30, 2026
Nasional

Penampakan Hiu Paus Panjang 9 Meter Mati Terdampar di Wakatobi

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Hiu Pauz Panjang 9 Meter Ditemukan Terdampar di Pantai Wakatobi

Wakatobi, Sulawesi Tenggara - Jajaran Balai Konservasi Sumber Daya Pesisir dan Lautan (BKSDA) Sulawesi Tenggara menemukan bangkai hiu paus (Rhincodon typus) dengan panjang mencapai 9 meter terdampar di Pantai Hoga, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Rabu (15/3) pagi. Penemuan ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang karena hiu paus merupakan spesies yang dilindungi secara internasional.

Kepala BKSDA Sulawesi Tenggara, Andi Muhammad, mengatakan bahwa bangkai hiu paus ditemukan oleh warga setempat saat melakukan kegiatan di pantai. "Warga melihat ada bangkai hewan laut yang sangat besar terdampar. Setelah diperiksa, ternyata adalah hiu paus. Kami langsung turun ke lokasi untuk mengecek dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak," jelas Andi.

Kondisi Bangkai dan Upaya Penanganan

Berdasarkan pengamatan tim BKSDA, bangkai hiu paus tersebut dalam kondisi membusuk dan sudah mengalami pembengkakan akibat proses pembusukan. Hewan laut raksasa ini diperkirakan sudah mati sekitar dua hingga tiga hari sebelum terdampar. Tim BKSDA segera melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, Balai Taman Nasional Wakatobi, serta para ahli untuk menentukan langkah selanjutnya.

"Kondisi bangkai sudah sangat membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap. Kami akan melakukan otopsi forensik untuk mengetahui penyebab kematian hiu paus ini. Setelah itu, kita akan memutuskan apakah akan dibawa ke tempat pemakaman hewan atau diolah menjadi pupuk laut," ujar Andi.

Hiu paus yang ditemukan memiliki panjang sekitar 9 meter dengan lebar tubuh mencapai 1,5 meter. Beratnya diperkirakan mencapai beberapa ton. Spesies ini merupakan ikan terbesar di dunia dan hanya menyantarnya dengan plankton dan organisme kecil lainnya.

Penyebab Kematian Masih Diselidiki

Saat ini, tim BKSDA sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian hiu paus tersebut. Beberapa kemungkinan penyebab yang sedang dipertimbangkan antara lain terdampar karena kondisi kesehatan yang buruk, terjebab jaringan pemancingan ilegal, atau terkena polusi laut.

Dr. Siti Aminah, sepakatologi dari Universitas Halu Oleo, mengatakan bahwa hiu paus umumnya tidak terdampar ke pantai kecuali jika ada kondisi khusus yang memaksanya. "Hiu paus adalah hewan pelagis yang biasanya berenang di perairan dalam. Jika mereka terdampar, biasanya ada indikasi bahwa mereka sedang tidak sehat atau terkena sesuatu yang mengganggu sistem navigasinya," jelas Dr. Siti.

Pemerintah Daerah Wakatobi bersama BKSDA juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging hiu paus yang ditemukan. Daging hiu paus yang sudah busuk dan membusuk dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi.

Upaya Konservasi Hiu Paus di Wakatobi

Penemuan hiu paus mati di Wakatobi menjadi pengingat penting bagi pentingnya konservasi spesies langka ini. Wakatobi, yang dikenal sebagai kawasan konservasi laut terpadu, menjadi habitat bagi berbagai spesies hiu termasuk hiu paus. Namun, populasi hiu paus di dunia terus mengalami penurunan akibat perburuan ilegal, tangkapan sampingan, dan degradasi habitat.

"Kita perlu meningkatkan upaya konservasi hiu paus dan berbagai spesies laut lainnya. Wakatobi sebagai taman nasional dan cagar biosfer memiliki peran penting dalam pelestarian spesies langka ini. Penemuan ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih menjaga kelestarian laut," ujar Bupati Wakatobi, Husein Amran.

Hiu paus (Rhincodon typus) terdaftar dalam CITES Appendix I dan IUCN Red List sebagai spesies terancam (Vulnerable). Spesies ini dilindungi secara internasional dan dilarang untuk diburu atau ditangkap. Indonesia sendiri telah menetapkan hiu paus sebagai spesies yang dilindungi melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/KEP/MENTAN/II/2015.

Penemuan hiu paus di Wakatobi ini akan menjadi studi kasus penting bagi para ahli dan pihak berwenang dalam memahami penyebab kematian spesies ini serta merumuskan strategi konservasi yang lebih efektif. Tim investigasi akan terus bekerja untuk mengungkap misteri di balik kematian hiu paus raksasa tersebut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter