30, 2026
Nasional

Motor dan Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal Laut, Ini Alasannya!

Pengiriman kendaraan listrik melalui jalur laut menghadapi tantangan keselamatan, terutama risiko kebakaran baterai.]]>

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Motor dan Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal Laut, Ini Alasannya!

Motor dan Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal Laut, Ini Alasannya

Kendaraan listrik berbasis baterai, baik sepeda motor maupun mobil, kini menghadapi pembatasan tersendiri ketika hendak menyeberang menggunakan moda transportasi laut. Sejumlah operator kapal penyeberangan dan angkutan barang menerapkan larangan mengangkut kendaraan listrik dengan kondisi baterai tertentu. Kebijakan itu bukan tanpa dasar, melainkan berangkat dari pertimbangan keselamatan pelayaran yang menyangkut nyawa banyak orang di atas kapal.

Larangan serupa juga diberlakukan di banyak negara lain, terutama setelah meningkatnya populasi kendaraan listrik dan munculnya sejumlah insiden kebakaran baterai di ruang tertutup. Otoritas pelayaran menilai risiko kebakaran kendaraan listrik berbeda karakter dengan kebakaran kendaraan berbahan bakar minyak, sehingga memerlukan penanganan dan prosedur khusus yang tidak selalu tersedia di kapal penyeberangan konvensional.

Bahaya Kebakaran Baterai Lithium

Alasan utama larangan ini adalah risiko kebakaran baterai lithium-ion. Baterai jenis ini menyimpan energi dalam kepadatan tinggi dan mengandung bahan kimia yang reaktif. Ketika terjadi korsleting internal, kerusakan fisik, atau panas berlebih, baterai dapat mengalami apa yang disebut thermal runaway, yaitu reaksi berantai yang menghasilkan panas ekstrem dan sulit dihentikan.

Kebakaran baterai lithium tidak sama dengan kebakaran biasa. Api yang muncul dapat menyala kembali berulang kali meski sudah disemprot pemadam, bahkan setelah tampak padam. Suhu pembakaran bisa sangat tinggi, dan asap yang dihasilkan mengandung gas beracun. Di ruang tertutup seperti dek kapal atau palka, akumulasi gas ini berbahaya bagi penumpang maupun awak kapal.

Selain itu, air yang biasanya digunakan untuk memadamkan kebakaran justru dapat memperburuk kondisi baterai yang terbakar dalam sejumlah kasus. Dibutuhkan pemadam khusus, teknik pendinginan berkelanjutan, serta ruang isolasi agar kebakaran tidak menyebar ke kendaraan lain di sekitarnya.

Keterbatasan Fasilitas di Kapal

Kapal penyeberangan umumnya tidak dirancang untuk menangani kebakaran baterai skala besar. Sistem deteksi asap, pemadam otomatis, dan jalur evakuasi yang ada lebih dioptimalkan untuk kebakaran bahan bakar konvensional. Ruang dek yang sempit dan berdesakan membuat penyebaran api berpotensi sangat cepat jika satu unit kendaraan listrik terbakar.

Awak kapal juga tidak semuanya terlatih menangani kebakaran baterai lithium. Sementara itu, pertolongan dari darat atau kapal lain membutuhkan waktu, terutama ketika kapal berada di tengah laut. Kondisi inilah yang membuat operator memilih jalan paling aman, yakni menolak mengangkut kendaraan listrik, khususnya yang masih membawa baterai terpasang.

Aturan dan Praktik di Berbagai Operator

Beberapa operator kapal menerapkan larangan total, sementara sebagian lain mengizinkan dengan syarat ketat. Kendaraan listrik kadang masih boleh diangkut apabila baterainya dilepas dan dikemas sesuai standar, atau jika tingkat pengisian daya dibatasi pada persentase rendah untuk mengurangi risiko. Ada pula operator yang hanya mengizinkan kendaraan listrik dengan baterai dalam kondisi tertentu dan telah memiliki sertifikasi keselamatan.

Kebijakan ini bervariasi antarwilayah dan antarpelayaran. Perbedaan aturan sering membingungkan calon penumpang, terutama mereka yang hendak menyeberang antarpulau dengan kendaraan listrik pribadi. Karena itu, penumpang disarankan memeriksa ketentuan operator jauh sebelum keberangkatan agar tidak tertahan di pelabuhan.

Dampak bagi Pengguna Kendaraan Listrik

Larangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemilik kendaraan listrik yang tinggal di wilayah kepulauan atau sering melakukan perjalanan lintas pulau. Mobilitas mereka menjadi terbatas karena tidak semua jalur penyeberangan dapat dilalui. Alternatifnya, kendaraan harus dikirim melalui jalur khusus, menggunakan kapal barang tertentu, atau memilih moda transportasi lain.

Di sisi lain, larangan ini mendorong tumbuhnya layanan pengiriman kendaraan listrik yang lebih tertata, termasuk penyediaan kemasan baterai khusus dan prosedur bongkar muat yang lebih aman. Sejumlah pelabuhan mulai menyiapkan area terpisah untuk kendaraan listrik agar risiko dapat dikendalikan.

Dorongan Inovasi Keselamatan

Pembatasan ini pada akhirnya menjadi pemicu bagi industri untuk berbenah. Produsen baterai dituntut meningkatkan standar keselamatan, sementara operator kapal didorong menyediakan fasilitas pemadam khusus dan pelatihan awak. Regulator diharapkan menyusun pedoman yang jelas dan seragam agar aturan tidak tumpang tindih antarpihak.

Bagi masyarakat, memahami alasan di balik larangan ini penting agar tidak semata melihatnya sebagai hambatan. Kebijakan tersebut berorientasi pada keselamatan bersama di atas kapal, mengingat risiko kebakaran baterai yang sulit diprediksi dan ditangani. Dengan standar keselamatan yang memadai, kendaraan listrik tetap dapat diangkut melalui laut tanpa mengorbankan keamanan penumpang dan awak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter