09, 2026
Nasional

Ojek Online Perempuan Cerita Sulitnya Kejar Rp 100 Ribu Sehari

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ojek Online Perempuan Cerita Sulitnya Kejar Rp 100 Ribu Sehari

Di tengah persaingan sengat industri ojek online, para pengemudi perempuan menghadapi tantangan unik yang seringkali lebih berat dibandingkan rekan sejawatnya yang laki-laki. Kisah mereka tentang upaya keras mencapai pendapatan Rp 100 ribu per hari menyoroti kenyataan keras di balik layar aplikasi transportasi yang seringkali dipromosikan sebagai solusi fleksibel bagi pencari kerja.

Fitri (32), seorang pengemudi ojek online di Jakarta, mengaku butuh minimal 12 jam aktif di jalan untuk bisa mencapai target pendapatan tersebut. "Sulit sekali, apalagi kalau hujan atau macet. Kadang-kadang sampai lelah tapi harus tetap berjalan karena kalau berhenti, pendapatan hari itu pasti tidak tercapai," ujarnya seraya menunjukkan aplikasi yang menampilkan total pemesanan sebesar Rp 85 ribu setelah delapan jam kerja.

Tantangan Khusus Pengemudi Perempuan

Berbeda dengan pengemudi laki-laki, pengemudi perempuan seringkali menghadapi tantangan tambatan terkait keselamatan dan perlindungan. "Takut kalau penumpang berbuat tidak pantas, atau malam hari jadi khawatir kalau diminta antar ke tempat sepi. Akhirnya banyak penawaran yang saya tolak demi keselamatan," jelas Siti (28), pengemudi yang sudah tiga tahun bergabung di platform ojek online.

Menurut survei internal yang dilakukan oleh komunitas pengemudi perempuan, sekitar 70% responden mengaku pernah mengalami pelecehan verbal atau non-verbal dari penumpang. Situasi ini seringkali membuat mereka harus mengorbankan jam kerma potensial demi menjaga rasa aman.

Struktur Tarif yang Tidak Menguntungkan

Struktur tarif yang cenderung tidak menguntungkan menjadi beban tersendiri bagi para pengemudi. Dengan adanya berbagai macam promo dan diskon yang ditawarkan platform, pendapatan per perjalanan seringkali menurun drastis.

"Kalau tidak ada promo, mungkin bisa lebih mudah mencapai target. Tapi saat ini hampir setiap hari ada diskon 50% atau buy one get one. Padahal biaya bensin dan maintenance tetap sama," keluh Budi (40), meskipun bukan perempuan, namun sering berdiskusi dengan rekan-rekan pengemudi perempuan.

Data dari Asosiasi Pengemudi Online Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata pengemudi perempuan hanya menerima 60-70% dari total tarif yang dibayarkan penumpang setelah dipotong biaya platform dan biaya lainnya. Angka ini lebih rendah dibandingkan pengemudi laki-laki yang rata-rata menerima 75-80%.

Dampak Pandemi dan Kebutuhan Ekonomi

Pandemi COVID-19 sebenarnya sempat memberikan peluang bagi pengemudi perempuan yang kehilangan pekerjaan di sektor informal. Namun, seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi, persaingan kembali meningkat tajam.

"Awal pandemi masih lumayan banyak pemesanan karena orang takut naik transportasi umum. Tapi sekarang sudah normal lagi, bahkan lebih banyak pengemudi baru. Kadang satu jam hanya dapat dua atau tiga order," tutur Rina (35), mantuk karyawan SPBU yang beralih profesi menjadi pengemudi ojek online sejak pandemi.

Kebutuhan ekonomi mendorong banyak pengemudi perempuan untuk terus berjuwa meskipun pendapatan tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan. "Anak sekolah, tagihan listrik dan air, itu semua harus terpenuhi. Jadi meskipun susah, tetap harus maju," kata Rina dengan suara getir.

Harapan Perubahan

Para pengemudi perempuan berharap adanya perubahan dari pihak platform dalam memberikan perlindungan dan keadilan. "Mungkin bisa ada sistem prioritas bagi pengemudi perempuan, terutama saat malam hari. Atau minimal tarif yang lebih adil karena kita juga menghadapi risiko lebih tinggi," harap Fitri.

Beberapa pengemudi juga mengusulkan adanya program pelatihan khusus dan dukungan psikologis untuk mengatapi stres yang seringkali dialami. "Terkadang stresnya tidak cuma dari pendapatan, tapi juga dari perlakuan penumpang atau tekanan dari target yang harus dicapai setiap hari," tambah Siti.

Dengan semakin banyaknya pengemudi masuk ke pasar, tantangan untuk mencapai pendapatan Rp 100 ribu per hari kian berat. Bagi para pengemudi perempuan, perjuangan ini bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga tentang menjalani profesinya dengan aman dan terhormat di tengah berbagai tantangan yang ada.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter