22, 2026
Nasional

Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan, Bagaimana Santri Menghadapi Perubahan Zaman?

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2025/10/21/68f786faaeb04-ilustrasi-santri-mengaji_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Dian Simanjuntak
Dian Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pesantren tidak pernah benar-benar berdiri di luar arus zaman. Selama berabad-abad, kitab kuning menjadi jantung pendidikan pesantren: lembaran kertas berbahasa Arab tanpa harakat yang dibaca dengan metode sorogan dan bandongan, ditemani penjelasan nahwu, sharaf, fikih, dan tasawuf. Namun ketika kecerdasan buatan masuk ke ruang-ruang kelas, ponsel pintar menjadi alat belajar sehari-hari, dan informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan menyaringnya, pertanyaan lama kembali muncul: bagaimana santri menjaga akar tradisi sambil tetap bergerak mengikuti perubahan?

Tradisi yang Tidak Statis

Anggapan bahwa pesantren adalah lembaga yang menolak kemajuan teknologi tidak sepenuhnya tepat. Sejarah pesantren menunjukkan bahwa lembaga ini berulang kali menyerap unsur baru tanpa melepaskan fondasi keilmuannya. Metode hafalan, diskusi kitab, dan sanad keilmuan tetap dipertahankan, sementara perangkat pendukungnya berubah. Dari papan tulis dan mesin ketik, pesantren beralih ke komputer, lalu ke internet, dan kini ke aplikasi percakapan berbasis kecerdasan buatan.

Yang berubah bukan hanya alat, tetapi juga lanskap pengetahuan. Jika dahulu seorang santri harus menunggu seorang kiai atau ustadz untuk menjelaskan satu persoalan, kini jawaban bisa muncul dalam hitungan detik melalui mesin pencari maupun model bahasa. Perubahan ini menuntut pesantren menetapkan sikap yang jelas: bukan menolak, bukan pula menerima tanpa sikap kritis.

Teknologi Masuk ke Ruang Belajar

Sejumlah pesantren mulai memanfaatkan perangkat digital untuk mendukung pembelajaran. Kitab-kitab klasik yang dahulu sulit diakses kini tersedia dalam bentuk digital, sebagian bahkan telah didigitalkan oleh perpustakaan dan lembaga kajian. Aplikasi kamus dan penerjemah membantu santri memahami kosakata Arab, sementara platform konferensi memungkinkan kajian lintas pesantren tanpa harus bertemu secara fisik.

Di sisi lain, teknologi juga membuka peluang ekonomi bagi pesantren dan santri. Keterampilan menulis, desain, pengelolaan media sosial, hingga pengembangan perangkat lunak menjadi bekal yang semakin relevan. Beberapa pesantren membuka program literasi digital, pelatihan kewirausahaan berbasis teknologi, dan kelas pemrograman sebagai pelengkap kurikulum keagamaan.

Kecerdasan Buatan: Peluang dan Risiko

Kecerdasan buatan menawarkan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya. Santri dapat meminta bantuan untuk memahami struktur kalimat Arab, merangkum pembahasan fikih, atau mencari rujukan awal sebelum mendalami sebuah kitab. Bagi pesantren yang sumber daya pengajarnya terbatas, teknologi semacam ini bisa menjadi penopang.

Namun kemudahan itu membawa risiko yang tidak ringan. Model bahasa dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi keliru, termasuk dalam persoalan keagamaan. Rujukan yang disebutkan belum tentu benar-benar ada. Jika santri menerima jawaban mentah tanpa memverifikasi kepada guru dan kitab aslinya, tradisi keilmuan yang selama ini dibangun melalui sanad dan ketelitian bisa tergerus.

Persoalan lain adalah plagiarisme dan melemahnya proses belajar. Menulis makalah atau menerjemahkan teks dengan bantuan mesin tanpa pemahaman mendalam berpotensi menghasilkan generasi yang cepat menjawab tetapi tidak memahami alasannya. Karena itu, pesantren dituntut menetapkan aturan penggunaan teknologi yang jelas, sekaligus menanamkan etika akademik sejak dini.

Literasi Digital dan Etika Keilmuan

Menghadapi situasi ini, literasi digital menjadi kebutuhan dasar, bukan pelengkap. Santri perlu mampu membedakan sumber tepercaya dari sumber yang tidak jelas, memahami cara kerja algoritma, dan menyadari batas kemampuan mesin. Literasi ini sebaiknya diajarkan bersamaan dengan etika keilmuan yang sudah menjadi ciri pendidikan pesantren: kejujuran dalam merujuk, kesabaran dalam menelaah, dan kerendahan hati untuk bertanya kepada yang lebih berilmu.

Sejumlah kalangan menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam menangkal dampak negatif teknologi, termasuk penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang sering dibungkus dalil keagamaan. Dengan jaringan alumni yang luas dan kedekatan dengan masyarakat, pesantren dapat menjadi simpul penyebaran informasi yang lebih bertanggung jawab.

Pengakuan Negara dan Tantangan Kelembagaan

Secara kelembagaan, pesantren telah memperoleh pengakuan melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang mengatur penyelenggaraan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober juga menjadi penanda pengakuan atas peran historis santri dalam perjuangan bangsa.

Meski demikian, tantangan tetap nyata. Kesenjangan infrastruktur digital antara pesantren di kota dan di daerah terpencil masih lebar. Ketersediaan pengajar yang menguasai teknologi sekaligus ilmu keagamaan belum merata. Tidak semua pesantren memiliki anggaran untuk menghadirkan perangkat dan pelatihan yang memadai.

Menjaga Akar, Merespons Zaman

Perjalanan dari kitab kuning ke kecerdasan buatan bukan soal memilih salah satu. Santri yang baik tetap dituntut menguasai teks-teks klasik secara mendalam, sekaligus mampu membaca perkembangan zaman dengan jernih. Teknologi diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru dan bukan sumber otoritas keagamaan.

Pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa canggih perangkat yang dipakai, melainkan seberapa kuat kemampuan berpikir kritis, kejujuran intelektual, dan kesadaran etis yang ditanamkan di pesantren. Di titik itulah tradisi kitab kuning dan kecerdasan buatan bisa bertemu tanpa saling menghapus.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Simanjuntak

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter