Peternak Telur Merugi, Titiek Soeharot Minta Pemerintah Serap Produksi
Harga telur ayam ras di tingkat peternak terus merosot dalam beberapa pekan terakhir, sementara biaya produksi tidak mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat sejumlah peternak di berbagai daerah mengalami kerugian dan menuntut intervensi pemerintah. Anggota Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharot, meminta pemerintah mengambil langkah konkret dengan menyerap produksi telur agar harga di tingkat peternak kembali stabil.
Menurut Titiek, anjloknya harga telur di tingkat peternak tidak hanya berdampak pada pendapatan harian peternak skala kecil, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Ia menilai pemerintah perlu hadir melalui mekanisme penyerapan produksi, baik oleh badan usaha milik negara maupun melalui kerja sama dengan industri pengolahan pangan. Langkah tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar mengimbau pelaku pasar menaikkan harga beli.
Biaya Produksi Naik, Harga Jual Justru Turun
Sejumlah peternak mengeluhkan bahwa harga pakan, tenaga kerja, dan kebutuhan operasional lain tetap tinggi, bahkan cenderung naik. Di sisi lain, harga jual telur di tingkat kandang mengalami penurunan yang cukup tajam. Akibatnya, margin keuntungan yang seharusnya diperoleh dari penjualan harian tidak lagi menutup biaya produksi.
Peternak skala kecil paling merasakan dampak langsung dari kondisi ini. Mereka umumnya tidak memiliki kemampuan menahan stok dalam waktu lama karena telur merupakan produk yang cepat rusak. Tanpa penyerapan dari pemerintah atau pembeli besar, peternak terpaksa menjual telur dengan harga rendah agar tidak menanggung kerugian lebih besar.
Situasi ini juga diperburuk oleh lemahnya posisi tawar peternak dalam rantai pasok. Harga di tingkat peternak ditentukan oleh permintaan pasar yang bersifat fluktuatif, sementara biaya produksi berjalan terus setiap hari. Ketika permintaan melemah, harga di tingkat kandang turun lebih cepat dibandingkan harga di tingkat konsumen.
Permintaan Penyerapan Produksi
Titiek Soeharot menegaskan bahwa penyerapan produksi harus dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Ia mendorong pemerintah untuk memetakan wilayah-wilayah yang mengalami kelebihan pasokan, kemudian menyalurkan hasil penyerapan ke program bantuan pangan, kebutuhan institusi seperti rumah sakit dan sekolah, serta industri pengolahan yang membutuhkan telur sebagai bahan baku.
Menurutnya, penyerapan produksi tidak boleh bersifat sementara tanpa perencanaan. Pemerintah perlu menyiapkan anggaran, mekanisme distribusi, dan kerja sama antarlembaga agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan masalah baru, seperti penumpukan stok atau disparitas harga antarwilayah.
Ia juga menyoroti pentingnya data yang akurat mengenai produksi, konsumsi, dan distribusi telur nasional. Tanpa data yang mutakhir, kebijakan intervensi berpotensi tidak tepat sasaran dan hanya menguntungkan sebagian pelaku usaha besar.
Peran Bulog dan Badan Pangan
Dalam beberapa kesempatan, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional dan Perum Bulog disebut memiliki peran dalam menjaga stabilitas pasokan pangan strategis. Namun, untuk komoditas telur, mekanisme penyerapan belum berjalan sekuat pada komoditas beras atau jagung. Titiek meminta agar pemerintah memperluas cakupan intervensi pasar, termasuk untuk telur ayam ras yang menjadi sumber protein terjangkau bagi masyarakat.
Penyerapan oleh Bulog atau lembaga lain dinilai dapat menahan laju penurunan harga di tingkat peternak. Telur yang diserap dapat disalurkan melalui operasi pasar, bantuan sosial, atau program pemenuhan gizi di daerah dengan angka stunting tinggi. Skema tersebut dinilai memberikan manfaat ganda, yaitu menjaga pendapatan peternak sekaligus meningkatkan akses pangan bergizi bagi masyarakat.
Dampak bagi Konsumen dan Inflasi
Di sisi lain, harga telur yang rendah di tingkat peternak sebenarnya dapat menjadi kabar baik bagi konsumen karena harga eceran ikut melandai. Namun, jika kondisi ini berlangsung lama, peternak akan mengurangi populasi ayam atau bahkan berhenti beternak. Dalam jangka menengah, penurunan produksi berpotensi memicu lonjakan harga dan kembali menekan inflasi pangan.
Oleh karena itu, kestabilan harga telur perlu dijaga pada tingkat yang menguntungkan peternak sekaligus terjangkau bagi konsumen. Pemerintah dituntut menyeimbangkan kepentingan kedua pihak melalui kebijakan yang transparan dan berbasis data.
Harapan Peternak
Peternak berharap pemerintah segera merealisasikan penyerapan produksi, bukan hanya menyampaikan pernyataan di ruang rapat. Mereka membutuhkan kepastian harga pembelian, jadwal penyerapan, dan kejelasan pembayaran agar dapat merencanakan usaha harian.
Titiek menegaskan bahwa keberpihakan kepada peternak rakyat merupakan bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, negara harus hadir ketika pasar tidak mampu memberikan harga yang adil bagi produsen kecil, terutama pada komoditas yang menjadi sumber protein utama masyarakat.
Jika tidak ada intervensi, kerugian peternak diperkirakan akan terus berlanjut dan berdampak pada pasokan telur nasional dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah pun dituntut bergerak cepat agar sektor peternakan rakyat tidak semakin terpuruk.
Komentar (0)