Kapal Basarnas Diluncurkan untuk Mencari Lima Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) telah meluncurkan operasi pencarian bagi lima jurnalis yang dilaporkan hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Kapal pencarian dikerahkan ke lokasi perairan dekat pulau vulkanik tersebut setelah muncul laporan bahwa para wartawan tidak kembali ke tempat pertemuan yang telah ditentukan.
Kepala Basarnas Marsda TNI (Purn) Bambang Soelistyo mengatakan timnya telah menerima laporan hilangnya para jurnalis pada Rabu malam. "Kami langsung merespons dengan mengirimkan kapal pencarian ke lokasi terkait. Cuaca di sekitar Anak Krakatau saat ini masih dalam kondisi yang memungkinkan untuk operasi pencarian," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Basarnas, Jakarta, Kamis (15/2).
Identitas Para Jurnalis yang Hilang
Para jurnalis yang hilang terdiri dari tiga wartawan dari satu stasiun televisi swasta dan dua jurnalis dari portal berita online. Mereka sedang meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali meningkat sejak awal bulan ini. Tim wartawan tersebut berangkat pada Rabu pagi dengan menggunakan perahu nelayan lokal untuk mendekati area perairan dekat pulau.
"Para jurnalis tersebut melapor akan meliput dari jarak aman. Namun, mereka tidak kembali ke pelabuhan seperti yang direncanakan pada pukul 17.00 WIB. Kami sudah menghubungi keluarga mereka dan semua pihak terkait," jelas Juru Bicara Basarnas Julius Widjojo.
Kondisi Vulkanik Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau telah menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat sejak Januari 2024. Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat terjadi 38 kali gempa tektonik, 65 kali gempa vulkanik dangkal, dan 4 kali gempa erupsi dalam sepekan terakhir.
"Anak Krakatau saat ini berstatus level II (Waspada) dengan potensi erupsi terus berlanjut. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan menjaga jarak minimal 2 kilometer dari puncak kawah," kata Kepala PVMBG Abdul Muhari dalam keterangannya.
Erupsi terjadi dengan tinggi kolom abu mencapai 500-800 meter di atas puncak kawah. Arah angin saat ini membawa abu vulkanik ke arah barat daya, yang berpotensi mempengaruhi pelayaran di sekitar perairan Selat Sunda.
Proses Pencarian yang Dilakukan
Operasi pencarian yang dipimpin Basarnas melibatkan dua kapal, yaitu KRI Rigel dan KRI Sinaboi. Tim penyelamat juga menggunakan drone untuk memantau area dari udara dan satelit untuk menentukan posisi terakhir para jurnalis.
"Kami menggunakan pendekatan multi-sektoral. Selain kapal, kami juga bekerja sama dengan TNI AL, Polri, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan operasi berjalan efektif," tambah Julius.
Tim Basarnas juga telah mengerahkan tim penyelam profesional untuk melakukan pencarian di bawah permukaan air. Kedalaman perairan di sekitar Anak Krakatau bervariasi, dengan beberapa titik mencapai lebih dari 100 meter.
Kendala dalam Operasi Pencarian
"Kami harus waspada terhadap potensi tsunami yang mungkin disebabkan oleh longsoran material di bawah laut. Anak Krakatau dikenal memiliki risiko longsoran yang tinggi," jelas seismolog dari PVMBG, Ratdomopurbo.
Basarnas meminta masyarakat untuk memberikan informasi seputar keberadaan para jurnalis hilang. Setiap informasi dapat disampaikan ke hotline Basarnas atau melalui aplikasi Basarnas Rescue yang tersedia di smartphone.
Respons dari Industri Media
Asosiasi Televisi Indonesia (ATVSI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan keprihatinan atas kejadian ini. Kedua organisasi meminta agar pihak berwenang memberikan prioritas maksimal dalam pencarian para jurnalis.
Sementara itu, AJI bersiap memberikan bantuan hukum dan psikologis bagi keluarga jurnalis yang hilang jika ditemukan dalam kondisi tidak selamat.
Operasi pencarian berlanjut dengan harapan para jurnalis dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Basarnas berjanji akan terus melakukan upaya pencarian hingga semua tim ditemukan.
Komentar (0)