30, 2026
Nasional

Peneliti Bor Lokasi Diduga Bahtera Nabi Nuh, Mata Bor Mendadak Pecah

Peneliti mengebor formasi yang diduga lokasi Bahtera Nabi Nuh hingga 18 meter. Mata bor pecah setelah menghantam lapisan misterius di bawah tanah.]]>

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Peneliti Bor Lokasi Diduga Bahtera Nabi Nuh, Mata Bor Mendadak Pecah

Mata Bor Pecah Saat Peneliti Mengebor Lokasi yang Diduga Bahtera Nabi Nuh

Tim peneliti yang melakukan ekskavasi di formasi geologi berbentuk lonjong di kawasan Durupinar, Distrik Dogubayazit, Provinsi Agri, Turki timur, melaporkan insiden kerusakan alat bor pada Selasa, 1 April 2025. Mata bor yang digunakan untuk menembus lapisan tanah di lokasi yang selama puluhan tahun dikaitkan dengan keberadaan Bahtera Nabi Nuh itu pecah di tengah proses pengeboran. Peristiwa tersebut dilaporkan pertama kali oleh penyiar berita Turki, Turkiye Today.

Menurut keterangan yang dihimpun, insiden terjadi sekitar pukul 13.40 waktu setempat, saat tim pengeboran berada pada kedalaman 18 meter dari permukaan tanah. Operator bor dilaporkan merasakan getaran tidak biasa sebelum bagian ujung mata bor, yang terbuat dari paduan tungsten karbida, patah menjadi beberapa bagian. Proses pengeboran pun dihentikan sementara untuk mengevakuasi serpihan logam dan memastikan keselamatan seluruh personel di lokasi.

Koordinator lapangan ekskavasi, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa kejadian tersebut diduga dipicu oleh lapisan batuan keras yang tidak terdeteksi pada pemindaian awal. "Kami menemukan struktur petrologi yang jauh lebih padat dari perkiraan. Ini memerlukan metode pengeboran yang berbeda," ujarnya kepada media setempat. Ia menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa itu.

Kontroversi Sejak 1959

Formasi Durupinar pertama kali menarik perhatian publik pada 1959, ketika seorang kapten angkatan darat Turki, Ilhan Durupinar, mengamati bentuk menyerupai kapal raksasa melalui foto udara yang diambil untuk keperluan pemetaan. Sejak saat itu, lokasi tersebut menjadi tujuan penelitian berbagai tim internasional yang berupaya membuktikan atau menyanggah kaitannya dengan narasi Banjir Besar dalam kitab suci.

Struktur berbentuk persegi panjang itu memiliki panjang sekitar 150 meter dan lebar 45 meter, dengan tinggi dinding yang bervariasi antara 4 hingga 6 meter. Bentuknya menyerupai lambung kapal besar yang membeku dalam batuan, sehingga memicu spekulasi bahwa objek tersebut merupakan fosil sisa-sisa bahtera kayu yang membatu setelah ribuan tahun terkubur.

Sejumlah peneliti independen, termasuk kelompok yang menamakan diri Noah's Ark Scans, melakukan pemindaian radar penembus tanah pada 2022 dan mengklaim menemukan pola ruang serta lorong di bawah permukaan. Hasil pemindaian itu dipublikasikan dalam konferensi ilmiah di Turki pada Oktober 2023. Namun, klaim tersebut belum melewati proses penelaahan sejawat dan banyak ditolak oleh komunitas geologi internasional.

Pandangan Geologi Arus Utama

Para ahli geologi dari berbagai universitas menegaskan bahwa formasi Durupinar adalah struktur alamiah yang terbentuk dari proses sedimentasi dan pelapukan batuan. Menurut mereka, lapisan di lokasi itu terdiri atas batuan sedimen laut, batu pasir, dan mineral besi oksida yang mengeras selama ribuan tahun. Proses pelipatan tektonik serta erosi kemudian membentuk kontur yang menyerupai kapal.

Institut Penelitian Geologi Turki (MTA) dalam laporan resminya menyebut struktur tersebut sebagai hasil inkonformitas geologi, bukan artefak buatan manusia. Temuan fosil moluska laut di sekitar lokasi turut memperkuat kesimpulan bahwa kawasan itu pernah menjadi dasar laut purba, bukan area persinggahan sebuah kapal raksasa.

Kendati demikian, minat terhadap lokasi ini tidak pernah surut. Pemerintah daerah Dogubayazit menjadikannya sebagai situs wisata dengan membangun dek pandang serta pusat informasi bagi pengunjung. Sejumlah organisasi keagamaan juga secara rutin menggelar ziarah ke tempat tersebut.

Keberlanjutan Ekskavasi

Meski menghadapi kendala teknis, tim peneliti menyatakan akan melanjutkan pekerjaan setelah mengganti peralatan yang rusak. Rencananya, metode pengeboran inti dengan tekanan rendah akan diterapkan untuk menembus lapisan keras tanpa merusak struktur material di sekitar sampel. Waktu kerusakan alat diperkirakan menunda proses ekskavasi antara satu hingga dua pekan.

Sejumlah pihak mendesak agar tim melakukan pengujian laboratorium menyeluruh atas sampel yang telah dikumpulkan, termasuk analisis karbon-14 dan petrografi, sebelum menarik kesimpulan lebih jauh. Pemerintah setempat memastikan proses penelitian tetap berjalan sesuai prosedur serta tidak mengganggu aktivitas warga sekitar maupun kawasan wisata.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari lembaga arkeologi nasional Turki terkait temuan maupun insiden tersebut. Mata bor yang pecah telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa penyebab kegagalannya, sementara tim peneliti menyiapkan strategi baru demi melanjutkan pengeboran di lokasi yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan besar bagi kalangan ilmuwan maupun umat beragama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter