Mantan pelatih Manchester United, Erik ten Hag, melontarkan kritik tajam terhadap kelompok pemilik baru klub, INEOS, yang dipimpin Sir Jim Ratcliffe. Dalam pernyataannya, Ten Hag menilai manajemen anyar belum mampu membongkar persoalan struktural yang selama ini membelit klub, dan justru dianggap ikut melanggengkan budaya kerja yang tidak sehat di lingkungan Old Trafford.
Kritik tersebut menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya Ten Hag secara terbuka menyoroti sisi internal klub yang jarang terekspos ke publik. Selama hampir dua setengah tahun menangani United, pelatih asal Belanda itu dikenal cukup tertutup ketika membahas dinamika ruang ganti maupun hubungan dengan jajaran direksi. Kini, ia memilih bersuara setelah tidak lagi terikat kontrak dengan klub.
Kritik terhadap INEOS dan Arah Kebijakan Klub
Menurut Ten Hag, kehadiran INEOS sebagai pemegang saham minoritas dengan kendali atas operasional sepak bola seharusnya menjadi titik balik bagi Manchester United. Harapan itu muncul karena Ratcliffe dan timnya berjanji melakukan audit menyeluruh terhadap struktur klub, mulai dari departemen rekrutmen, akademi, hingga tim medis.
Namun, Ten Hag menilai janji tersebut belum sepenuhnya terwujud. Ia menyoroti sejumlah keputusan yang dinilainya diambil secara terburu-buru, termasuk perubahan dalam tim pendukung pelatih dan cara klub menangani komunikasi internal. Menurutnya, ketidakjelasan arah kebijakan membuat para pelatih dan pemain sulit bekerja dengan tenang.
"Ada banyak hal yang berubah, tetapi akar masalahnya tidak pernah benar-benar disentuh," ujar Ten Hag dalam wawancara yang dikutip sejumlah media, seraya menyebut bahwa klub terlalu sering mengganti prioritas tanpa menyelesaikan persoalan mendasar.
Ia juga menyoroti kecenderungan manajemen untuk lebih fokus pada narasi publik ketimbang pembenahan internal. Bagi Ten Hag, Manchester United terlalu lama hidup dalam bayangan masa kejayaan sehingga setiap evaluasi dilakukan dengan tolok ukur yang tidak realistis.
Budaya Beracun di Lingkungan Klub
Bagian paling keras dari kritik Ten Hag adalah penilaiannya bahwa Manchester United terus memelihara budaya kerja yang beracun. Ia menyebut sejumlah kebiasaan lama yang tidak pernah dihilangkan, seperti lemahnya akuntabilitas, kebocoran informasi ke media, serta ketidaktegasan dalam menangani pemain yang melanggar aturan internal.
Menurut Ten Hag, kondisi itu menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi pelatih mana pun. Ia mengaku sempat berupaya merombak standar kedisiplinan, termasuk menetapkan aturan tegas soal waktu kedatangan pemain ke sesi latihan dan transparansi data kebugaran. Namun, upaya tersebut kerap berbenturan dengan kepentingan pihak lain di dalam klub.
Persoalan Akuntabilitas dan Kebocoran Informasi
Ten Hag menilai salah satu sumber masalah adalah tidak adanya konsekuensi nyata bagi pihak-pihak yang membocorkan informasi internal. Ia menyebut situasi itu membuat ruang ganti mudah terpengaruh opini luar dan memperkeruh hubungan antara pemain dengan staf pelatih.
"Kalau setiap keputusan pelatih bisa dibocorkan dan diperdebatkan di ruang publik, kewibawaan tim akan hilang," kata Ten Hag, seperti dikutip dalam pemberitaan.
Rekrutmen dan Keseimbangan Skuad
Selain soal budaya, Ten Hag menyoroti kebijakan rekrutmen yang dinilainya tidak selalu sejalan dengan kebutuhan taktik. Ia mengaku beberapa kali harus menerima pemain yang tidak masuk dalam prioritas utamanya, sementara permintaan untuk mendatangkan gelandang bertahan dan penyerang tengah baru tidak segera dipenuhi.
Persoalan ini, menurutnya, bukan semata soal besarnya anggaran, melainkan soal koordinasi antara pelatih, direktur olahraga, dan pemilik. Tanpa keselarasan, kata dia, pembelian pemain mahal tidak otomatis menyelesaikan masalah di lapangan.
Posisi INEOS dan Manajemen United
Hingga berita ini diturunkan, pihak Manchester United maupun INEOS belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Ten Hag. Sejumlah laporan menyebut manajemen klub memilih tidak mengomentari pernyataan mantan pelatihnya secara terbuka.
Sejak mengambil alih kendali operasional sepak bola pada awal 2024, INEOS memang melakukan sejumlah perubahan besar. Omar Berrada didatangkan sebagai CEO, Jason Wilcox masuk sebagai direktur teknis, dan Dan Ashworth sempat menempati posisi direktur olahraga sebelum meninggalkan klub. Perombakan itu dipresentasikan sebagai upaya membangun struktur yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Meski demikian, hasil di lapangan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Manchester United masih kesulitan bersaing di papan atas Liga Primer, dan performa di kompetisi Eropa juga menjadi sorotan. Kondisi tersebut membuat tekanan publik terhadap kepemimpinan Ratcliffe semakin besar.
Dampak bagi Ruben Amorim dan Tim
Kritik Ten Hag muncul di tengah upaya pelatih saat ini, Ruben Amorim, membangun identitas permainan baru. Amorim menghadapi tantangan berat karena harus bekerja dengan warisan persoalan yang sama, mulai dari keterbatasan kualitas skuad hingga ekspektasi tinggi pendukung.
Pernyataan Ten Hag berpotensi menambah beban psikologis bagi para pemain, terutama mereka yang pernah menjadi bagian dari konflik internal di era sebelumnya. Di sisi lain, sebagian pengamat menilai kritik itu sebagai peringatan penting bagi manajemen agar tidak mengulang pola yang sama dalam mendukung pelatih anyar.
Pengamat sepak bola menilai persoalan Manchester United bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi pelatih. Selama struktur pengambilan keputusan, budaya kerja, dan standar akuntabilitas tidak diperbaiki, pergantian pelatih hanya akan menjadi siklus yang berulang.
Siklus yang Sulit Diputus
Sejak kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013, Manchester United telah berkali-kali berganti pelatih dengan hasil yang relatif serupa. David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ralf Rangnick, hingga Ten Hag datang dengan janji perubahan, tetapi semuanya berakhir tanpa gelar juara liga.
Kritik Ten Hag menegaskan bahwa persoalan klub tidak berhenti pada taktik atau kualitas individu pemain. Ia menyoroti perlunya keberanian dari pemilik untuk mengambil keputusan tidak populer, termasuk menyingkirkan pihak-pihak yang selama ini menikmati zona nyaman di dalam struktur klub.
Bagi pendukung Manchester United, pernyataan tersebut menjadi cermin bahwa pembenahan yang dijanjikan INEOS masih jauh dari harapan. Kini, tugas manajemen adalah membuktikan bahwa kritik itu tidak sekadar menjadi narasi lama yang terus terulang, tetapi menjadi dasar evaluasi nyata untuk membangun kembali klub secara menyeluruh.
Komentar (0)