22, 2026
Nasional

Dulu Menyeberang Laut demi Beli Sandal, Kini Tinggal Klik dari Bantal

Di Dermaga Lampuyang, karung-karung paket terus datang bersama perahu dari seberang]]>

Wulan Simanjuntak
Wulan Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dulu Menyeberang Laut demi Beli Sandal, Kini Tinggal Klik dari Bantal

Pemandangan di sejumlah pelabuhan rakyat dahulu akrab dengan rutinitas yang keras: warga menyeberang laut dengan perahu kayu atau kapal feri untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari, termasuk sandal, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga. Perjalanan itu menempuh waktu berjam-jam, bergantung pada cuaca dan jadwal kapal. Kini, sebagian besar dari mereka cukup berbaring di atas bantal, membuka telepon pintar, memilih barang, lalu menunggu kurir datang ke rumah.

Perubahan itu bukan sekadar soal teknologi. Ia menandai pergeseran cara orang memenuhi kebutuhan, cara pedagang menjangkau pembeli, dan cara uang berputar di tingkat kampung. Jarak yang dulu diukur dengan mil laut kini diukur dengan kecepatan jaringan internet dan waktu pengiriman paket.

Ketika Laut Menjadi Jalan Dagang

Bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan pesisir, menyeberang laut bukan pilihan rekreasi, melainkan keharusan ekonomi. Barang-barang tertentu hanya tersedia di kota atau pulau lain, sehingga perjalanan menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkannya. Ada yang berlayar untuk membeli stok barang dagangan, ada pula yang sekadar melengkapi kebutuhan keluarga.

Perjalanan itu menuntut biaya. Tiket kapal, ongkos angkutan, waktu tunggu, hingga risiko cuaca buruk menjadi bagian dari perhitungan. Tidak jarang seseorang menunda pembelian karena menunggu momen tertentu, misalnya saat ada saudara yang hendak menyeberang atau ketika ada kapal barang yang bisa ditumpangi.

Dalam pola seperti itu, pedagang di pelabuhan dan pasar dekat dermaga memegang peran penting. Mereka menjadi simpul yang menghubungkan pembeli dengan barang yang didatangkan dari seberang. Keberadaan mereka menciptakan lapangan kerja, mulai dari pengecer, pengangkut barang, hingga penyedia jasa angkutan.

Perpindahan ke Layar Genggam

Masuknya perdagangan elektronik mengubah peta itu secara bertahap. Platform belanja daring menawarkan ribuan jenis barang dengan harga yang bisa dibandingkan dalam hitungan detik. Ulasan pembeli, foto produk, dan sistem pembayaran digital membuat keputusan membeli menjadi lebih cepat, bahkan ketika pembeli berada di tempat tidur pada tengah malam.

Yang paling terasa berubah adalah pilihan. Jika dulu pembeli hanya bisa memilih dari barang yang tersedia di toko seberang, kini mereka dapat memesan model, ukuran, dan warna tertentu dari penjual yang berada di kota lain. Perbandingan harga pun menjadi praktik yang lazim, bukan lagi kemewahan.

Logistik sebagai Penentu

Perubahan perilaku belanja itu tidak akan terjadi tanpa dukungan pengiriman. Jasa ekspedisi yang menjangkau kecamatan dan desa, ditambah layanan antar makanan dan barang berbasis aplikasi, membuat jarak menjadi lebih murah secara relatif. Paket kecil seperti sandal dapat dikirim dengan biaya yang lebih ringan dibandingkan ongkos perjalanan menyeberang.

Namun, ketergantungan pada logistik juga memunculkan persoalan baru. Wilayah terpencil masih menghadapi waktu pengiriman yang panjang dan biaya yang lebih tinggi. Kualitas barang yang tidak sesuai deskripsi, penipuan penjual, serta proses pengembalian barang menjadi keluhan yang kerap muncul.

Pedagang Konvensional di Tengah Perubahan

Bagi pedagang di pasar tradisional, gelombang belanja daring menuntut penyesuaian. Sebagian memilih bergabung ke platform daring, membuka toko sendiri di media sosial, atau memanfaatkan layanan pesan antar untuk menjangkau pelanggan lama. Sebagian lain bertahan dengan mengandalkan kedekatan personal, layanan tawar-menawar, dan kepercayaan yang sudah terbangun bertahun-tahun.

Yang bertahan umumnya menonjolkan hal yang sulit ditiru toko daring, seperti kemampuan mencoba barang langsung, konsultasi ukuran, dan penyelesaian masalah secara tatap muka. Pembeli yang pernah kecewa karena barang tidak sesuai gambar cenderung kembali ke toko fisik untuk jenis barang tertentu.

Kesenjangan Keterampilan dan Akses

Di sisi lain, transformasi ini tidak berjalan merata. Kelompok usia lanjut, pedagang dengan modal kecil, dan warga di daerah dengan sinyal lemah masih menghadapi hambatan. Literasi digital yang belum merata membuat sebagian orang rentan terhadap penipuan daring, sementara yang lain tertinggal dari peluang pasar yang semakin terbuka.

Pemerintah dan pelaku industri memang telah menjalankan berbagai program pelatihan dan pendampingan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah agar mampu masuk ke ekosistem digital. Namun, hasilnya bergantung pada keberlanjutan pendampingan, bukan sekadar pelatihan sesaat.

Yang Tetap Tinggal

Meski demikian, perjalanan menyeberang laut tidak sepenuhnya hilang. Ia bertahan dalam bentuk lain: perjalanan untuk urusan administrasi, kunjungan keluarga, wisata, dan pengiriman barang antarpulau. Kapal feri dan perahu motor masih menjadi urat nadi bagi wilayah yang belum terhubung jalan darat.

Perubahan yang terjadi lebih tepat dibaca sebagai pergeseran fungsi. Laut tidak lagi menjadi satu-satunya jalan menuju barang, tetapi tetap menjadi penghubung wilayah dan penopang ekonomi pesisir. Sementara itu, bantal dan layar genggam menjadi pintu masuk baru bagi ribuan transaksi setiap hari.

Bagi konsumen, pilihan kini jauh lebih banyak. Bagi pedagang, persaingan menjadi lebih luas dan tidak lagi terbatas pada satu pasar atau satu pulau. Dan bagi daerah kepulauan, tantangan ke depan adalah memastikan bahwa kemudahan bertransaksi daring disertai dengan perbaikan konektivitas, perlindungan konsumen, serta pemerataan manfaat bagi pelaku usaha kecil.

Cerita tentang sandal yang dulu dibeli dengan menyeberangi laut kini menjadi penanda zaman. Bukan karena laut telah kehilangan arti, melainkan karena cara orang menjangkaunya berubah: dari keberanian menempuh gelombang menjadi ketukan jari di atas layar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Wulan Simanjuntak

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter