30, 2026
Nasional

KRL Makin Padat, Penumpang Tembus 1,1 Juta Sehari

Jumlah penumpang KRL Jabodetabek melonjak menjadi 1,1 juta per hari, memicu kebutuhan penambahan 104 trainset untuk 2026.]]>

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

KRL Makin Padat, Penumpang Tembus 1,1 Juta Sehari

Volume penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di wilayah Jabodetabek terus mencatatkan rekor baru. Data terbaru menunjukkan rata-rata harian pengguna KRL kini menembus angka 1,1 juta orang per hari kerja. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah operasional layanan kereta komuter di Indonesia dan menandai babak baru mobilitas warga di kawasan penyangga ibu kota.

Pertumbuhan Penumpang yang Tidak Pernah Surut

Peningkatan jumlah penumpang KRL terjadi secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum pandemi COVID-19 melanda pada awal 2020, rata-rata harian penumpang KRL berkisar di angka 850 ribu hingga 950 ribu orang pada hari kerja. Ketika pembatasan mobilitas diterapkan, angka tersebut anjlok drastis hingga di bawah 300 ribu penumpang per hari. Namun, setelah pembatasan dicabut dan aktivitas ekonomi kembali normal, jumlah pengguna KRL melesat naik melampaui level sebelum pandemi.

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) selaku operator mencatat bahwa pemulihan terjadi lebih cepat dari perkiraan. Pada 2022, rata-rata harian penumpang sudah kembali menembus 700 ribu orang. Setahun berselang, angka itu naik menjadi sekitar 900 ribu penumpang per hari kerja. Kini, dengan pencapaian 1,1 juta penumpang harian, KRL menjadi salah satu sistem transportasi massal dengan tingkat okupansi tertinggi di Asia Tenggara.

Peningkatan ini tidak terlepas dari berbagai faktor. Pertama, pertumbuhan kawasan hunian di Bodetabek—Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi—yang terus meluas mendorong semakin banyak warga memilih KRL sebagai moda transportasi utama menuju Jakarta. Kedua, kebijakan ganjil-genap dan tarif parkir tinggi di pusat kota membuat penggunaan kendaraan pribadi semakin tidak ekonomis. Ketiga, integrasi tarif antarmoda melalui Jak Lingko dan perluasan rute feeder semakin memudahkan perpindahan penumpang dari rumah menuju stasiun.

Dampak Kepadatan di Jam Sibuk

Kepadatan penumpang paling terasa pada jam-jam sibuk, yakni antara pukul 05.00 hingga 09.00 WIB dan pukul 16.00 hingga 20.00 WIB. Pada rentang waktu tersebut, okupansi kereta sering kali mencapai 100 persen bahkan lebih, terutama di rute-rute utama seperti Bogor–Jakarta Kota, Bekasi–Jakarta Kota, dan Tangerang–Duri.

Antrean panjang kerap terjadi di stasiun-stasiun besar seperti Manggarai, Tanah Abang, Sudirman, dan Juanda. Calon penumpang harus datang lebih awal atau bersabar menunggu beberapa kereta sebelum akhirnya bisa naik. Di dalam kereta, kondisi berdesakan menjadi pemandangan sehari-hari. Meski demikian, sebagian besar penumpang memaklumi keadaan tersebut karena KRL dinilai tetap lebih cepat dan murah dibandingkan moda transportasi lain.

Pemerintah dan operator terus berupaya mengatasi kepadatan. Berbagai langkah telah dan akan dilakukan, mulai dari penambahan armada, perbaikan jalur, hingga digitalisasi sistem tiket. Namun, laju pertumbuhan penumpang tampaknya masih lebih cepat dibandingkan kapasitas yang tersedia.

Upaya Peningkatan Kapasitas dan Layanan

PT KCI bersama Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menyusun sejumlah strategi untuk mengurai kepadatan. Salah satunya adalah mendatangkan rangkaian kereta baru dari PT Industri Kereta Api (INKA). Pada 2023, sejumlah kereta baru telah beroperasi, dan pengadaan tambahan terus dilakukan secara bertahap. Kereta-kereta baru ini memiliki kapasitas angkut lebih besar serta dilengkapi sistem pendingin dan informasi perjalanan yang lebih modern.

Selain penambahan armada, operator juga meningkatkan frekuensi perjalanan. Jika sebelumnya jarak antarkereta (headway) pada jam sibuk mencapai 8–10 menit, kini di beberapa rute headway dapat ditekan hingga 5–7 menit. Upaya ini didukung oleh perbaikan prasarana sinyal dan jalur ganda di sejumlah segmen.

Digitalisasi layanan juga menjadi fokus. Aplikasi KRL Access memungkinkan penumpang memantau posisi kereta secara real-time, membeli tiket, dan merencanakan perjalanan. Sistem pembayaran nontunai dengan kartu uang elektronik dan QRIS semakin mengurangi waktu antre di loket. Ke depan, operator berencana menerapkan sistem tarif berbasis waktu (time-based pricing) untuk mendistribusikan penumpang agar tidak menumpuk pada jam tertentu.

Tantangan Integrasi dan Keselamatan

Meningkatnya jumlah penumpang juga membawa tantangan baru, terutama terkait aspek keselamatan dan keamanan. Petugas di stasiun dan di dalam kereta dituntut lebih sigap mengatur arus penumpang, terutama saat terjadi keterlambatan atau gangguan perjalanan. Insiden penumpang terjepit pintu atau jatuh dari peron masih sesekali terjadi, meski frekuensinya menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, integrasi antarmoda belum sepenuhnya mulus. Meski sudah terhubung dengan TransJakarta, MRT, dan LRT di beberapa titik, masih ada stasiun yang jarak transfernya cukup jauh atau minim fasilitas penyeberangan. Hal ini membuat perpindahan antarmoda kurang nyaman, terutama bagi penumpang lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Pemerintah daerah dan pusat diharapkan terus berkoordinasi memperbaiki konektivitas. Pembangunan akses langsung dari stasiun ke halte atau terminal menjadi salah satu prioritas dalam rencana induk transportasi Jabodetabek. Dengan demikian, KRL tidak hanya menjadi tulang punggung mobilitas, tetapi juga bagian dari ekosistem transportasi yang terintegrasi penuh.

Proyeksi ke Depan

Dengan tren pertumbuhan yang ada, sejumlah pengamat transportasi memperkirakan rata-rata penumpang KRL harian bisa mencapai 1,3 hingga 1,5 juta orang dalam lima tahun ke depan. Angka ini menuntut perencanaan kapasitas yang matang, termasuk kemungkinan pengoperasian jalur khusus KRL atau pengembangan rute lingkar (loop line) untuk mengurangi beban di stasiun-stasiun transit utama.

Pemerintah juga didorong mempercepat pembangunan proyek-proyek strategis seperti MRT fase berikutnya dan LRT terintegrasi, agar beban KRL tidak semakin berat. Diversifikasi moda transportasi massal menjadi kunci agar masyarakat tetap mendapat layanan yang layak tanpa harus selalu berdesakan di dalam kereta.

Pada akhirnya, lonjakan penumpang KRL mencerminkan keberhasilan peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Namun, keberhasilan ini harus diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan secara menyeluruh. Tanpa itu, kepercayaan masyarakat yang sudah terbangun bisa tergerus, dan upaya mengurangi kemacetan serta polusi di Jabodetabek akan kembali menemui jalan buntu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter