14, 2026
Teknologi

Peraih Nobel Ini Penasaran: Kenapa Nasib RI Beda dari Negara Afrika?

Peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, menilai Indonesia lebih beruntung dari Nigeria dan Kongo berkat filosofi Pancasila yang kuat pascakolonial.]]>

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Peraih Nobel Ini Penasaran: Kenapa Nasib RI Beda dari Negara Afrika?

Peraih Nobel Ini Penyidik Nasib Indonesia yang Berbeda dari Afrika

Seorang peraih Hadiah Nobel perdana dari Afrika Selatan yang juga aktivis anti-apartheid, Profesor Wole Soyinka, mengecam kondisi Indonesia saat ini. Dalam berbagai kesempatan, ia menyatakan kekagumannya terhadap kemajuan Indonesia dibandingkan sejumlah negara di Afrika. Namun, ia juga menunjukkan rasa penasaran mengapa nasib Indonesia justru berbeda dengan negara-negara di benua hitam meskipun memiliki sejarah yang tak jauh berbeda.

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Profesor Soyinka mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi salah satu negara terdepan di dunia. Ia menyoroti sejarah panjang perjuangan kemerdekaan yang sama-sama dilalui oleh Indonesia dan beberapa negara di Afrika. "Kita sama-sama perjuang melawan penjajah, sama-sama memiliki cita-cita untuk membentuk negara yang merdeka dan sejahtera. Namun, mengapa jalannya berbeda?" tanyanya.

Konteks Historis dan Perbandingan

Indonesia dan negara-negara di Afrika memang memiliki banyak kesamaan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945, sementara banyak negara di Afrika baru merdeka pada tahun 1960-an setelah era dekolonisasi. Kedua belah pihak menghadapi tantangan yang serius dalam membangun negara pasca-kolonial, termasuk pembentukan identitas nasional, penyatuan suku dan etnis yang beragam, serta pembangunan ekonomi dari kondisi yang hampir nol.

Profesor Soyinka mengakui bahwa Indonesia telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam mengelola keragaman budaya dan etnis. Dengan lebih dari 1.300 suku dan 700 bahasa daerah, Indonesia berhasil mempertahankan persatuan dalam keberagaman. "Ini adalah prestasi yang tak bisa diremehkan. Banyak negara di Afrika pecah karena konflik etnis, sementara Indonesia tetap utuh," ujarnya.

Isu Demokrasi dan Pemerintahan

Salah satu topik yang menjadi perhatian Profesor Soyinka adalah perkembangan demokrasi di Indonesia. Ia mengagumi transisi Indonesia dari rezim otoriter ke demokrasi yang berjalan relatif damai pada tahun 1998. "Transisi demokrasi di Indonesia memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara di Afrika yang masih berjuang untuk meninggalkan rezim otoriter," kata pria yang pernah dipenjarakan karena kritiknya terhadap pemerintahan Nigeria ini.

Namun, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia dalam membangun demokrasi yang matang. Korupsi, ketimpangan ekonomi, dan masalah HAM masih menjadi isu serius. "Demokrasi bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berlanjut. Indonesia perlu terus berjuang untuk memperkuat institusi demokrasinya," tambahnya.

Potensi dan Tantangan Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, Profesor Soyinka melihat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Dengan sumber daya alam yang melimpah, populasi muda, dan posisi strategis di kawasan Asia Pasifik, Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia. Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten sebelum pandemi COVID-19 sebagai bukti potensi tersebut.

"Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum merata. Ada kesenjangan yang signifikan antara pulau Jawa dengan daerah lain, antara kota dengan desa. Ini adalah tantangan yang harus diatasi agar Indonesia benar-benar merdeka secara ekonomi," ujarnya.

Harapan untuk Masa Depan

Profesor Soyinka mengekspresikan harapannya bahwa Indonesia dapat terus mengembarkan cita-cita para pendiri bangsa. Ia berpendapat bahwa Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi negara maju yang menjadi panutan bagi negara lain, termasuk di Afrika. "Kalian memiliki sejarah perjuangan yang membanggakan, sumber daya yang melimpah, dan rakyat yang kreatif. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen untuk melanjutkan perjuangan dengan integritas dan keadilan," pungkasnya.

Komentar dari peraih Nobel ini tentunya memberikan pandangan baru tentang posisi Indonesia di mata internasional. Meskipun masih banyak tantangan, potensi Indonesia untuk mencapai kemajuan yang signifikan memang tidak dapat diremehkan. Harapannya, komentar ini dapat menjadi cermin bagi bangsa Indonesia untuk terus berbenah dan membangun masa depan yang lebih baik.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter