Elon Musk mengaku merasa "keren" bisa berada di lingkaran terdekat Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pengakuan itu disampaikan taipan teknologi tersebut ketika menceritakan pengalamannya berada di pusat kekuasaan Washington dan Mar-a-Lago, Florida, setelah ia mendukung penuh kampanye Trump pada pemilihan presiden 2024.
Musk, yang menjabat sebagai chief executive officer Tesla dan SpaceX sekaligus pemilik platform X, menggambarkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang sulit dipercaya bagi dirinya. Ia menyebut dirinya sebagai orang yang biasa berkutat dengan roket, mobil listrik, dan perangkat lunak, bukan dengan politik praktis di level tertinggi. Karena itu, menurutnya, bisa duduk semeja dengan presiden Amerika Serikat merupakan pengalaman yang menurutnya "keren".
Dari pendukung menjadi tamu tetap di Mar-a-Lago
Kedekatan Musk dan Trump bukan hal baru. Sepanjang kampanye 2024, Musk menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi Komite Aksi Politik America PAC yang mendukung Trump. Berbagai laporan menyebutkan kontribusinya menembus angka ratusan juta dolar, menjadikannya salah satu donor politik paling berpengaruh dalam satu siklus pemilu di Amerika Serikat.
Setelah Trump memenangi pemilu, Musk terlihat beberapa kali berada di kediaman Trump di Mar-a-Lago. Ia juga tampil dalam sejumlah pertemuan dengan tokoh politik dan pelaku bisnis. Julukan "First Buddy" atau sahabat pertama sempat menempel pada dirinya di media sosial, merujuk pada posisinya yang tidak resmi namun sangat menonjol di lingkaran dalam presiden.
Musk sendiri tidak menyembunyikan kebanggaannya atas hubungan tersebut. Dalam sejumlah wawancara dan unggahan di X, ia menyinggung soal betapa surreal atau terasa tidak nyata baginya bisa terlibat langsung dalam pengambilan keputusan tingkat negara, setelah bertahun-tahun menjadi pengusaha swasta yang kerap berselisih dengan regulator.
Peran di pemerintahan dan Departemen Efisiensi Pemerintah
Trump kemudian menunjuk Musk, bersama pengusaha Vivek Ramaswamy, untuk memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah atau DOGE. Lembaga itu dibentuk untuk memangkas belanja federal, mengurangi regulasi, dan merampingkan birokrasi. Musk masuk sebagai pegawai pemerintah dengan status khusus selama sekitar 130 hari.
Selama periode itu, Musk mendorong pemangkasan anggaran di sejumlah lembaga, termasuk badan yang mengawasi penerbangan dan keselamatan jalan raya, dua area yang bersinggungan langsung dengan bisnis SpaceX dan Tesla. Langkah tersebut memicu perdebatan publik mengenai batas antara peran sebagai pejabat pemerintah dan kepentingan korporasi.
Nilai kekayaan Musk juga menjadi sorotan. Kenaikan harga saham Tesla setelah pemilu membuat kekayaannya melonjak, dan sebagian pengamat pasar menghubungkan hal itu dengan ekspektasi kebijakan deregulasi serta kedekatannya dengan Gedung Putih. Musk membantah bahwa dukungan politiknya didorong oleh kepentingan bisnis, dan menyatakan bahwa motivasinya adalah memperbaiki efisiensi pemerintah serta masa depan teknologi Amerika.
Ketegangan yang sempat muncul
Hubungan keduanya tidak selalu mulus. Pada pertengahan 2025, Musk meninggalkan perannya di pemerintahan dan kemudian mengkritik keras rancangan undang-undang belanja besar yang didukung Trump. Kritik itu memicu perang pernyataan di media sosial, termasuk saling sindir antara Musk dan presiden.
Beberapa pekan berselang, ketegangan mereda. Musk menyampaikan permintaan maaf terbuka atas sebagian pernyataannya, dan Trump menyatakan hubungan mereka kembali baik. Episode tersebut menunjukkan bahwa kedekatan keduanya bersifat dinamis, dengan fase akrab, fase berselisih, lalu fase rekonsiliasi.
Dampak bagi bisnis dan citra publik
Bagi Musk, kedekatan dengan Trump memberi akses langsung ke pengambil kebijakan, sesuatu yang jarang dimiliki CEO perusahaan teknologi. Akses itu bernilai tinggi mengingat SpaceX bergantung pada kontrak pemerintah, termasuk dengan NASA dan Departemen Pertahanan, sementara Tesla menghadapi regulasi kendaraan otonom di sejumlah negara bagian.
Namun, kedekatan tersebut juga membawa risiko reputasi. Sebagian konsumen dan investor menilai keterlibatan politik Musk terlalu jauh, dan hal itu sempat memengaruhi persepsi publik terhadap merek Tesla di beberapa pasar, terutama di Eropa. Sejumlah analis menilai Musk kini harus menyeimbangkan peran sebagai pengusaha global dengan posisi sebagai figur politik yang identik dengan Trump.
Pengakuan Musk bahwa dirinya merasa "keren" berteman dekat dengan presiden Amerika Serikat dengan demikian bukan sekadar celetukan. Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana seorang pengusaha swasta dapat bergeser menjadi aktor politik berpengaruh, sekaligus memunculkan pertanyaan lama tentang sejauh mana kepentingan bisnis dan kepentingan negara sebaiknya dipisahkan.
Hingga kini, Musk belum memberi penjelasan rinci mengenai seberapa besar pengaruh pertemanan itu terhadap keputusan bisnis perusahaannya. Yang jelas, hubungan keduanya tetap menjadi salah satu relasi paling diperhatikan di Washington, dan setiap pernyataan Musk tentang Trump selalu menjadi sorotan pasar maupun publik.
Komentar (0)