Kondisi Kualitas Udara di Kalimantan dan Sumatra Hari Ini Imbas Kebakaran Hutan
Indeks Kualitas Udara (IKU) di sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra mencatat kondisi tidak sehat akibat dampak kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan data dari Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di kedua pulau, beberapa lokasi bahkan mencapai kategori sangat tidak sehat sejak pagi hari ini.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Agus Wibowo mengatakan bahwa kondisi udara di wilayah Kalimantan Tengah dan Riau tercatat paling buruk. "Indeks PM10 di beberapa titik di Kalimantan Tengah telah melampahi batas normal 150 mikrogram per meter kubik, mencapai angka 250 mikrogram per meter kubik," ujarnya dalam keterangannya, Kamis (15/9).
Wilayah Terdampak Utama
Di Provinsi Riau, kota Dumai dan Pekanbaru menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk. IKU di Pekanbaru mencapai angka 234, berada dalam kategori sangat tidak sehat. Sementara itu, di Dumai, indeksnya mencapai 198, masih dalam kategori tidak sehat. "Kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma," jelas Agus.
Wilayah lain di Sumatra yang juga terdampak antara lain Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Di Jambi, kota Kuala Tungkal mencatat IKU sebesar 187, sementara di Muara Bungo mencapai 165. Kondisi serupa juga terjadi di Bengkulu dengan IKU mencapai 179 di kota Bengkulu dan 192 di Mukomuko.
Sementara itu di Kalimantan, selain Kalimantan Tengah, wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur juga mengalami penurunan kualitas udara. Palangkaraya mencatat IKU sebesar 245, Banjarmasa 178, dan Samarinda 189.
Penyebab Utama Kebakaran
Kepala Pusat Klimatologi BMKG, Miming Prasetyo, menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra terjadi akibat beberapa faktor. "Faktor utamanya adalah kondisi kekeringan yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah di dua pulau tersebut," katanya.
Menurut data BMKG, curah hujan di wilayah Kalimantan dan Sumatra masih rendah, dengan rata-rata curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan. "Selain itu, adanya praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar masih menjadi masalah serius meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan," tambah Miming.
Kebakaran hutan dan lahan juga didorong oleh adanya potensi kebakaran bawah tanah (peatland fire) yang sulit dipadamkan. "Kondisi gambut yang kering dan terpapar matahari rawan terbakar bahkan tanpa api pembakar langsung," jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah.
Dampak Kesehatan dan Tindakan Pemerintah
Dampak buruk dari kualitas udara yang buruk mulai dirasakan oleh masyarakat. RSUD Pekanbaru melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan gangguan pernafasan sejak seminggu terakhir. "Kami mencatat adanya peningkatan 30 persen pasien dengan gejasma, infeksi saluran pernapasan atas, dan gangguan paru-paru," kata Kepala RSUD Pekanbaru dr. Ahmad Fauzi.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah. "Kami telah mengaktifkan tim rapid response untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, kami juga mempersiapkan masker medis untuk distribusi kepada masyarakat di wilayah terdampak," ujar Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar.
Pemerintah juga mengerahkan sebanyak 500 personel dari TNI/Polri, Basarnas, dan petugas damkar untuk melakukan penanggulangan api di titik-titik kebakaran. "Selain itu, kami juga menggunakan dua unit pesawat untuk melakukan operasi penyiraman air dari udara," tambahnya.
Masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit paru-paru. Selain itu, disarankan juga untuk melakukan kegiatan di ruangan tertutup dan menggunakan alat pendukung napas seperti humidifier untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Komentar (0)