Ambisi Vietnam untuk meraih gelar juara Piala ASEAN 2024 atau yang kini dikenal sebagai Piala ASEAN Mitsubishi Electric Cup, mendapat sorotan tajam. Tim berjuluk The Golden Star Warriors itu disebut-sebut sebagai salah satu kandidat terkuat, bahkan banyak pihak menempatkan mereka sebagai unggulan utama untuk mengangkat trofi di ajang dua tahunan tersebut. Tekanan ekspektasi pun tak terhindarkan, dan hal itu diakui secara terbuka oleh kubu Vietnam.
Pelatih tim nasional Vietnam, Kim Sang-sik, menyatakan bahwa timnya tidak bisa menghindari beban harapan publik. Menurutnya, ekspektasi besar adalah konsekuensi wajar bagi tim yang memiliki sejarah panjang dan prestasi mumpuni di sepak bola Asia Tenggara. "Kami tahu semua orang mengharapkan Vietnam menjadi juara. Itu adalah tekanan yang harus kami terima dan kelola dengan baik," ujar Kim dalam sebuah sesi konferensi pers menjelang laga perdana.
Vietnam memang memiliki rekam jejak yang mentereng di pentas regional. Mereka pernah dua kali menjuarai Piala AFF, yakni pada 2008 dan 2018. Selain itu, Vietnam juga kerap menjadi langganan final dan semifinal, menjadikan mereka salah satu kekuatan dominan di kawasan. Namun, sejak terakhir kali juara pada 2018, Vietnam belum lagi merasakan gelar juara, meski pada edisi 2022 mereka berhasil melaju hingga babak semifinal sebelum dihentikan Indonesia.
Dinamika Grup dan Tantangan Berat
Pada edisi 2024, Vietnam tergabung di Grup B bersama Indonesia, Filipina, Myanmar, dan Laos. Grup ini dinilai cukup menantang, terutama dengan kehadiran Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan pesat. Pertemuan dengan Indonesia selalu menjadi laga bergengsi yang sarat gengsi dan tensi tinggi. Kedua tim terakhir kali bertemu di semifinal Piala AFF 2022, di mana Indonesia berhasil menyingkirkan Vietnam dengan agregat 2-0.
Kim Sang-sik menegaskan bahwa timnya tidak akan menganggap remeh lawan mana pun. "Setiap tim di grup ini punya kualitas. Kami harus fokus satu pertandingan demi satu pertandingan," katanya. Ia juga menekankan pentingnya rotasi pemain dan menjaga kebugaran fisik, mengingat jadwal padat yang harus dijalani selama turnamen berlangsung.
Vietnam akan memulai perjuangan mereka dengan menghadapi Laos pada 9 Desember 2024 di Stadion Nasional Laos, Vientiane. Setelah itu, mereka akan menjamu Indonesia di Stadion Viet Tri pada 15 Desember, sebelum menghadapi Filipina dan Myanmar. Laga melawan Indonesia diprediksi menjadi penentu siapa yang berhak lolos ke babak berikutnya sebagai juara grup atau runner-up.
Kekuatan Skuad dan Strategi Kim Sang-sik
Di bawah asuhan Kim Sang-sik, Vietnam mencoba membangun fondasi baru. Pelatih asal Korea Selatan itu dipercaya untuk menggantikan Philippe Troussier yang gagal membawa Vietnam tampil impresif di kualifikasi Piala Dunia 2026. Kim membawa sejumlah perubahan, termasuk memberi kesempatan kepada pemain muda dan memperbaiki organisasi pertahanan yang sempat menjadi titik lemah.
Beberapa nama kunci yang tetap menjadi andalan antara lain Nguyen Quang Hai, Nguyen Hoang Duc, dan Nguyen Tien Linh. Kehadiran pemain naturalisasi seperti Nguyen Xuan Son, yang sebelumnya dikenal sebagai Rafelson, juga menambah daya gedor lini depan. Xuan Son menunjukkan performa menjanjikan di liga domestik dan diharapkan menjadi solusi atas masalah ketajaman Vietnam di lini serang.
Meski demikian, Kim masih menyoroti masalah konsistensi. Dalam beberapa laga uji coba, Vietnam tampil naik-turun. Kemenangan atas tim-tim lemah sering diwarnai kesulitan menembus pertahanan rapat. "Kami harus lebih efisien dalam memanfaatkan peluang. Di turnamen seperti ini, satu kesalahan bisa berakibat fatal," ujarnya.
Ekspektasi Publik dan Tekanan Media
Di Vietnam, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan identitas nasional. Media dan penggemar memiliki ekspektasi tinggi setiap kali turnamen bergengsi digelar. Kegagalan sering kali berujung pada kritik pedas dan tuntutan evaluasi besar-besaran. Kesuksesan di Piala AFF 2018 lalu disambut dengan euforia luar biasa, bahkan menjadi momen bersejarah bagi sepak bola Vietnam.
Oleh karena itu, tekanan yang dirasakan para pemain tidak hanya datang dari lapangan, tetapi juga dari luar. Bek center Vietnam, Do Duy Manh, mengakui bahwa tekanan tersebut nyata. "Kami tahu apa yang diinginkan suporter. Kami akan berusaha keras untuk memberikan yang terbaik dan membawa pulang trofi," katanya.
Beberapa pengamat menilai bahwa kunci sukses Vietnam terletak pada kemampuan mengelola ekspektasi itu sendiri. Jika pemain terlalu terbebani, permainan bisa kaku dan tidak lepas. Namun, jika mampu mengubah tekanan menjadi motivasi, Vietnam berpeluang besar mengakhiri puasa gelar.
Piala ASEAN Mitsubishi Electric Cup 2024 diikuti oleh 10 tim yang terbagi dalam dua grup. Selain Vietnam dan Indonesia, Grup B juga diisi Filipina, Myanmar, dan Laos. Sementara Grup A dihuni Thailand, Malaysia, Singapura, Kamboja, dan Timor Leste. Turnamen ini berlangsung dari 8 Desember 2024 hingga 5 Januari 2025.
Bagi Vietnam, gelar juara bukan hanya soal prestise, tetapi juga modal penting untuk membangun kepercayaan diri menjelang kompetisi yang lebih besar, termasuk kualifikasi Piala Asia 2027. Namun, langkah pertama selalu yang paling sulit. Dan semua mata kini tertuju pada Kim Sang-sik serta pasukannya untuk membuktikan bahwa ekspektasi besar itu mampu mereka jadikan kenyataan.
Komentar (0)