Gubsu Bobby Nasution Bakal Modifikasi Cuaca untuk Kurangi Asap di Sumut
Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution mengungkapkan rencana pemerintah provinsi untuk melakukan modifikasi cuaca guna mengurangi dampak asap yang melanda sejumlah wilayah di provinsi tersebut. Langkah ini diambil menjelang musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober mendatang.
Dalam sebuah konferensi pers, Gubsu Bobby menjelaskan bahwa pemerintah provinsi telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menyiapkan berbagai upaya mitigasi bencana asap. Modifikasi cuaca menjadi salah satu strategi yang akan diterapkan.
Strategi Modifikasi Cuaca
"Kami akan melakukan modifikasi cuaca dengan cara menyebarkan benih awan (cloud seeding) di beberapa titik yang berpotensi hujan. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses presipitasi sehingga dapat menurunkan curah hujan di daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan," ujar Bobby Nasution.
Modifikasi cuaca sendiri merupakan upaya manusia untuk mengubah kondisi cuaca secara sengaja, salah satunya dengan menumbuhkan awan yang mampu menghasilkan hujan. Proses ini dilakukan dengan menyemprotkan zat kimia seperti yodium peroksida atau garam ke dalam awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Gubsu Bobby menambahkan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 miliar untuk pelaksanaan program modifikasi cuaca ini. Dana tersebut akan digunakan untuk menyediakan pesawat yang dilengkapi peralatan cloud seeding serta membeli bahan kimia yang diperlukan.
Penanganan Darurat Asap
Selain modifikasi cuaca, pemerintah provinsi juga menyiapkan berbagai langkah darurat untuk mengatasi dampak asap. Bobby mengatakan bahwa sebanyak 10.000 masker medis telah disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat terutama di daerah yang tingkat keruhannya mencapai standar tidak sehat.
"Kami juga telah mengaktifkan posko pengendalian asap di 34 kabupaten/kota se-Sumatera Utara. Di posko ini, tim akan terus memantau kondisi kualitas udara dan memberikan informasi kepada masyarakat," jelasnya.
Pihaknya juga berencana untuk melakukan penyiraman air dari udara (water bombing) di titik-titik kebakaran hutan dan lahan yang sulit diakses oleh tim pemadam. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penanggulangan api.
Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan
Untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Gubsu Bobby menginstruksikan semua pemerintah daerah di Sumut untuk melakukan penertiban lahan yang kosong dan terbakar. Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan patroli di area-area rawan kebakaran.
"Kami akan memberikan sanksi tegas bagi pelaku pembakaran lahan secara ilegal. Sanksi tersebut tidak hanya berupa denda, tetapi juga pidana penjara sesuai dengan aturan yang berlaku," tegas Bobby.
Menurut data yang dihimpun BPBD Sumut, hingga pertengahan September 2023, terdapat 125 titik kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di 18 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Total area terbakar mencapai 450 hektare dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp15 miliar.
Respons dari Masyarakat dan Ahli
Langkah yang diambil oleh Gubsu Bobby mendapatkan respons beragam dari masyarakat. Beberapa warga mendukung upaya modifikasi cuaca dengan menganggapnya sebagai solusi inovatif untuk mengatasi masalah asap yang terus terjadi setiap tahun.
"Saya harap ini berhasil. Asap sudah menjadi masalah tahunan di sini. Kalau hujan turun, tentu akan membantu mengurangi asap," ujar Ahmad, warga Medan yang sudah dua minggu mengalami iritasi karena asap.
Sementara itu, beberapa ahli lingkungan memberikan catatan terkait rencana modifikasi cuaca. Dr. Siti Nurhaliza, ahli meteorologi dari Institut Teknologi Bandung, mengatakan bahwa modifikasi cuaca dapat menjadi solusi namun perlu didukung dengan data yang akurat.
"Cloud seeding memang efektif jika dilakukan pada awan yang tepat. Jika dilakukan secara sembarangan, hasilnya tidak optimal. Selain itu, solusi jangka panjangnya tetap perlu adanya penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan," jelas Dr. Siti.
Koordinasi dengan Pusat
Gubsu Bobby juga menyatakan bahwa pemerintah provinsi terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait penanganan asap. Koordinasi ini dilakukan melalui Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
"Kami meminta bantuan dari pusat untuk menyediakan alat pemantau kualitas udara yang lebih canggih serta personel tambahan untuk penanggulangan Karhutla. Selain itu, kami juga berharap ada percepatan proses restorasi lahan yang terbakar," tambahnya.
Dengan berbagai langkah yang telah diambil, pemerintah provinsi berharap kondisi asap di Sumatera Utara dapat segera mereda dan kualitas udara kembali normal. Namun, Bobby mengingatkan bahwa penanganan asap bukan tanggung jawab pemerintah semata, melainkan memerlukan kesadaran dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.
Komentar (0)