Eskalator Diperbaiki, Anker Cerita Beratnya Transit di Stasiun Duri Senin Pagi
Perbaikan eskalator di Stasiun Duri, Jakarta Barat, kembali menuai keluhan dari para pengguna commuter line pada Senin pagi. Antrean penumpang yang hendak berpindah jalur atau keluar dari stasiun terpaksa mengular karena satu unit eskalator masih dalam proses pemeliharaan. Kondisi ini memperparah kepadatan yang rutin terjadi pada jam sibuk, terutama antara pukul 06.30 hingga 08.30 WIB.
Pantauan di lokasi menunjukkan arus penumpang yang turun dari kereta menuju peron tujuan harus melewati jalur tangga dan eskalator yang tersisa. Petugas stasiun terlihat mengarahkan penumpang agar tidak menumpuk di area sempit dekat mulut eskalator. Meski demikian, kepadatan tidak sepenuhnya terurai karena volume penumpang yang datang bersamaan dari arah Rangkasbitung, Tanah Abang, dan Serpong.
Dampak Perbaikan Terhadap Mobilitas Pagi
Stasiun Duri merupakan salah satu titik transit tersibuk di lintas commuter line Jabodetabek. Penumpang dari jalur Rangkasbitung dan Serpong banyak yang berpindah di sini untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Abang, Sudirman, atau arah Kota. Ketika satu eskalator tidak beroperasi, beban berpindah ke akses lain yang kapasitasnya terbatas.
Sejumlah penumpang mengaku harus mengatur ulang waktu keberangkatan. Seorang pekerja swasta, Rina, menyebut dirinya memilih naik kereta lebih awal sekitar 20 menit untuk mengantisipasi antrean di eskalator. "Kalau sudah seperti ini, turun dari kereta harus cepat-cepat cari posisi supaya tidak terjebak di belakang," ujarnya di lokasi, Senin.
Keluhan serupa datang dari penumpang lain yang membawa barang bawaan cukup banyak. Mereka mengaku kesulitan menaiki tangga, terutama saat kereta tiba bersamaan dari dua arah berbeda. Petugas di lapangan berupaya membuka jalur alternatif dan mengatur arus satu arah pada jam-jam tertentu.
Keterbatasan Akses dan Risiko Penumpukan
Perbaikan eskalator disebut sebagai bagian dari program pemeliharaan fasilitas stasiun. Namun, waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan hari kerja menjadi sorotan. Pengguna menilai pekerjaan tersebut sebaiknya dijadwalkan pada akhir pekan atau jam sepi agar tidak mengganggu mobilitas harian.
Selain antrean, risiko keselamatan juga menjadi perhatian. Tangga yang digunakan bersama-sama oleh penumpang naik dan turun berpotensi menimbulkan dorongan, terutama ketika kereta baru saja membuka pintu dan ratusan orang bergerak serentak. Beberapa penumpang memilih menunggu di peron hingga arus mereda sebelum bergerak menuju pintu keluar.
Petugas keamanan dan petugas stasiun tampak bersiaga di titik-titik rawan. Mereka mengingatkan penumpang untuk tidak berlari di tangga dan tetap berpegangan pada pegangan tangan. Meski demikian, keterbatasan jumlah personel membuat pengawasan tidak selalu merata di setiap sudut stasiun.
Respons Pengelola dan Harapan Penumpang
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jadwal pasti selesainya perbaikan eskalator tersebut. Pengelola stasiun diharapkan memberikan informasi yang jelas kepada penumpang, termasuk estimasi waktu perbaikan dan jalur alternatif yang disarankan.
Pengguna commuter line berharap perawatan fasilitas dilakukan secara berkala dan terencana. Mereka juga meminta agar jumlah eskalator yang beroperasi selalu memadai, terutama pada jam sibuk pagi dan sore. Transparansi jadwal pemeliharaan dinilai penting agar penumpang dapat menyesuaikan rencana perjalanan.
Kondisi di Stasiun Duri pada Senin pagi menjadi cerminan tantangan transportasi publik di kawasan perkotaan yang padat. Perbaikan infrastruktur memang diperlukan untuk menjaga kenyamanan jangka panjang, tetapi pelaksanaannya perlu mempertimbangkan ritme harian pengguna. Tanpa pengelolaan arus yang baik, perbaikan satu fasilitas bisa berdampak besar pada kelancaran perjalanan ribuan orang setiap hari.
Penumpang berharap ke depan ada solusi yang lebih ramah, misalnya penambahan akses sementara atau pengaturan jadwal yang tidak berbenturan dengan puncak kepadatan. Dengan begitu, perbaikan fasilitas tidak otomatis menjadi sumber keterlambatan dan kelelahan bagi mereka yang bergantung pada commuter line setiap hari.
Komentar (0)