30, 2026
Nasional

Muncul Fenomena Cari Kerja Susah, Tapi Pengusaha Sulit Cari Karyawan

Wakil Ketua Apindo DKI, Nurjaman, mengungkap Meski banyak pencari kerja, perusahaan kesulitan menemukan kandidat yang sesuai. Ada apa?]]>

Kevin Handayani
Kevin Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Muncul Fenomena Cari Kerja Susah, Tapi Pengusaha Sulit Cari Karyawan

Fenomena ketenagakerjaan di Indonesia saat ini menunjukkan paradoks yang kian tajam: angka pencari kerja yang menganggur tetap tinggi, namun dunia usaha mengeluh kesulitan mendapatkan karyawan yang sesuai kebutuhan. Kondisi ini bukan sekadar anomali musiman, melainkan persoalan struktural yang melibatkan mismatch keterampilan, ekspektasi generasi muda, hingga pergeseran lanskap industri pasca pandemi.

Dua Sisi Masalah yang Saling Berhadapan

Data ketenagakerjaan nasional mencatat jutaan orang masih berstatus pengangguran terbuka. Angka itu belum termasuk mereka yang bekerja di bawah jam normal atau setengah menganggur. Di sisi lain, berbagai asosiasi pengusaha melaporkan posisi lowongan yang tidak terisi dalam waktu lama, terutama di sektor manufaktur, konstruksi, perhotelan, dan layanan teknis. Sejumlah perusahaan bahkan mengaku mengurangi target produksi karena kekurangan tenaga kerja terampil.

Kalangan pengusaha menyebut persoalan utama bukan jumlah pelamar yang sedikit, melainkan kualitas dan kesesuaian kompetensi. Banyak lamaran masuk, tetapi kandidat dinilai belum memiliki keterampilan dasar yang dibutuhkan, mulai dari kemampuan teknis, disiplin kerja, hingga kecakapan komunikasi. Di sisi lain, para pencari kerja mengeluhkan persyaratan yang dianggap tidak realistis, seperti pengalaman minimal dua hingga tiga tahun untuk posisi entry level, upah yang dinilai tidak sepadan, serta proses rekrutmen yang berbelit.

Mismatch Keterampilan dan Dunia Pendidikan

Akar persoalan ini banyak dikaitkan dengan ketidakselarasan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri. Kurikulum di sekolah menengah kejuruan dan perguruan tinggi sering dinilai lambat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Lulusan menguasai teori, tetapi minim pengalaman praktik. Sementara itu, dunia usaha menuntut kesiapan kerja sejak hari pertama.

Program magang, sertifikasi kompetensi, dan pendidikan vokasi sebenarnya sudah lama digalakkan. Namun skalanya belum menjangkau seluruh wilayah dan belum terhubung erat dengan kebutuhan spesifik perusahaan. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dan apa yang diminta di lantai produksi maupun meja kantor.

Sejumlah pengamat menilai persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah kuota pelatihan. Diperlukan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan untuk memetakan kebutuhan keterampilan secara berkala. Tanpa itu, mismatch akan terus berulang dari tahun ke tahun.

Ekspektasi Generasi Muda dan Pilihan Kerja

Faktor lain yang tidak bisa diabaikan adalah pergeseran preferensi kerja generasi muda. Banyak pencari kerja usia produktif kini lebih memilih fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan jalur karier di sektor digital atau ekonomi gig. Pekerjaan di sektor manufaktur, pertanian, atau jasa tertentu yang menuntut kehadiran fisik dan jam kerja tetap menjadi kurang diminati.

Fenomena ini diperkuat oleh pertumbuhan platform digital yang menawarkan penghasilan cepat, meski tanpa jaminan sosial yang memadai. Sebagian kaum muda memilih menjadi pengemudi ojek daring, penjual online, atau pekerja lepas dibandingkan terikat sebagai karyawan tetap dengan upah yang dinilai pas-pasan.

Pengusaha menilai pilihan tersebut sah-sah saja, tetapi menciptakan tantangan baru dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja tetap. Beberapa perusahaan mulai menyesuaikan diri dengan menawarkan jadwal lebih fleksibel, tunjangan tambahan, dan jalur pengembangan karier yang jelas. Namun, tidak semua sektor mampu melakukan penyesuaian serupa karena keterbatasan margin usaha.

Upah, Produktivitas, dan Daya Tarik Sektor

Persoalan upah menjadi titik gesek yang sensitif. Pekerja menginginkan penghasilan layak yang sebanding dengan biaya hidup, terutama di kota-kota besar. Pengusaha berdalih kenaikan upah harus diikuti peningkatan produktivitas dan daya saing agar usaha tetap bertahan. Di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan impor, sejumlah industri mengaku sulit menaikkan upah secara signifikan.

Karena itu, banyak lowongan yang ditawarkan justru berada di rentang gaji bawah. Pekerja dengan keterampilan terbatas enggan mengambil posisi tersebut, sementara perusahaan tidak mampu membayar lebih tinggi. Lingkaran ini membuat lowongan terus kosong meski pengangguran tetap ada.

Implikasi bagi Pertumbuhan Ekonomi

Jika dibiarkan, ketidakseimbangan pasar kerja ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi. Sektor-sektor padat karya yang kekurangan tenaga kerja bisa kehilangan momentum ekspansi. Di sisi lain, pengangguran yang berkepanjangan menggerus daya beli masyarakat dan memperlebar ketimpangan.

Pemerintah perlu memperkuat sistem informasi pasar kerja yang transparan, memperluas pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta mendorong perusahaan memberikan insentif bagi pekerja terampil. Reformasi pendidikan vokasi juga harus berjalan beriringan dengan penguatan jaminan sosial bagi pekerja di sektor informal dan ekonomi gig.

Pada akhirnya, fenomena susah cari kerja namun pengusaha sulit cari karyawan adalah cermin dari pasar kerja yang belum efisien. Menyelesaikannya membutuhkan pendekatan menyeluruh, bukan sekadar kebijakan tambal sulam. Tanpa langkah terpadu, paradoks ini akan terus menjadi penghambat bagi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kevin Handayani

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter