01, 2026
Nasional

Jadi Waketum PBNU, Gus Ipang Dorong Pengembangan Technosantri

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gus Ipang Resmi Jabat Waketum PBNU, Usung Agenda Technosantri

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mencatat babak baru dalam kepengurusan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu. KH Ipang Wahid, yang akrab disapa Gus Ipang, resmi menduduki posisi Wakil Ketua Umum PBNU. Amanah baru tersebut membawa misi besar: mendorong pengembangan program yang diberi nama Technosantri, sebuah gagasan yang menghubungkan tradisi pesantren dengan penguasaan teknologi digital.

Gus Ipang dikenal sebagai figur yang lama berkecimpung dalam dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan Nahdlatul Ulama. Latar belakangnya sebagai pengasuh pesantren sekaligus akademisi membuatnya memiliki perspektif yang cukup luas mengenai tantangan yang dihadapi santri di era digital. Melalui posisinya sebagai Wakil Ketua Umum, ia berencana menjadikan Technosantri sebagai salah satu program prioritas yang menyentuh langsung kebutuhan warga nahdliyin, khususnya generasi muda.

Konsep Technosantri: Antara Tradisi dan Teknologi

Technosantri merupakan istilah yang menggabungkan dua kata, yakni teknologi dan santri. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa dunia pesantren tidak bisa lagi berdiri terpisah dari perkembangan teknologi informasi. Selama ini, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang kuat dalam pengajaran ilmu agama, akhlak, dan tradisi keilmuan klasik. Namun, tantangan zaman menuntut pesantren untuk juga membekali para santrinya dengan keterampilan yang relevan di dunia kerja modern.

Gus Ipang menilai bahwa santri memiliki modal dasar yang kuat untuk terjun ke bidang teknologi. Kedisiplinan, kemampuan membaca teks klasik, serta tradisi diskusi yang hidup di pesantren, menurutnya, merupakan bekal yang tidak kecil untuk mempelajari logika pemrograman, analisis data, maupun literasi digital. Ia berharap program Technosantri tidak berhenti pada pengenalan perangkat, tetapi benar-benar membentuk kompetensi yang bisa dipakai santri untuk berkontribusi di masyarakat.

Dalam berbagai forum, Gus Ipang kerap menegaskan bahwa penguasaan teknologi bukan berarti meninggalkan nilai-nilai pesantren. Justru sebaliknya, teknologi dipandang sebagai alat untuk memperkuat penyebaran nilai keislaman yang moderat dan rahmatan lil alamin. Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan PBNU yang ingin memperluas manfaat organisasi bagi umat melalui pemanfaatan sumber daya manusia yang unggul.

Fokus Pengembangan dan Sasaran Program

Pengembangan Technosantri diarahkan pada beberapa fokus utama. Pertama, peningkatan literasi digital di kalangan santri dan pengelola pesantren. Kedua, penguatan kapasitas ekonomi pesantren melalui pemanfaatan teknologi, misalnya dalam pemasaran produk, pengelolaan administrasi, dan pengembangan usaha berbasis digital. Ketiga, penyiapan sumber daya manusia yang mampu bersaing di sektor industri kreatif dan teknologi.

Gus Ipang juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pengembangan Technosantri tidak bisa dikerjakan sendiri oleh PBNU. Diperlukan kerja sama dengan kementerian, dunia usaha, perguruan tinggi, serta komunitas teknologi. Kolaborasi ini dinilai penting agar program yang dirancang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki kurikulum yang jelas, pendampingan yang berkelanjutan, dan tolok ukur keberhasilan yang terukur.

Sejumlah kalangan menyambut baik gagasan tersebut. Mereka menilai Technosantri dapat menjadi jembatan antara kebutuhan pasar kerja digital yang terus tumbuh dan keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Jika dijalankan secara konsisten, program ini berpotensi melahirkan generasi santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga mampu menciptakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski demikian, pengembangan Technosantri menghadapi sejumlah tantangan. Kesenjangan infrastruktur antara pesantren di perkotaan dan di daerah terpencil masih menjadi persoalan nyata. Akses internet yang belum merata, keterbatasan perangkat, serta kurangnya tenaga pengajar yang menguasai teknologi menjadi kendala yang harus diatasi secara bertahap. Gus Ipang menyadari hal itu dan menekankan pentingnya pemetaan kebutuhan di masing-masing wilayah sebelum program dijalankan secara luas.

Selain infrastruktur, tantangan lain adalah membangun kesadaran di lingkungan pesantren bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan peluang. Pendekatan yang digunakan, menurut rencana Gus Ipang, akan bersifat partisipatif dan menghormati karakteristik masing-masing pesantren. Dengan cara itu, program Technosantri diharapkan dapat diterima tanpa menimbulkan resistensi, sekaligus tetap menjaga identitas pesantren sebagai lembaga pendidikan agama.

Pengangkatan Gus Ipang sebagai Wakil Ketua Umum PBNU dengan agenda Technosantri menjadi penanda bahwa Nahdlatul Ulama terus berupaya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Bagi warga nahdliyin, langkah ini menjadi harapan baru bahwa santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga pelaku perubahan di era digital. Keberhasilan program ini pada akhirnya akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan, dukungan berbagai pihak, serta keterlibatan aktif dari pesantren dan santri itu sendiri.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter