Kabut asap yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berimbas langsung terhadap sektor penerbangan nasional. Sejak awal Agustus, sebanyak 2.775 penerbangan dilaporkan mengalami keterlambatan (delay) maupun pembatalan di sejumlah bandara. Angka tersebut merupakan akumulasi dari gangguan operasional yang terjadi hampir setiap hari pada periode tersebut, terutama di wilayah yang berdekatan dengan titik panas karhutla.
Data itu mencakup penerbangan berjadwal domestik, rute perintis, hingga penerbangan kargo. Keterlambatan bervariasi, mulai dari 30 menit hingga lebih dari empat jam, sedangkan pembatalan umumnya terjadi ketika jarak pandang di landasan pacu turun di bawah ambang batas keselamatan penerbangan. Sebagian penerbangan juga dialihkan (divert) ke bandara terdekat yang kondisinya lebih baik.
Jarak Pandang di Bawah Standar Operasi
Penyebab utama gangguan adalah menurunnya jarak pandang akibat asap yang menyelimuti kawasan bandara. Pada kondisi normal, jarak pandang di landasan pacu dapat mencapai beberapa kilometer. Namun saat kabut asap pekat, jarak pandang tercatat hanya beberapa ratus meter sehingga tidak memenuhi kriteria untuk pendaratan maupun lepas landas.
Sejumlah bandara dilaporkan sempat menutup operasi sementara, umumnya pada pagi hari ketika asap paling tebal. Penutupan biasanya dicabut setelah jarak pandang membaik pada siang hingga sore hari. Bandara yang memiliki peralatan navigasi lengkap dan prosedur operasi jarak pandang rendah masih dapat melayani penerbangan terbatas, sementara bandara dengan fasilitas terbatas harus menghentikan layanan.
Wilayah Paling Terdampak
Gangguan penerbangan paling banyak terjadi di bandara-bandara yang berada di kawasan rawan karhutla, khususnya di Kalimantan dan Sumatra. Di Kalimantan Tengah, bandara di Palangkaraya dan Sampit berulang kali menyesuaikan jadwal penerbangan karena asap. Hal serupa terjadi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat, termasuk bandara yang melayani rute antarkota utama di wilayah tersebut.
Di Sumatra, bandara di Jambi, Palembang, dan Pekanbaru juga mencatat penundaan jadwal yang cukup sering. Sejumlah penerbangan menuju kota-kota tersebut terpaksa ditunda keberangkatannya dari bandara asal karena kondisi di bandara tujuan belum memungkinkan.
Rute Perintis Paling Rentan
Penerbangan perintis yang melayani daerah terpencil menjadi kelompok paling rentan. Pesawat kecil yang digunakan pada rute ini umumnya memiliki keterbatasan peralatan navigasi sehingga sangat bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang. Ketika asap menebal, rute perintis menjadi yang pertama dihentikan. Dampaknya dirasakan langsung oleh warga di daerah yang mengandalkan transportasi udara sebagai satu-satunya jalur cepat, termasuk untuk pengiriman obat-obatan dan kebutuhan pokok.
Dampak bagi Penumpang dan Logistik
Bagi penumpang, keterlambatan dan pembatalan menimbulkan rangkaian persoalan, mulai dari penjadwalan ulang, pengajuan pengembalian dana, hingga penumpukan di ruang tunggu bandara. Maskapai diimbau memberikan informasi yang jelas dan tepat waktu mengenai status penerbangan, serta memastikan hak penumpang terpenuhi sesuai ketentuan.
Dampak tidak berhenti pada penumpang. Pengiriman barang melalui udara, termasuk dokumen, komponen industri, dan hasil pertanian yang mudah rusak, turut mengalami penundaan. Pada sejumlah kasus, pengiriman dialihkan ke moda darat dan laut sehingga waktu tempuh menjadi lebih panjang dan biaya logistik meningkat.
Upaya Pemadaman dan Modifikasi Cuaca
Pemerintah bersama instansi terkait melakukan sejumlah langkah untuk menekan perluasan karhutla. Selain pemadaman darat oleh tim gabungan, operasi udara berupa penyiraman air dari helikopter dan pesawat pemadam terus dilakukan di titik-titik api yang sulit dijangkau. Teknologi modifikasi cuaca juga diterapkan untuk memicu hujan buatan di kawasan yang memiliki awan potensial.
Selain itu, penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar terus dijalankan. Pemerintah daerah di wilayah terdampak juga menetapkan status siaga darurat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan pendanaan dapat digunakan secara fleksibel.
Proyeksi ke Depan
Gangguan operasional penerbangan diperkirakan masih berpotensi berlanjut selama periode kemarau. Kondisi angin dan curah hujan yang rendah membuat asap mudah terbawa dan bertahan lebih lama di suatu kawasan. Karena itu, pemantauan kondisi cuaca di sekitar bandara dilakukan secara berkala, termasuk pembaruan informasi jarak pandang setiap beberapa jam.
Calon penumpang diimbau memeriksa status penerbangan sebelum berangkat ke bandara, menyiapkan waktu tambahan, serta mempertimbangkan opsi penjadwalan ulang bila kondisi cuaca di daerah tujuan memburuk. Koordinasi antara pengelola bandara, maskapai, dan penyedia jasa navigasi penerbangan disebut menjadi kunci agar keputusan penundaan maupun pembatalan dapat diambil lebih awal dan dampaknya terhadap penumpang dapat ditekan.
Komentar (0)