16, 2026
Teknologi

Pemprov Sumsel Uji Coba 1,5 Ton Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap Karhutla

Pemerintah Sumsel uji coba teknologi dry ice untuk atasi kabut asap akibat karhutla. 1,5 ton karbon dioksida padat disiapkan untuk penebaran di Palembang.]]>

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pemprov Sumsel Uji Coba 1,5 Ton Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap Karhutla

Pemprov Sumsel Uji Coba 1,5 Ton Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap Karhutla

Provinsi Sumatera Selatan menggelu uji coba penggunaan 1,5 ton es kering (dry ice) untuk menangani kabut asap akibat karhutla. Uji coba ini dilaksanakan di sekitar area persawahan di Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (22/7). Upaya ini merupakan bagian dari inovasi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dalam mengatasi masalah kabut asap yang sering terjadi di musim kemarau.

Tinjauan Lapangan dan Proses Uji Coba

Tim teknis dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumsel, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Musi melakukan peninjauan lapangan sebelum pelaksanaan uji coba. Lokasi dipilih di area persawahan yang sering terdampak kabut asak akibat kebakaran lahan dan hutan (karhutla).

Kepala DLH Sumsel, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa dry ice akan dijatuhkan dari ketinggian menggunakan drone khusus. "Kita menggunakan drone yang mampu membawa beban hingga 20 kg dry ice per kali terbang. Drone akan menjatuhkan dry ice pada area yang terdampak kabut asap," ujarnya.

Dry ice yang digunakan berupa padatan karbon dioksida dengan suhu -78,5°C. Saat dijatuhkan, dry ice akan menguap dan menghasilkan uap dingin yang berharap dapat menurunkan suhu udara serta membasmi partikel-partikel asap yang mengambang.

Teknologi dan Metode Pelaksanaan

Untuk mendukung uji coba ini, Pemprov Sumsel bekerja sama dengan pihak swasta yang menyediakan teknologi drone dan persediaan dry ice. "Kita mendapatkan dukungan dari perusahaan teknologi yang berbasis di Palembang. Mereka menyediakan 10 unit drone yang siap digunakan untuk keperluan uji coba ini," jelas Yani.

Dalam pelaksanaannya, drone akan terbang pada ketinggian sekitar 50-100 meter di atas permukaan tanah. Dry ice akan dijatuhkan secara merata pada area seluas 5 hektare yang menjadi titik fokus uji coba. "Kita akan mengamati perubahan kondisi udara sebelum, selama, dan setelah proses penjatuh dry ice," tambahnya.

Tim juga akan memantau parameter kualitas udara seperti Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kelembaban udara, dan suhu. Data ini akan menjadi acuan untuk menilai efektivitas penggunaan dry ice sebagai solusi pengendali kabut asap.

Tanggapan dan Tantangan

Kepala BPBD Sumsel, Budi Santoso, menyatakan bahwa uji coba ini merupakan langkah nyata Pemprov Sumsel dalam mengatasi masalah kabut asap. "Kami berharap dengan teknologi ini, kita dapat mengurangi dampak negatif kabut asap terhadap kesehatan masyarakat," ujarnya.

Ia mengakui bahwa tantangan dalam implementasi teknologi ini adalah biaya produksi dry ice serta pengoperasian drone. "Pertimbangan ekonomis menjadi faktor krusial. Jika terbukti efektif, kita akan mengkalkulasi biaya untuk skala yang lebih besar," jelasnya.

Sementara itu, beberapa warga yang tinggal di sekitar area uji coba menunjukkan antusiasme. "Kami harap cara ini benar-benar bisa membantu mengurangi kabut asap yang sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya," kata Ahmad, seorang petani setempat.

Rencana Implementasi dan Kolaborasi

Jika uji coba ini terbukti efektif, Pemprov Sumsel berencana melakukan kolaborasi dengan pemerintah provinsi di Sumatera lainnya yang sering mengalami masalah serupa. "Kami akan membagikan hasil penelitian ini kepada rekan-rekan di provinsi lain seperti Jambi, Riau, dan Bengkulu," jelas Gubernur Sumsel, Herman Deru.

Pemerintah pusat juga akan dimintai dukungan untuk menskalakan program ini. "Kami akan menyiapkan laporan lengkap dan menyerahkannya ke pemerintah pusat agar program ini dapat dikembangkan lebih jauh," tambah Gubernur.

Untuk mendukung program jangka panjang, Pemprov Sumsel juga akan mengintensifkan program penanaman pohon dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mencegah karhutla. "Solusi teknis ini hanya bagian dari upaya komprehensif. Yang terpenting adalah mencegah terjadinya karhutla sejak awal," pungkas Gubernur.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter