23, 2026
Nasional

HNW Ajak Pesantren Gaungkan Resolusi Jihad Era Baru Sambut Hari Santri

Hidayat Nur Wahid dorong pesantren dan santri aktif hadapi tantangan kebangsaan. Ajak gaungkan Resolusi Jihad Era Baru untuk Indonesia Emas 2045.]]>

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

HNW Ajak Pesantren Gaungkan Resolusi Jihad Era Baru Sambut Hari Santri

HNW Ajak Pesantren Gaungkan Resolusi Jihad Era Baru Sambut Hari Santri

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengajak kalangan pesantren untuk menggaungkan semangat Resolusi Jihad dalam konteks kekinian menjelang peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober. Menurutnya, nilai perjuangan yang dahulu diikrarkan para ulama tidak boleh berhenti pada dimensi sejarah, melainkan harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata menghadapi tantangan zaman baru.

Hari Santri Nasional sendiri merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang diikrarkan pada 22 Oktober 1945. Seruan itu menjadi penanda keterlibatan kaum santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus bukti bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga kekuatan sosial-politik yang turut menentukan arah perjalanan bangsa.

Memaknai Jihad dalam Konteks Kekinian

Dalam pandangan HNW, istilah jihad pada era sekarang tidak lagi dimaknai sempit sebagai angkat senjata. Jihad era baru lebih relevan diwujudkan dalam upaya memerangi kebodohan, kemiskinan, ketimpangan, dan berbagai persoalan struktural yang masih membelenggu masyarakat. Pesantren dinilai memiliki kapasitas untuk berada di garis depan dalam agenda tersebut karena telah lama menjadi pusat pendidikan karakter dan pemberdayaan komunitas.

Ia menekankan bahwa santri perlu mengambil peran dalam penguatan literasi, termasuk literasi digital. Ruang digital yang semakin terbuka, menurutnya, membawa peluang sekaligus risiko, mulai dari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga konten yang merusak kerukunan. Santri diharapkan menjadi penjaga narasi yang menyejukkan dan mampu menyampaikan pesan keagamaan secara santun di tengah derasnya arus informasi.

Selain itu, HNW menyoroti pentingnya peran pesantren dalam merawat keberagaman. Indonesia dibangun di atas fondasi kebinekaan, dan pesantren memiliki tradisi panjang dalam mengelola perbedaan, baik antaraliran pemikiran keislaman maupun antarkelompok masyarakat. Tradisi itu dinilai sebagai modal sosial yang perlu terus dirawat agar tidak tergerus oleh polarisasi yang kerap muncul di ruang publik.

Menjaga NKRI sebagai Bagian dari Perjuangan

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu juga menempatkan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bagian dari perjuangan yang tidak terpisahkan. Menurutnya, Resolusi Jihad lahir dari kesadaran para ulama bahwa mempertahankan tanah air adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan. Karena itu, menjaga persatuan, menaati hukum, serta menolak segala bentuk tindakan yang mengancam keutuhan bangsa merupakan kelanjutan dari semangat tersebut.

Ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi generasi santri saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Ancaman tidak selalu berbentuk agresi militer, tetapi bisa berupa penetrasi ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, praktik korupsi, maupun ketidakadilan sosial. Dalam konteks inilah, kata dia, pesantren perlu membekali santri dengan wawasan kebangsaan yang kuat berbarengan dengan pendalaman ilmu agama.

Harapan pada Peringatan Hari Santri

Menjelang peringatan Hari Santri, HNW berharap momentum tahunan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni. Peringatan, menurutnya, sebaiknya dijadikan titik tolak untuk mengevaluasi kontribusi pesantren dan merumuskan langkah-langkah konkret ke depan, termasuk dalam bidang pendidikan, ekonomi umat, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan terhadap pesantren, mulai dari pengakuan atas ijazah, akses terhadap program pemberdayaan, hingga penguatan infrastruktur pendidikan. Menurutnya, pesantren yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat telah lama menjadi mitra negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga sudah semestinya memperoleh perhatian yang proporsional.

Pada bagian lain, HNW mengajak para santri untuk tidak ragu mengambil ruang di tengah masyarakat, termasuk dalam dunia usaha, profesi, dan pelayanan publik. Ia menilai kepercayaan diri santri perlu terus dibangun agar mereka mampu bersaing tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan yang telah menjadi ciri khas pesantren.

Refleksi atas Peran Ulama dan Santri

Dalam sejarahnya, Resolusi Jihad tidak dapat dilepaskan dari peran KH Hasyim Asy'ari dan para ulama yang menyerukan perlawanan terhadap penjajahan. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa, dan menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden pada 2015.

Bagi HNW, penghormatan terhadap sejarah itu perlu diwujudkan dengan meneruskan nilai-nilainya. Pesantren diharapkan tetap menjadi mercusuar moral, tempat ilmu diajarkan dan akhlak dibentuk, sekaligus menjadi kekuatan yang menyuarakan kepentingan rakyat kecil ketika menghadapi ketidakadilan.

Ia menutup dengan harapan agar peringatan Hari Santri tahun ini memperkuat ikatan antara pesantren, negara, dan masyarakat. Semangat Resolusi Jihad era baru, menurutnya, harus tampak dalam kerja-kerja kolektif membangun bangsa, bukan sekadar dalam retorika. Dengan begitu, kata dia, warisan perjuangan para ulama akan tetap hidup dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter