21, 2026
Internasional

Lagi Viral Gaya Berpakaian Ala Anak Orang 'Have', Begini Cirinya

Tren Hyunbaek-core di Korea Selatan menarik perhatian anak muda dengan gaya hidup mewah yang sederhana dan elegan, mencerminkan aspirasi sosial dan status.]]>

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Lagi Viral Gaya Berpakaian Ala Anak Orang 'Have', Begini Cirinya

Jagat media sosial kembali diramaikan oleh tren gaya berpakaian yang dijuluki "anak orang have". Istilah ini merujuk pada penampilan yang dibangun untuk memberi kesan mapan, tenang, dan berkecukupan, tanpa perlu memamerkan logo atau merek secara mencolok. Tren tersebut menyebar melalui unggahan di TikTok, Instagram, dan berbagai platform berbagi video, mulai dari konten panduan berpakaian hingga video yang menampilkan perbandingan gaya.

Fenomena ini bukan hal baru sepenuhnya. Sebelumnya, publik mengenal istilah "old money aesthetic" dan "quiet luxury" yang juga menekankan kesan mahal tanpa kemewahan yang berlebihan. Bedanya, label "anak orang have" lebih dekat dengan percakapan sehari-hari di Indonesia, sekaligus membawa nuansa sindiran sosial karena kata "have" dipakai untuk menggambarkan seseorang yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi lebih.

Apa yang Dimaksud Gaya "Anak Orang Have"

Dalam berbagai konten yang beredar, gaya ini digambarkan sebagai cara berpakaian yang sederhana tetapi terlihat rapi, bersih, dan terencana. Penganutnya cenderung menghindari pakaian dengan grafis besar, warna mencolok, atau potongan yang terlalu ketat. Prinsip utamanya adalah tampil wajar, seolah tidak berusaha keras untuk terlihat menarik.

Kesan tersebut dibangun melalui kombinasi beberapa hal: pilihan warna, potongan pakaian yang pas di badan, kualitas bahan, serta aksesori yang digunakan secara terbatas. Gaya ini juga lekat dengan citra aktivitas tertentu, misalnya kuliah di kampus ternama, bermain tenis, liburan ke luar negeri, atau menghadiri acara keluarga.

Ciri-Ciri yang Sering Muncul

Warna Netral dan Minim Logo

Palet warna yang dominan adalah putih, krem, abu-abu, navy, cokelat muda, dan hitam. Warna-warna tersebut dipilih karena mudah dipadupadankan dan memberi kesan tenang. Pakaian dengan logo besar atau tulisan mencolok justru dihindari karena dianggap terlalu menunjukkan merek.

Potongan Rapi dan Bahan yang Terlihat Berkualitas

Kemeja, polo shirt, kaus polos berkerah, blazer, dan celana panjang dengan potongan lurus menjadi pilihan utama. Perhatian diberikan pada detail seperti jahitan, kerah yang tidak melipat, serta bahan yang tidak mudah kusut. Kaus katun tebal, linen, dan wol ringan sering disebut sebagai bahan yang memberi kesan lebih mahal.

Alas Kaki dan Aksesori Terbatas

Sepatu yang sering dikaitkan dengan gaya ini antara lain sepatu kulit bertali, loafer, sepatu kanvas putih bersih, dan sneaker minimalis. Untuk aksesori, jam tangan sederhana, tas kulit tanpa logo besar, serta kacamata berbingkai tipis menjadi pelengkap yang lazim. Jumlah aksesori dijaga agar tidak berlebihan.

Perhatian pada Kerapian Tubuh

Selain pakaian, tren ini juga menekankan kebersihan dan kerapian diri, seperti rambut yang tertata, kuku bersih, dan pakaian yang disetrika. Sejumlah konten bahkan menyarankan perawatan kulit dasar dan penggunaan parfum dengan aroma ringan sebagai bagian dari keseluruhan penampilan.

Mengapa Cepat Viral

Kemudahan meniru menjadi salah satu penyebab utama tren ini menyebar cepat. Seseorang tidak perlu membeli pakaian mahal untuk mendekati gaya tersebut. Kaus polos, kemeja putih, dan celana berwarna netral dapat ditemukan di berbagai tingkat harga, termasuk produk lokal dan pakaian bekas layak pakai.

Selain itu, algoritma media sosial mendorong konten dengan format serupa untuk terus muncul. Video panduan berpakaian, konten "before after", hingga reaksi warganet terhadap penampilan seseorang memperoleh interaksi tinggi karena mudah dikomentari. Banyak pengguna merasa tertantang menebak latar belakang ekonomi seseorang hanya dari cara berpakaian.

Faktor lain adalah daya tarik citra kemapanan. Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, penampilan yang tenang dan terkesan mapan menjadi semacam pelarian. Gaya berpakaian kemudian dipakai sebagai cara menyampaikan pesan tentang status sosial tanpa harus mengucapkannya secara langsung.

Kritik dan Sisi Lain Tren

Meski populer, tren ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah pengamat budaya dan warganet menilai label "anak orang have" berpotensi memperkuat pembedaan kelas. Penilaian terhadap seseorang menjadi mudah direduksi hanya dari merek tas atau jenis sepatu yang dipakai, padahal latar belakang ekonomi tidak bisa disimpulkan dari penampilan semata.

Kritik lain menyoroti sisi konsumtif. Meski mengusung kesan sederhana, gaya ini tetap mendorong pembelian, mulai dari pakaian berbahan tertentu hingga produk perawatan. Tidak sedikit konten yang pada akhirnya berujung pada promosi merek atau tautan afiliasi, sehingga kesan "tampil tanpa usaha" menjadi bagian dari strategi pemasaran.

Ada pula anggapan bahwa tren semacam ini bersifat siklus. Sebelumnya muncul gaya serupa dengan nama berbeda, lalu ditinggalkan ketika tren baru datang. Yang bertahan biasanya bukan labelnya, melainkan prinsip dasarnya: pakaian yang pas, warna yang tidak berlebihan, dan kebersihan penampilan.

Bukan Sekadar soal Merek

Dalam banyak diskusi, pengguna media sosial menekankan bahwa inti gaya ini bukan pada harga barang. Pakaian sederhana yang dirawat dengan baik, disetrika rapi, dan dipadukan dengan tepat dapat memberi kesan yang tidak jauh berbeda. Sebaliknya, barang mahal yang dipakai tanpa memperhatikan potongan dan kebersihan justru kehilangan efeknya.

Karena itu, tren "anak orang have" lebih tepat dibaca sebagai pembicaraan tentang citra, kelas sosial, dan cara orang menampilkan diri di ruang digital. Ia bertahan bukan hanya karena estetikanya, tetapi juga karena menyentuh keinginan banyak orang untuk terlihat mapan, dihormati, dan diterima di lingkungan tertentu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter