Pelatih Persik Kediri, Marcos Reina, mengungkapkan bahwa pendekatan humanis yang ia terapkan kepada para pemainnya menjadi salah satu kunci di balik hasil positif yang diraih tim berjuluk Macan Putih itu di BRI Super League musim ini. Menurut Reina, membangun hubungan personal yang erat dengan setiap pemain sama pentingnya dengan menyusun strategi dan taktik di lapangan.
Reina menilai, seorang pelatih tidak cukup hanya berbicara soal formasi, pressing, atau transisi. Ia meyakini bahwa pemain yang merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan sebagai manusia utuh akan memberikan respons yang lebih baik terhadap instruksi taktik maupun terhadap tekanan kompetisi yang ketat.
Memperlakukan Pemain sebagai Manusia, Bukan Sekadar Alat Taktik
Dalam sejumlah kesempatan, Reina menegaskan bahwa dirinya berusaha mengenal para pemainnya di luar konteks pertandingan. Ia ingin mengetahui kondisi keluarga, suasana hati, serta beban yang mungkin tengah dialami setiap individu di dalam skuad. Bagi pelatih asal Spanyol itu, informasi semacam ini bukan hal sekunder, melainkan bagian dari manajemen tim yang profesional.
Pendekatan tersebut, kata Reina, membantu dirinya memahami mengapa seorang pemain tampil di bawah performa terbaiknya. Persoalan bisa saja bukan berasal dari aspek teknis, melainkan dari tekanan psikologis atau masalah pribadi. Dengan mengetahui akar persoalannya, pelatih dapat mengambil langkah yang lebih tepat, baik melalui komunikasi personal, pendekatan dengan staf, maupun penyesuaian beban latihan.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi para pemain. Kesalahan dalam pertandingan, menurut Reina, harus dilihat sebagai bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk menghukum pemain secara berlebihan. Sikap ini dinilai membuat para pemain lebih berani mengambil risiko dan tidak takut bermain lepas.
Komunikasi Dua Arah dan Rotasi yang Adil
Reina menyebut komunikasi dua arah sebagai fondasi dari pendekatan yang ia jalankan. Ia tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga membuka ruang bagi pemain untuk menyampaikan pendapat, keluhan, maupun masukan terkait persiapan tim. Dialog semacam itu, menurutnya, membuat para pemain merasa memiliki andil terhadap arah tim, bukan sekadar menjalankan perintah.
Prinsip keadilan juga menjadi perhatian Reina dalam menentukan komposisi pemain. Ia berupaya menjelaskan alasan di balik setiap keputusan, termasuk ketika seorang pemain harus dimulai dari bangku cadangan. Penjelasan yang terbuka dinilai mengurangi potensi kekecewaan yang bisa mengganggu kekompakan ruang ganti.
Menjaga Kedalaman Skuad
Dengan pendekatan tersebut, Reina berharap seluruh pemain di dalam skuad merasa memiliki peran, terlepas dari jumlah menit bermain yang mereka dapatkan. Persik Kediri membutuhkan kontribusi dari semua pemain mengingat padatnya jadwal BRI Super League musim ini, yang menuntut rotasi cermat agar kualitas performa tetap terjaga.
Pemain yang jarang tampil, lanjut Reina, tetap harus merasa dihargai karena mereka ikut menentukan kualitas latihan sehari-hari. Ia menilai atmosfer latihan yang positif akan berdampak langsung pada kualitas permainan tim saat pertandingan sesungguhnya.
Perhatian pada Pemain Muda
Reina juga menyoroti pentingnya mendampingi pemain muda yang tengah beradaptasi dengan level kompetisi tertinggi. Menurutnya, pemain muda membutuhkan kepercayaan sekaligus bimbingan, bukan hanya kritik. Kesempatan bermain yang diberikan secara terukur dinilai menjadi cara efektif untuk mempercepat proses perkembangan mereka.
Berbuah Manis di BRI Super League
Pendekatan humanis yang dijalankan Reina disebut mulai menunjukkan hasil di BRI Super League musim ini. Persik Kediri tampil dengan kekompakan yang terlihat, baik di dalam maupun di luar lapangan. Para pemain memperlihatkan kedisiplinan taktik tanpa kehilangan keberanian untuk mengekspresikan kemampuan individunya.
Reina menegaskan bahwa hasil di atas lapangan merupakan buah dari kerja kolektif seluruh elemen tim, mulai dari pemain, staf pelatih, hingga tim pendukung. Ia menolak mengaitkan capaian tim semata-mata pada satu faktor, namun ia tidak menyangkal bahwa suasana ruang ganti yang sehat berperan besar dalam menjaga konsistensi.
Meski demikian, pelatih berusia 50 tahun itu menegaskan bahwa timnya tidak boleh berpuas diri. BRI Super League musim ini masih panjang, dan tantangan yang dihadapi akan semakin berat seiring berjalannya kompetisi. Reina menilai fokus harus tetap dijaga pada setiap pertandingan tanpa memikirkan terlalu jauh ke depan.
Ia pun berharap pendekatan humanis yang ia terapkan dapat terus dipertahankan sebagai budaya kerja di Persik Kediri. Bagi Reina, keberhasilan sebuah tim tidak hanya diukur dari perolehan poin, tetapi juga dari cara para pemain tumbuh dan berkembang bersama selama satu musim penuh.
Komentar (0)