30, 2026
Nasional

Kucing Berkostum di Surabaya Terlihat Lemas, Pemilik Bantah Beri Obat Tidur

Pemilik kucing tersebut membantah tudingan kucing diberi obat tidur agar tenang.]]>

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kucing Berkostum di Surabaya Terlihat Lemas, Pemilik Bantah Beri Obat Tidur

Kucing Berkostum di Surabaya Terlihat Lemas, Pemilik Bantah Beri Obat Tidur

Seekor kucing berbulu putih yang tampil mengenakan kostum dalam sebuah pertunjukan di Surabaya, Jawa Timur, menjadi perbincangan luas di media sosial setelah videonya beredar dan menuai kecaman dari warganet. Dalam rekaman yang beredar, kucing tersebut terlihat tidak banyak bergerak dan tampak lemas saat berada di atas panggung bersama sejumlah orang yang mengenakan pakaian karakter. Kondisi hewan itu memicu dugaan bahwa ia telah dibius atau diberi obat tidur agar tetap tenang selama pertunjukan berlangsung.

Viralnya video tersebut membuat sejumlah komunitas pecinta hewan dan pengguna media sosial mendesak pemilik untuk memberikan penjelasan. Mereka menilai penampilan kucing berkostum di keramaian berpotensi menimbulkan stres pada hewan, terlebih jika dilakukan tanpa memperhatikan kesejahteraan satwa. Sebagian warganet juga mempertanyakan apakah kucing tersebut benar-benar dalam kondisi sehat saat dijadikan bagian dari atraksi hiburan.

Pemilik Membantah Tuduhan Pemberian Obat Tidur

Menanggapi tuduhan yang berkembang, pemilik kucing membantah keras bahwa hewan peliharaannya diberi obat tidur atau zat penenang apa pun. Ia menegaskan bahwa kucing tersebut memang memiliki karakter yang tenang dan terbiasa berada di dekat manusia, sehingga tidak memerlukan obat untuk membuatnya tetap diam selama pertunjukan. Menurutnya, gerakan yang terbatas dalam video yang viral bukan akibat pembiusan, melainkan bagian dari perilaku alami kucing yang sedang beristirahat di antara sesi pertunjukan.

Pemilik juga menyatakan bahwa kucing tersebut telah lama dipelihara dan diperlakukan dengan baik, termasuk rutin diberi makan, dibersihkan, serta diperiksakan kesehatannya. Ia menolak anggapan bahwa dirinya mengeksploitasi hewan untuk kepentingan komersial tanpa memperhatikan kesejahteraan kucing. Sebaliknya, pemilik mengklaim kostum yang dikenakan kucing dirancang ringan dan tidak menyiksa, serta digunakan hanya dalam waktu singkat.

Respons Komunitas Pecinta Hewan dan Pemerhati Satwa

Meski pemilik telah membantah, sejumlah pegiat kesejahteraan hewan tetap mendesak adanya pemeriksaan lebih lanjut. Mereka menilai penampilan hewan di ruang publik yang ramai, apalagi dengan kostum yang tidak alami bagi kucing, dapat menimbulkan tekanan psikologis. Kucing dikenal sebagai hewan yang sensitif terhadap suara keras, kerumunan orang, dan lingkungan asing. Kondisi seperti itu, menurut para pemerhati, berpotensi membuat kucing mengalami stres akut yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Beberapa organisasi perlindungan hewan menyarankan agar pemilik maupun penyelenggara acara berkonsultasi dengan dokter hewan sebelum melibatkan kucing dalam pertunjukan. Mereka juga mendorong adanya aturan jelas mengenai keterlibatan hewan dalam kegiatan hiburan, termasuk batas waktu, kondisi lingkungan, dan pengawasan kesehatan. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah praktik eksploitasi yang merugikan satwa.

Aspek Hukum dan Perlindungan Hewan

Di Indonesia, perlindungan terhadap hewan telah diatur dalam berbagai regulasi, termasuk ketentuan yang melarang tindakan penganiayaan terhadap hewan. Pemberian obat atau zat tertentu kepada hewan tanpa alasan medis dapat dikategorikan sebagai bentuk penganiayaan apabila terbukti menimbulkan penderitaan. Namun, pembuktian dugaan semacam ini memerlukan pemeriksaan medis oleh tenaga ahli, bukan sekadar penilaian dari rekaman video yang beredar di media sosial.

Hingga saat ini belum ada laporan resmi yang menyatakan bahwa kucing tersebut benar-benar diberi obat tidur. Pihak berwenang belum mengeluarkan pernyataan terkait kasus ini. Karena itu, warganet diimbau tidak menyimpulkan secara sepihak dan menyerahkan proses klarifikasi kepada pihak-pihak yang berkompeten, termasuk dokter hewan dan instansi terkait.

Pelajaran bagi Penyelenggara Acara dan Pemilik Hewan

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keterlibatan hewan dalam pertunjukan publik membutuhkan pertimbangan etis yang serius. Kesejahteraan hewan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar daya tarik hiburan. Pemilik perlu memahami karakter dan kebutuhan hewan peliharaannya, sementara penyelenggara acara harus memastikan tidak ada unsur paksaan atau tekanan yang merugikan satwa.

Selain itu, penting bagi masyarakat untuk menyampaikan kepedulian terhadap hewan dengan cara yang tepat, misalnya melalui pelaporan kepada lembaga perlindungan hewan atau instansi berwenang, bukan dengan menghakimi secara langsung tanpa bukti. Diskusi yang sehat dan berbasis fakta akan lebih efektif dalam mendorong perbaikan praktik perlakuan terhadap hewan di ruang publik.

Sampai saat ini, video kucing berkostum di Surabaya masih menjadi perbincangan, dengan sebagian pihak menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Terlepas dari perdebatan yang terjadi, kasus ini membuka ruang diskusi mengenai batas antara hiburan dan kesejahteraan hewan yang perlu dijawab bersama oleh pemilik, penyelenggara, pemerintah, dan masyarakat luas.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter