04, 2026
Teknologi

Kisah Robohnya Kerajaan Bisnis Salim Usai Berjaya 3 Dekade

Sudono Salim, konglomerat Indonesia, mengalami kejayaan dan kehancuran akibat kedekatannya dengan Soeharto. Kini, bisnisnya mulai bangkit kembali.]]>

Vino Pratama
Vino Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kisah Robohnya Kerajaan Bisnis Salim Usai Berjaya 3 Dekade

Kisah Robohnya Kerajaan Bisnis Salim Usai Berjaya Tiga Dekade

Nama Salim Group selama lebih dari tiga dekade menjadi simbol kekuatan konglomerasi Indonesia. Didirikan oleh Sudono Salim, yang lahir dengan nama Liem Sioe Liong, kelompok usaha ini tumbuh dari sebuah usaha kecil perdagangan hasil bumi di Kudus, Jawa Tengah, menjadi salah satu imperium bisnis terbesar di Asia Tenggara. Kejayaannya tidak terlepas dari kedekatan dengan kekuasaan pada masa Orde Baru, terutama melalui hubungan personal dengan Presiden Soeharto. Namun, ketika rezim yang menopangnya runtuh pada 1998, kerajaan bisnis itu ikut goyah dan nyaris roboh dalam hitungan bulan.

Perjalanan Salim Group dimulai pada 1950-an. Liem Sioe Liong, yang saat itu berdagang di Kudus, menjalin kerja sama dengan sejumlah perwira militer di Jawa Tengah. Kerja sama itu menjadi pintu masuk bagi ekspansi bisnisnya. Dari perdagangan cengkih, kopi, dan hasil bumi lain, ia beralih ke sektor manufaktur, perbankan, properti, hingga industri makanan. Pada 1969, bersama sejumlah mitra, ia mendirikan PT Bogasari Flour Mills, yang kemudian memperoleh lisensi impor gandum dan monopoli penggilingan tepung nasional. Lisensi itu menjadi salah satu fondasi utama kekayaan Salim Group.

Puncak kejayaan Salim Group terjadi pada dekade 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Grup ini menguasai sejumlah perusahaan besar, termasuk Bank Central Asia (BCA), Indofood, Indocement, dan sejumlah perusahaan perkebunan serta properti. BCA tumbuh menjadi bank swasta terbesar di Indonesia dengan jaringan kantor cabang yang luas. Indofood menguasai pangsa pasar mi instan nasional melalui merek Indomie. Indocement menjadi salah satu produsen semen terbesar di Tanah Air. Salim Group juga merambah sektor otomotif, petrokimia, dan perdagangan internasional. Pada 1996, majalah Forbes menempatkan Sudono Salim sebagai salah satu orang terkaya di Asia dengan kekayaan yang ditaksir mencapai miliaran dolar Amerika Serikat.

Krisis 1998 dan Runtuhnya Penopang Kekuasaan

Krisis moneter yang melanda Asia pada 1997 menjadi titik balik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok dari sekitar Rp2.400 menjadi lebih dari Rp14.000 pada awal 1998. Perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS, termasuk sejumlah entitas Salim Group, mengalami tekanan hebat. Beban utang membengkak sementara pendapatan dalam rupiah merosot. BCA, yang menjadi tulang punggung keuangan grup, menghadapi penarikan dana besar-besaran oleh nasabah. Pada Mei 1998, setelah kerusuhan dan jatuhnya Soeharto, pemerintah menempatkan BCA di bawah pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Bank itu kemudian diambil alih pemerintah, dan Salim Group kehilangan kendali atas salah satu aset paling berharganya.

Kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998 menghilangkan proteksi politik yang selama puluhan tahun menopang Salim Group. Pemerintahan berikutnya, di bawah Presiden B.J. Habibie, mengambil langkah-langkah reformasi yang mencabut berbagai hak istimewa yang dinikmati kelompok usaha itu. Monopoli impor gandum dan sejumlah lisensi eksklusif lain ditinjau ulang. Sudono Salim, yang saat itu berada di luar negeri, menghadapi pemeriksaan atas dugaan penyimpangan. Ia sempat tidak kembali ke Indonesia selama beberapa tahun. Aset-aset Salim Group di dalam negeri satu per satu dilepas untuk membayar utang dan memenuhi kewajiban kepada negara.

Indocement dilepas ke pihak lain, begitu pula sejumlah perusahaan perkebunan dan properti. Indofood tetap bertahan, tetapi kepemilikan dan kendalinya berubah. Salim Group juga harus menyerahkan sejumlah aset kepada BPPN sebagai bagian dari penyelesaian utang. Meski demikian, Salim Group tidak sepenuhnya hilang. Grup ini melakukan restrukturisasi besar-besaran, memindahkan sebagian bisnisnya ke luar negeri, dan kembali mengembangkan usaha di sektor makanan, agribisnis, dan infrastruktur melalui entitas-entitas baru. Namun, skala dan pengaruhnya tidak lagi seperti pada masa kejayaannya.

Warisan dan Pelajaran dari Kejatuhan Salim Group

Robohnya kerajaan bisnis Salim Group menjadi pelajaran penting tentang hubungan antara dunia usaha dan kekuasaan. Selama puluhan tahun, pertumbuhan grup ini sangat bergantung pada kedekatan dengan elite politik dan berbagai fasilitas negara. Ketika fondasi politik itu lenyap, struktur bisnis yang dibangun di atasnya tidak mampu bertahan menghadapi guncangan ekonomi. Krisis 1998 memperlihatkan kerentanan konglomerasi yang memiliki utang besar dalam valuta asing dan tidak memiliki manajemen risiko yang memadai.

Hingga kini, nama Salim Group masih terdengar dalam peta bisnis Indonesia, terutama melalui Indofood dan sejumlah perusahaan lain. Namun, era ketika satu grup usaha bisa menguasai begitu banyak sektor strategis dan memiliki pengaruh politik luar biasa telah berakhir. Kisah kejatuhan Salim Group menjadi cermin bagi pelaku usaha bahwa ketergantungan pada kekuasaan, tanpa tata kelola perusahaan yang kuat dan diversifikasi yang sehat, menyimpan risiko besar. Ketika kekuasaan berganti, bisnis pun harus menghadapi kenyataan yang keras.

Sudono Salim meninggal dunia pada 2012 dalam usia 96 tahun. Ia dikenang sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Namun, kisah kejayaan dan keruntuhan kerajaan bisnisnya tetap menjadi babak penting yang menggambarkan bagaimana ekonomi dan politik saling terkait erat di Indonesia selama lebih dari tiga dekade.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Vino Pratama

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter