15, 2026
Nasional

Infografis: Rekam Jejak Kebakaran Hutan dan Lahan dalam 6 Tahun

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Rekam Jejak Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia: Analisis 6 T Terakhir

Indonesia, sebagai negara dengan hutan tropis terluas di dunia, terus menghadapi tantangan serius dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Data dari enam tahun terakhir menunjukkan pola yang menarik sekaligus memprihatinkan mengenai frekuensi, intensitas, dan dampak bencana alam ini. Infografis berikut merangkam rekam jejak kebakaran hutan dan lahan dari tahun 2017 hingga 2022, memberikan gambaran komprehensif tentang situasi yang terjadi.

Tren Kebakaran: Dari Puncak Krisis ke Penurunan Drastis

Tahun 2019 menjadi puncak kebakaran hutan dan lahan dalam enam tahun terakhir. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat lebih dari 1,6 juta hektare lahan terbakar, dengan 75 persen di antaranya merupakan area hutan. Provinsi Kalimantan Timur dan Riau menjadi provinsi dengan luas lahan terbakar terbesar, masing-masing mencapai 350 ribu hektare dan 280 ribu hektare.

Jika dibandingkan dengan tahun lainnya, tren kejadian kebakaran menunjukkan fluktuasi yang signifikan. Tahun 2017 dan 2018 mencatat angka yang relatif tinggi dengan masing-masing 1,2 juta hektare dan 990 ribu hektare lahan terbakar. Penurunan drastis terjadi pada tahun 2020 dan 2021, di mana luas lahan terbakar hanya mencapai 250 ribu hektare dan 190 ribu hektare. Penurunan ini terutama disebabkan oleh upaya pencegahan yang lebih intensif dan kondisi cuaca yang lebih basah.

Faktor Penyebab Utama Kebakaran Lahan

Analisis menyimpulkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia umumnya disebabkan oleh dua faktor utama: aktivitas manusia dan kondisi iklim. Aktivitas pembukaan lahan secara ilegal melalui metode pembakaran menjadi penyebab dominan, terutama di wilayah perkebunan dan pertanian skala besar. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa 80 persen kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia.

Sementara itu, faktor iklim memainkan peran penting dalam memperburuk situasi. Fenomena El Niño yang terjadi pada tahun 2019 menyebabkan kondisi kekeringan yang parah, membuat vegetasi menjadi sangat rawan terbakar. Curah hujan yang rendah dan suhu udara yang tinggi menciptakan kondisi ideal untuk terjadinya kebakaran lahan yang meluas.

Dampak Lingkungan dan Sosial Ekonomi

Dampak kebakaran hutan dan lahan sangat merata berdampak pada lingkungan, kesehatan, dan perekonomian. Secara lingkungan, kebakaran menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi lahan, dan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Pada puncak musim kebakaran 2019, emisi karbon dioksida dari kebakaran mencapai 1,6 miliar ton, setara dengan emisi seluruh transportasi di Eropa selama satu tahun.

Dampak kesehatan juga sangat dirasakan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area terbakar. Konsentrasi partikulat PM2,5 yang melebihi batam aman menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernafasan, infeksi saluran pernafasan atas, dan iritasi mata. Data Kementerian Kesehatan mencatat ada lebih dari 500 ribu kasus penyakit terkait polusi asap di tahun 2019.

Sektor perekonomian terdampak melalui penurunan produktivitas pertanian, gangguan transportasi akibat visi buruk, dan penurunan kunjungan wisatawan. Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonomi akibat kebakaran 2019 mencapai 5,2 miliar dolar AS atau sekitar 0,5 persen dari Produk Domestik Brute (PDB) Indonesia.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Pemerintah telah berbagai upaya untuk mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan. Implementasi kebijakan larangan pembakaran lahan, penegakan hukum terhadap pelaku, serta program restorasi gambut dan hutan menjadi pilar utama dalam kebijakan ini. Pada tahun 2021, pemerintah juga memperkenalkan Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan Berbasis Teknologi yang diintegrasikan dengan satelit dan sensor darat.

Upaya kolaborasi antarpemerintah, sektor swasta, dan masyarakat lokal juga terus ditingkatkan. Program "Desa Mandiri Gambut" yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut terbukti efektif dalam mencegah kebakaran. Di sisi lain, beberapa perusahaan besar di sektor perkebunan juga mulai menerapkan teknologi canggih dalam mengelola lahan tanpa membakar.

Meskipun terdapat penurunan kebakaran dalam dua tahun terakhir, tantangan tetap besar. Perubahan iklim yang semakin tidak menentu, pertumbuhan penduduk, serta tekanan terhadap pemanfaatan lahan membuat kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi ancaman serius yang memerlukan upaya berkelanjutan dan komprehensif dari semua pihak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter