07, 2026
Teknologi

Bukan HP, Nokia Punya Sumber Duit Baru yang Laku Keras

Industri teknologi dapat membangun data center dua kali lebih cepat jika tidak terhambat pasokan.]]>

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bukan HP, Nokia Punya Sumber Duit Baru yang Laku Keras

Nokia Tinggalkan Citra Ponsel, Kini Raup Cuan dari Infrastruktur Jaringan

Nokia, nama yang selama puluhan tahun identik dengan telepon seluler, kini bukan lagi perusahaan yang bergantung pada perangkat genggam. Perusahaan asal Finlandia itu telah bertransformasi menjadi pemain utama di sektor infrastruktur telekomunikasi, jaringan perusahaan, dan lisensi teknologi. Perubahan haluan ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan hasil dari serangkaian akuisisi besar dan restrukturisasi bisnis yang mengubah fondasi pendapatan perusahaan secara menyeluruh.

Puncak pergeseran itu terjadi ketika Nokia menjual divisi ponselnya kepada Microsoft pada 2014. Setelah melepas bisnis perangkat konsumen, Nokia fokus pada peralatan jaringan telekomunikasi melalui Nokia Solutions and Networks, yang sebelumnya dikenal sebagai NSN. Langkah itu dilanjutkan dengan pembelian Alcatel-Lucent pada 2016, yang memperkuat portofolio Nokia di bidang jaringan akses, routing, dan optik. Sejak saat itu, klien utama Nokia bukan lagi konsumen individu yang membeli ponsel, melainkan operator telekomunikasi, perusahaan besar, dan pemerintah.

Lini Bisnis yang Menopang Pendapatan

Dalam laporan keuangannya, Nokia membagi bisnis ke dalam beberapa segmen utama. Segmen Networks menjadi tulang punggung, mencakup penjualan peralatan 5G, jaringan akses radio, serta infrastruktur jaringan tetap. Segmen ini melayani operator seluler di seluruh dunia yang tengah membangun dan meningkatkan jaringan generasi kelima. Permintaan terhadap peralatan 5G, khususnya di kawasan seperti India, Amerika Serikat, dan Eropa, menjadi pendorong pendapatan yang signifikan.

Segmen kedua adalah Nokia Technologies, unit yang mengelola portofolio paten perusahaan. Unit ini menghasilkan pendapatan dari lisensi kekayaan intelektual kepada produsen ponsel, kendaraan, dan perangkat lain yang menggunakan teknologi Nokia. Lisensi paten menjadi sumber pendapatan berulang dengan margin tinggi, karena tidak memerlukan biaya produksi besar. Beberapa kesepakatan lisensi jangka panjang dengan produsen ponsel global menjadi salah satu penyumbang laba yang stabil.

Selain itu, Nokia juga memiliki segmen Cloud and Network Services yang menyediakan perangkat lunak, layanan digital, dan solusi otomasi jaringan. Segmen ini menyasar operator yang ingin meningkatkan efisiensi jaringan melalui virtualisasi dan komputasi awan. Sementara itu, bisnis lisensi merek Nokia untuk perangkat konsumen dijalankan oleh mitra pihak ketiga, sehingga perusahaan tidak lagi menanggung risiko produksi dan distribusi perangkat keras konsumen.

Pasar Infrastruktur yang Kompetitif

Di pasar peralatan jaringan, Nokia bersaing ketat dengan Ericsson, Huawei, ZTE, dan Samsung. Persaingan ini dipengaruhi oleh faktor geopolitik, terutama pembatasan penggunaan peralatan Huawei di sejumlah negara akibat kekhawatiran keamanan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Nokia dan Ericsson untuk memperluas pangsa pasar, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Namun, tekanan harga dan siklus belanja operator yang tidak merata membuat pertumbuhan pendapatan tidak selalu linear.

Nokia juga menghadapi tantangan dari sisi profitabilitas. Investasi besar dalam riset dan pengembangan 5G serta 6G memerlukan biaya tinggi, sementara operator telekomunikasi cenderung menekan harga peralatan. Untuk menjaga margin, Nokia melakukan efisiensi operasional, mengurangi biaya tetap, dan mengoptimalkan portofolio produk. Perusahaan juga menjajaki peluang di segmen perusahaan, seperti jaringan privat untuk pabrik, pelabuhan, dan tambang, yang dianggap sebagai pasar baru dengan pertumbuhan potensial.

Diversifikasi ke Jaringan Perusahaan dan Pertahanan

Nokia semakin agresif menggarap pasar non-operator. Jaringan privat nirkabel untuk industri, solusi konektivitas untuk pusat data, serta teknologi untuk sektor pertahanan dan keamanan menjadi area yang terus dikembangkan. Akuisisi terhadap perusahaan perangkat lunak dan teknologi jaringan tertentu memperkuat kemampuan Nokia dalam menawarkan solusi terintegrasi, bukan sekadar perangkat keras.

Di sisi lain, bisnis lisensi paten tetap menjadi mesin uang yang menarik. Nokia memiliki salah satu portofolio paten terbesar di industri telekomunikasi, mencakup teknologi dasar untuk standar 2G hingga 5G. Pendapatan dari lisensi ini membantu menyeimbangkan fluktuasi penjualan peralatan jaringan yang cenderung mengikuti siklus belanja operator.

Prospek dan Tantangan ke Depan

Ke depan, Nokia menghadapi dua medan pertempuran sekaligus. Di pasar infrastruktur, perusahaan harus mempertahankan daya saing teknologi melawan Ericsson dan Huawei, sekaligus memenuhi permintaan operator yang tengah bertransisi ke 5G lanjutan dan bersiap menuju 6G. Di sisi lain, bisnis lisensi paten menghadapi risiko sengketa hukum dan perubahan lanskap regulasi di berbagai yurisdiksi.

Kendati demikian, transformasi Nokia menunjukkan bahwa perusahaan yang dulu dikenal sebagai pembuat ponsel kini berdiri di atas pondasi bisnis yang jauh berbeda. Pendapatan dari jaringan telekomunikasi, lisensi teknologi, dan solusi perusahaan menjadi sumber utama penghasilan. Bagi pasar, Nokia bukan lagi cerita tentang ponsel yang kalah bersaing, melainkan tentang perusahaan infrastruktur yang menguasai lapisan teknologi yang menopang komunikasi global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter