19, 2026
Nasional

Cara Baru Ilmuwan Tekan Populasi Ular Raksasa: Bidik Sang Ratu

Florida Selatan memiliki masalah ular raksasa yang menjadi hama. Kawasan ini merupakan habitat bagi populasi besar piton Burma liar.]]>

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Cara Baru Ilmuwan Tekan Populasi Ular Raksasa: Bidik Sang Ratu

Para ilmuwan mengubah cara menekan populasi ular raksasa yang menyerbu ekosistem lahan basah di Florida, Amerika Serikat. Alih-alih memburu sebanyak mungkin individu, tim peneliti kini memusatkan perhatian pada sekelompok kecil ular betina berukuran luar biasa besar yang dijuluki "sang ratu". Kelompok inilah yang diyakini menjadi mesin utama pertumbuhan populasi ular piton Burma (Python bivittatus) yang telah menjadi spesies invasif di kawasan Taman Nasional Everglades.

Pendekatan itu berangkat dari temuan sederhana namun penting: tidak semua ular betina memberi kontribusi sama terhadap ledakan populasi. Betina berukuran paling besar memiliki cadangan energi lebih banyak, mampu menghasilkan telur dalam jumlah jauh lebih banyak, dan punya peluang lebih tinggi untuk bertahan hingga musim kawin berikutnya. Dengan membidik kelompok inilah, setiap ular yang disingkirkan memberi dampak yang jauh lebih besar dibanding menangkap ular berukuran kecil atau jantan secara acak.

Mengapa "Sang Ratu" Menjadi Sasaran Utama

Ular piton Burma betina bertumbuh sepanjang hidupnya. Semakin besar tubuhnya, semakin banyak telur yang dapat dihasilkan dalam satu siklus reproduksi. Sejumlah kajian lapangan menunjukkan betina berukuran besar dapat menelurkan puluhan hingga lebih dari seratus telur, sementara betina muda hanya menghasilkan beberapa butir. Artinya, satu ekor "ratu" bisa meninggalkan warisan genetik yang setara dengan puluhan ular kecil.

Selain itu, betina besar umumnya lebih sulit ditemukan. Warna kulitnya yang menyatu dengan vegetasi rawa, kebiasaan bersembunyi di lubang dan semak lebat, serta wilayah jelajah yang luas membuat ular-ular ini nyaris tak terlihat oleh tim penyisir biasa. Karena itu, populasi betina besar sering luput dari upaya penangkapan rutin, sehingga terus menyumbang generasi baru dari tahun ke tahun.

Perhitungan model populasi yang dikembangkan sejumlah peneliti juga mengarah pada kesimpulan serupa. Simulasi menunjukkan bahwa penangkapan yang difokuskan pada betina dewasa berukuran besar mampu menurunkan laju pertumbuhan populasi lebih cepat dibanding strategi penangkapan acak, meski jumlah ular yang disingkirkan sama. Dengan kata lain, efisiensi menjadi kunci di medan yang luas dan sulit dijangkau.

Memakai Ular Jantan sebagai "Pengintai"

Untuk menemukan sang ratu, peneliti memanfaatkan perilaku kawin ular piton. Sejumlah jantan ditangkap, dipasangi pemancar radio, lalu dilepas kembali. Pada musim kawin, jantan-jantan bertanda itu akan bergerak mencari betina dan kerap berkumpul membentuk kelompok perkawinan. Sinyal radio mereka kemudian menuntun tim di lapangan langsung ke lokasi betina-betina besar yang selama ini tersembunyi.

Metode yang sering disebut sebagai "ular pengintai" ini telah dipakai dalam berbagai program pengendalian di Florida. Hasilnya, sejumlah betina berukuran rekor berhasil dievakuasi dari kawasan rawa. Selain mempermudah penemuan, cara ini juga memberi peneliti data berharga tentang pola pergerakan, wilayah jelajah, dan musim reproduksi ular-ular tersebut.

Ancaman Nyata bagi Ekosistem Everglades

Ular piton Burma bukan spesies asli Amerika Utara. Keberadaannya di Everglades bermula dari perdagangan hewan peliharaan eksotis yang lepas atau dilepaskan ke alam. Sejak populasi liar terbentuk, sejumlah kajian mencatat penurunan drastis pada mamalia kecil dan menengah di kawasan itu, seperti kelinci rawa, rakun, dan oposum. Ular ini juga memangsa burung, reptil, bahkan buaya muda.

Sebagai predator puncak yang tidak memiliki musuh alami berarti di habitat barunya, piton Burma mengubah rantai makanan secara menyeluruh. Karena itu, upaya pengendaliannya tidak hanya bertujuan mengurangi jumlah ular, tetapi juga memberi ruang bagi satwa asli untuk pulih. Program penangkapan melibatkan lembaga konservasi, otoritas satwa liar, hingga partisipasi masyarakat melalui ajang perburuan tahunan.

Tantangan dan Perdebatan

Meski menjanjikan, strategi membidik betina besar bukan tanpa kendala. Medan rawa yang luas, akses terbatas, cuaca ekstrem, dan biaya operasional tinggi membuat upaya ini berjalan lambat. Sejumlah pengamat juga mengingatkan bahwa penangkapan besar-besaran tidak akan pernah menyelesaikan masalah bila jalur masuk ular baru, terutama perdagangan hewan peliharaan ilegal, tidak ditutup rapat.

Selain itu, ada perdebatan soal seberapa jauh intervensi manusia diperlukan. Sebagian pihak menilai populasi piton sudah terlalu mapan untuk diberantas sepenuhnya, sehingga target realistis adalah menekan jumlahnya hingga tingkat yang dapat ditoleransi ekosistem. Pihak lain menekankan pentingnya pencegahan: memperketat pengawasan perdagangan, memperkuat regulasi kepemilikan hewan eksotis, dan meningkatkan kesadaran publik.

Langkah Berikutnya

Ke depan, para peneliti mendorong integrasi antara pemodelan populasi, pelacakan telemetri, dan pemantauan ekologi jangka panjang. Data dari ular betina besar diharapkan dapat membantu menyusun jadwal penangkapan yang lebih tepat, misalnya menjelang musim bertelur ketika pergerakan ular meningkat. Pendekatan berbasis data ini dinilai lebih hemat biaya dibanding operasi besar-besaran yang kurang terarah.

Bagi warga Florida, keberadaan piton Burma tetap menjadi pengingat bahwa perdagangan satwa eksotis membawa risiko ekologis jangka panjang. Selama permintaan pasar masih ada, aliran ular baru berpotensi terus terjadi. Karena itu, upaya menekan populasi ular raksasa dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan regulasi dan pengawasan di hulu.

Hingga kini, hasil di lapangan menunjukkan bahwa setiap betina besar yang berhasil dikeluarkan dari ekosistem memberi dampak yang tidak proporsional terhadap peluang generasi berikutnya. Bagi tim peneliti, itulah alasan mengapa "sang ratu" layak menjadi prioritas, meski ia bukan satu-satunya bagian dari masalah.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter