Langkah kaki Arbas terdengar pelan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan kampungnya dengan pasar tradisional di kecamatan. Pria berusia 63 tahun itu sudah terbiasa menempuh rute tersebut setiap dua hari sekali, menjajakan dagangan sayur dan buah hasil kebunnya sendiri. Ia bukan pedagang besar, bukan pula pemilik lahan luas. Hanya sepetak tanah warisan orang tua yang ia garap dengan tekun sejak muda.
Siang itu, matahari cukup terik. Arbas memilih berteduh di bawah pohon sukun besar di tepi jalan. Ia meletakkan keranjang dagangannya, lalu duduk bersandar pada akar pohon yang menonjol. Tidak lama kemudian, seorang pemuda datang menghampiri, membawa botol air mineral dan menyapanya dengan ramah.
Pemuda itu bernama Rian, mahasiswa yang sedang melakukan penelitian sosial di daerah tersebut. Ia tertarik mendengar cerita-cerita hidup orang kampung, terutama mereka yang telah melewati berbagai zaman. Pertemuan singkat itu berubah menjadi percakapan panjang yang berlangsung hampir satu jam.
Pelajaran dari Masa Lalu
Arbas bercerita tentang masa mudanya. Ia mengaku pernah menjadi orang yang angkuh. Ketika muda, ia merasa lebih pintar, lebih kuat, dan lebih mampu daripada orang lain. Ia pernah menolak membantu tetangga yang kesulitan karena menganggap itu bukan urusannya. Ia juga pernah meremehkan petani lain yang hasil panennya tidak sebanyak miliknya.
"Saya dulu merasa paling hebat," kata Arbas. "Sampai suatu hari, gagal panen besar-besaran. Hama menyerang, musim kemarau panjang. Saya kehilangan hampir semua yang saya tanam."
Kejadian itu menjadi titik balik. Arbas bercerita bagaimana tetangga-tetangga yang dulu ia remehkan justru datang membantu. Mereka berbagi benih, meminjamkan alat, bahkan memberi pinjaman uang tanpa bunga. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengungkit kesombongan Arbas di masa lalu.
"Di situ saya sadar, sombong itu tidak ada gunanya. Kita semua bisa jatuh kapan saja," ujarnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Memaknai Kesederhanaan
Rian mendengarkan dengan saksama. Ia mencatat beberapa hal, tetapi lebih banyak diam. Baginya, cerita Arbas bukan sekadar data penelitian, melainkan nasihat hidup yang jarang ia dengar dari orang seusia itu.
Arbas melanjutkan bahwa kesederhanaan bukan berarti kekurangan. Menurutnya, sederhana adalah cara hidup yang sadar bahwa segala sesuatu bisa berubah. Orang yang sombong, katanya, biasanya lupa bahwa keberhasilan tidak pernah sepenuhnya hasil usaha sendiri. Ada faktor lain, ada bantuan orang lain, ada takdir yang menentukan.
"Kalau kita punya lebih, jangan dipamerkan. Kalau kita punya ilmu, jangan direndahkan orang lain. Semua itu titipan," tuturnya.
Ia mencontohkan bagaimana ia kini selalu menyisihkan sebagian hasil kebunnya untuk dibagikan kepada tetangga yang membutuhkan. Bukan karena ia kaya, tetapi karena ia pernah merasakan bagaimana rasanya tidak punya apa-apa.
Pesan yang Mengendap
Menjelang sore, Arbas bersiap melanjutkan perjalanan. Ia mengangkat keranjangnya, mengucapkan terima kasih kepada Rian yang telah menemani bicara. Sebelum pergi, ia menyampaikan satu pesan singkat.
"Jangan pernah sombong. Hidup itu berputar. Hari ini di atas, besok bisa di bawah. Yang penting, kita tetap jadi orang yang berguna," ucapnya.
Rian berdiri memandang punggung Arbas yang perlahan menjauh. Dalam hati, ia merasa baru saja mendapatkan pelajaran yang tidak akan ia temukan di ruang kuliah. Sebuah pesan sederhana dari seorang petani tua, tetapi sarat makna.
Kisah sejam bersama Arbas bukanlah kisah luar biasa. Tidak ada peristiwa besar, tidak ada tokoh terkenal. Namun, di dalamnya terkandung nilai yang sering terlupakan: kerendahan hati. Sesuatu yang mungkin terdengar klise, tetapi selalu relevan dalam kehidupan sehari-hari, kapan pun dan di mana pun.
Komentar (0)