15, 2026
Nasional

BRIN Sebut Pemadaman Saja Tak Cukup Atasi Kebakaran Hutan

Bagus Nugroho
Bagus Nugroho Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

BRIN Sebut Pemadaman Saja Tak Cukup Atasi Kebakaran Hutan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa upaya pemadaman semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Menurut kajian BRIN, pendekatan yang komprehensif diperlukan untuk menangani persoalan yang kompleks ini, mulai dari pencegahan hingga pemulihan ekosistem setelah kebakaran.

Dalam keterangannya, Kepala Pusat Klimatologi dan Meteorologi BRIN, Heri Kurniawan, menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor interkoneksi. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi iklim, aktivitas manusia, kebijakan lingkungan, serta kerentanan ekosistem yang ada.

Faktor Penyebab Utama Kebakaran Hutan

Menurut riset BRIN, sekitar 80% kebakaran hutan dan lahan di Indonesia disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan secara ilegal melalui metode pembakaran. Praktik ini seringkali dilakukan oleh perkebunan dan petani skala kecil yang mencari lahan pertanian baru.

"Kebakaran hutan tidak terjadi secara spontan. Ada pemicu utamanya, dan yang paling dominan adalah aktivitas manusia," ujar Heri dalam sebuah forum diskusi tentang pencegahan kebakaran hutan baru-baru ini.

BRIN juga menyoroti bahwa perubahan iklim telah memperparah risiko kebakaran. Kenaikan suhu global dan perubahan pola curah hujan membuat wilayah Indonesia semakin rentan terhadap kekeringan, yang pada gilirannya meningkatkan probabilitas terjadinya kebakaran.

Strategi Pencegahan yang Komprehensif

BRIN menyarankan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan harus berorientasi pada pencegahan daripada hanya fokus pada respons pasca-kebakaran. Strategi ini meliputi peningkatan pengawasan, penerapan teknologi deteksi dini, serta penegakan hukum yang tegas bagi pelaku pembakaran lahan.

"Teknologi seperti satelit dan sistem pemantauan cuaca real-time dapat membantu deteksi dini potensi kebakaran. Namun, teknologi ini harus didukung oleh kebijakan yang kuat dan sumber daya manusia yang memadai," tambah Heri.

Badan riset ini juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam pencegahan kebakaran. Pemberdayaan masyarakat lokal, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan, diyakini dapat efektif dalam mencegah terjadinya kebakaran.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

BRIN menyoroti dampak serius kebakaran hutan terhadap perekonomian dan lingkungan. Kerugian ekonomi mencakup hilangnya produksi pertanian, biaya pemadaman yang mahal, serta dampak kesehatan akibat polusi udara yang disebabkan oleh kabut asap.

"Kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memberikan dampak ekonomi jangka panjang yang signifikan. Kerugian ini mencakup hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi tanah, dan penurunan kualitas air," jelas Kepala Pusat Lingkungan Hidup BRIN, Dr. Siti Nurul Khotimah.

Dampak kesehatan akibat kabut asap juga tidak dapat diabaikan. Menurut data BRIN, setiap tahun kebakaran hutan menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernafasan, masalah mata, dan penyakit kulit di wilayah yang terkena dampak.

Peran Teknologi dan Inovasi

Sebagai lembaga riset dan inovasi, BRIN terus mengembangkan berbagai teknologi untuk membantu penanganan kebakaran hutan. Salah satu inovasi terbaru adalah sistem pemantauan kebakaran berbasis citra satelit yang memiliki resolusi tinggi dan dapat mendeteksi titik api dengan lebih cepat.

"Kami juga sedang mengembangkan model prediksi risiko kebakaran berbasis data iklim dan kondisi vegetasi. Dengan model ini, kita dapat memprediksi area-area yang berpotensi besar mengalami kebakaran dan melakukan pencegahan yang lebih tepat sasaran," ujar Heri.

Selain itu, BRIN juga sedang meneliti penggunaan mikroorganisme untuk mempercepat pemulihan lahan terbakar. Teknologi ini diharapkan dapat membantu regenerasi tanah dan vegetasi yang rusak akibat kebakaran.

Langkah Jangka Panjang untuk Pencegahan

Untuk penanganan jangka panjang, BRIN menekankan pentingnya transformasi sistem pertanian yang berkelanjutan. Hal ini termasuk pengurangan ketergantungan pada pembukaan lahan baru melalui pembakaran dan peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada.

"Kita perlu mengubah pola pikir dan praktik pertanian. Dengan teknologi dan praktik yang tepat, kita dapat meningkatkan produksi tanpa harus membuka lahan baru yang berisiko kebakaran," tambah Dr. Siti.

BRIN juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar-sektor dalam penanganan kebakaran hutan. Kolaborasi ini melibatkan pemerintah, sektor swasta, masyarakat lokal, dan lembaga riset untuk menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis bukti ilmiah, BRIN yakin bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dapat dikendalikan. Namun, hal ini memerlukan komitmen kuat dari semua pihak dan investasi jangka panjang dalam pencegahan dan pemulihan ekosistem.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Bagus Nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter