumber daya, seperti kelompok belanja bersama untuk mendapatkan harga lebih murah. Sebagian warga juga beralih ke bahan makanan alternatif yang lebih murah, seperti umbi-umbian dan biji-bijian.

Para ekonom menyoroti bahwa penanganan inflasi membutuhkan pendekatan holistik, tidak hanya dari sisi moneter tetapi juga peningkatan daya saing dan produksi domestik. "Kenaikan harga komoditas global tidak bisa kita hindari, tetapi kita bisa mengurangi dampaknya dengan memperkuat produksi dalam negeri dan meningkatkan efisiensi distribusi," ujar Prof. Dr. Budi Santoso, ekonom dari Universitas Indonesia.

Dengan inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang belum merata, tantangan mengatasi kenaikan biaya hidup akan menjadi fokus utama pemerintah dan masyarakat dalam waktu dekat. Bagaimana potchaos ini dapat diatasi, akan menjadi cerminan kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi gejolak global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter