21, 2026
Politik

Eskalator Skybridge Bojonggede Mati dan Tanggung Jawab Pelayanan Publik

Eskalator di Skybridge Bojonggede mati berulang, memicu kritik terhadap respons pemerintah. Perawatan aset publik perlu ditingkatkan untuk mencegah kerusakan.]]>

Bagus Nugroho
Bagus Nugroho Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Eskalator Skybridge Bojonggede Mati dan Tanggung Jawab Pelayanan Publik

Eskalator Skybridge Bojonggede Lumpuh, Kritikan Terkait Pelayanan Publik Kian Memuncak

Eskalator yang menghubungkan Stasiun Bojonggede dengan Skybridge kembali mengalami kerusakan parah, memicu kecaman dari masyarakat terkait kualitas pelayanan publik. Fasilitas yang menjadi akses utama ribuan penumpang kereta api ini sejak beberapa hari terakhir lumpuh total, memaksa penumpang untuk menggunakan tangga berjalan yang jauh lebih melelahkan.

Kerusakan pada eskalator yang berlokasi di Jalan Raya Bojonggede, Kabupaten Bogor, ini bukan kali pertama terjadi. Menurut informasi yang dihimpun, eskalator yang baru diperbaiki beberapa bulan l ini kembali mengalami kerusakan teknis yang serius. Beberapa sumber menyebutkan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh keausan komponen kritis yang belum diganti secara menyeluruh.

Dampak pada Mobilitas Penumpang

Dampak kerusakan ini dirasakan sangat langsung oleh ribuan penumpang kereta api setiap harinya. Stasiun Bojonggede yang menjadi pintu masuk bagi warga Bogor dan sekitarnya menuju Jakarta ini memiliki tingkat kedatangan penumpang yang tinggi, terutama pada jam-jam sibuk.

"Sulit sekali, apalagi saat hujan. Kita harus naik turun tangga berjalan yang panjang, terutama untuk anak-anak dan lanjut usia," ujar salah satu penumpang yang enggan menyebut namanya. Ia menambahkan bahwa kondisi ini semakin memperparah kemacetan di sekitar stasiun, karena banyak penumpang yang memilih menggunakan ojek atau kendaraan pribadi.

Pihak pengelola stasiun mengakui bahwa kerusakan ini telah mempengaruhi layanan secara signifikan. "Kami sedang melakukan evaluasi menyeluruh terkait masalah ini. Tim teknis sedang bekerja keras untuk menemukan solusi terbaik," kata Kepala Unit Pengelola Stasiun Bojonggede, Ahmad Fauzi, dalam keterangannya.

Respons Pihak Terkait

Respons dari pihak pengelola dan pemerintah daerah dinilai masih terlambat dan tidak komprehensif. Beberapa waktu lalu, warga sudah mengeluhkan kondisi eskalator yang sering kali mogok atau berjalan tidak stabil. Namun, hingga kini solusi permanen belum ditunjukkan.

Dari sisi teknis, ahli transportasi publik mengungkapkan bahwa masalah eskalator sering terjadi di fasilitas umum serupa di Indonesia. "Masalah ini seringkali disebabkan oleh pemeliharaan yang kurang sistematis dan penggantian komponen yang tidak tepat waktu," ujar Dr. Budi Santoso, seorang pakar transportasi dari Universitas Indonesia.

Ia menambahkan bahwa pemeliharaan preventif seharusnya menjadi prioritas utama bagi pengelola fasilitas publik. "Investasi untuk pemeliharaan rutin jauh lebih efisien daripada harus menanggung biaya perbaikan besar-besaran setelah kerusakan parah terjadi," jelasnya.

Upaya Perbaikan dan Harapan Masyarakat

Pihak KAI dan pengelola stasiun mengumumkan bahwa eskalator akan diperbaiki secepat mungkin. "Kami telah menghubungi pihak penyedia jasa dan pabrik untuk memastikan komponen yang rusak diganti dengan yang asli dan berkualitas," jelas Fauzi.

Sementara itu, masyarakat menuntut solusi yang lebih permanen. "Kami tidak hanya ingin eskalator diperbaiki sementara, tetapi dijamin kualitasnya jangka panjang. Fasilitas publik harus memenuhi standar kelayakan dan kenyamanan pengguna," ungkap Siti Aminah, aktivis komunitas setempat.

Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor menyatakan akan memantau proses perbaikan dan mengevaluasi kinerja pengelola stasiun. "Kami akan memastikan bahwa fasilitas ini berfungsi dengan baik dan memenuhi kebutuhan masyarakat," ujar Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, Eko Prasetyo.

Kritikan terhadap Sistem Pemeliharaan

Insiden ini kembali menyoroti masalah sistem pemeliharaan fasilitas publik di Indonesia. Banyak fasilitas yang dibiarkan rusak parah sebelum diperbaiki, mengakibatkan kerugian materiil dan tidak materiil bagi pengguna.

Menurut data yang ada, rata-rata umur pakai eskalator di fasilitas publik Indonesia lebih singkat dibandingkan dengan negara lain. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya kualitas instalasi awal yang kurang memadai, pemeliharaan yang tidak rutin, dan penggunaan komponen pengganti yang tidak standar.

Beberapa kalangan menyerukan perlunya peraturan yang lebih ketat mengenai standar kelayakan dan pemeliharaan fasilitas publik. "Perlu adanya monitoring yang independen dan sanksi tegas bagi pengelola yang tidak memenuhi standar," tambah Budi Santoso.

Sementara itu, penumpang tetap berharap agar fasilitas publik dapat berfungsi dengan optimal. "Eskalator bukanlah fasilitas mewah, melainkan kebutuhan dasar bagi kenyamanan masyarakat. Harus ada komitmen nyata dari pihak terkait untuk menjaga kualitasnya," tutup salah satu penumpang yang frustrasi dengan kondisi ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Bagus Nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter